Tantowi Yahya ‘Jualan’ Indonesia via Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia

0

INVENTIF – Jika biasanya diplomasi lewat meja perundingan, musisi Tantowi Yahya memilih jalur lain yakni panggung konser.

Musisi yang juga mantan Duta Besar Indonesia buat Selandia Baru ini balik lagi ke Eropa bareng Thomshell Band lewat misi ‘Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia’. Tapi ini bukan sekadar manggung. Ini rangkaian misi diplomasi budaya dan pariwisata.

Mulai 24 Agustus sampai 7 September 2026, mereka akan keliling tiga negara yakni Norwegia, Spanyol, dan Belanda guna membawakan lagu-lagu Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ditambah narasi budaya yang dibungkus apik agar audiens Eropa semakin tahu jika Indonesia punya potensi besar.

Jadwal ‘Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia’ ini sendiri dimulai dari 24 Agustus 2026 di Victoria National Jazz Scene, Oslo, Norwegia.

Lalu 28, 31 Agustus dan 1 September 2026 di Hotel Indalo Park, Santa Susanna, Barcelona, Spanyol. Dan terakhir pada 4 September 2026 di acara Resepsi Diplomatik KBRI Den Haag di Wisma Duta RI di Den Haag, Belanda.

Bedanya sama konser lain? Di sini musik ketemu politik, pariwisata, dan investasi. Satu panggung, tiga misi.

“Musik adalah jembatan paling universal antarbangsa. Melalui ‘Strings of Equator’, kami ingin menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi juga mitra strategis yang siap berdialog dengan dunia, baik dalam ranah pariwisata maupun investasi,” kata Tantowi Yahya selaku Ketua Delegasi.

Santa Susanna, Spanyol, bahkan sudah jadi ‘rumah kedua’ buat Tantowi. Ini tahun ketiga berturut-turut dia manggung di sana. Artinya? Diplomasi budaya kita mulai dipercaya audiens internasional.

Di sela-sela konser, Tantowi juga bakal menjadi juru bicara investasi. Gayanya santai tapi nusuk.

Intinya dia mau lurusin persepsi investor Eropa soal Indonesia. Masih banyak yang maju-mundur karena isu kepastian hukum dan regulasi yang beda-beda di tiap daerah.

“Indonesia bukan satu-satunya negara yang punya peluang. Ada Vietnam, ada negara lain. Tapi Indonesia tetap menjanjikan. Pemerintah kita ganti lima tahun sekali, terus berubah. Kalau tidak investasi sekarang, ketinggalan,” tegasnya.

Tantowi juga menyinggung soal peluang di daerah.

“Perusahaan di Bali sudah, di Jakarta sudah. Tapi di daerah belum tentu. Padahal peluangnya banyak,” ucapnya.

Pesan yang ingin disampaikan ke investor sendiri adalah Indonesia masih tanah yang subur. Tinggal berani masuk duluan apa nggak.

Misi ini pun bukan jalan sendiri. “Strings of Equator” digandeng langsung KBRI Oslo dan Den Haag. Masuk agenda diplomasi publik RI di Eropa Utara dan Barat.

Dari sisi dana, ada Kementerian Kebudayaan RI lewat Dana Indonesiana. Menteri Kebudayaan Fadli Zon pun hadir di konferensi pers dan memberikan restu.

“Apa yang dilakukan mas Tantowi, yaitu memperkenalkan budaya Indonesia lewat lagu-lagu daerah ke dunia internasional ini mewakili misi Kementerian Kebudayaan,” ujar Fadli Zon.

Tak cuma pemerintah. BRI dan Pertamina juga ikut jadi mitra strategis. BRI bawa narasi dari bank domestik ke panggung diplomasi global.  Ada juga Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial yang ikut support.

“Dukungan dari Kementerian Kebudayaan, BRI, Pertamina, dan yayasan jadi penanda penting bahwa diplomasi budaya Indonesia kini dijalankan dengan dukungan ekosistem yang utuh. Inilah model diplomasi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi,” tambah Tantowi.

Goal akhirnya sendiri, membuat orang Eropa kepo sama Indonesia. Pengen liburan ke sini, sekalian pengen nanam modal di sini.

Lewat lagu daerah, karya internasional, dan storytelling di atas panggung, Tantowi dan Thomshell Band mau nunjukin satu hal: Indonesia itu bukan cuma Bali dan rendang. Tapi negara yang kompleks, beragam, dan open for business.

Diplomasi zaman now memang tak melulu pidato. Kadang cukup pakai gitar,  lagu, dan cerita tentang Indonesia. (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.