Mimbar yang Kehilangan Cermin, Saat Menag Mengajak Imam Menjadi Duta Perdamaian di Tengah Krisis Akhlak

0

INVENTIF — Lima kali sehari imam berdiri di depan saf. Suaranya mengantar takbir, bacaannya menenangkan hati, dan khutbahnya semestinya menjadi pelita.

Namun, di negeri yang masjidnya berdiri hampir di setiap sudut jalan, justru semakin sering terdengar kabar yang membuat mimbar terasa kehilangan cermin.
Ada imam yang terseret kasus dugaan korupsi. Ada yang menjadikan mimbar sebagai panggung hoaks dan fitnah.

Ada pula yang mengobarkan kebencian atas nama agama. Ketika jubah dipakai untuk menutupi kepentingan, yang terluka bukan hanya jamaah, melainkan marwah agama itu sendiri.

Di tengah kenyataan itulah Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026), dengan pesan yang terdengar sederhana tetapi terasa seperti tamparan moral: imam harus menjadi duta perdamaian dunia.

“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Menag.

Kalimat itu terdengar indah. Tetapi keindahan itu sekaligus menjadi pertanyaan besar: bagaimana mungkin masjid menjadi titik temu jika sebagian mimbar justru berubah menjadi ruang saling menuding?
Imam Bukan Sekadar Pemimpin Salat

Menag mengingatkan bahwa imam adalah tokoh yang paling sering bertemu umat. Lima kali sehari mereka hadir di hadapan masyarakat, bahkan lebih sering dibanding pejabat ataupun pimpinan organisasi mana pun.

Kedekatan itu adalah amanah. Sayangnya, amanah kadang berubah menjadi alat pengaruh. Ketika mimbar dipenuhi kabar bohong, teori konspirasi, atau fitnah yang membelah masyarakat, jamaah tidak lagi diajak mendekat kepada Allah, melainkan digiring masuk ke lorong kebencian.
Padahal Al-Qur’an telah memberi peringatan tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini terasa semakin relevan di era media sosial, ketika hoaks bisa menyebar lebih cepat daripada azan.

Mimbar yang Kehilangan Cermin

Pesan Menag tentang diplomasi kemanusiaan juga menyentuh persoalan yang lebih dalam: agama tidak boleh diperalat demi kekuasaan atau keuntungan.
Korupsi yang dilakukan oleh siapa pun, terlebih oleh tokoh agama, bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan umat.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR Muslim).
Hadis itu tidak hanya berbicara tentang jual beli, tetapi tentang kejujuran dalam setiap amanah, termasuk amanah memimpin umat.

Perdamaian Dimulai dari Akhlak
IGIC 2026 mengangkat tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace.” Menag berharap masjid menjadi ruang dialog, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Gagasan itu akan kehilangan makna bila imam hanya fasih membaca ayat, tetapi miskin teladan. Sebab perdamaian dunia tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari akhlak yang jujur, adil, dan tidak menyebarkan fitnah.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 90, Allah memerintahkan keadilan, kebajikan, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan.

Satir dari Sebuah Mimbar
Konferensi ini dihadiri 49 delegasi dari 39 negara. Dunia datang berbicara tentang perdamaian.

Ironisnya, pelajaran terbesar mungkin bukan bagaimana mendamaikan konflik antarnegara, melainkan bagaimana mengembalikan kehormatan mimbar di negeri sendiri.

Karena musuh terbesar masjid hari ini belum tentu bom atau perang. Bisa jadi ia adalah kebohongan yang disampaikan dengan sorban, fitnah yang dibungkus dalil, dan korupsi yang bersembunyi di balik doa.
Jika imam benar-benar menjadi duta perdamaian, maka yang pertama didamaikan adalah hati, lisan, dan akhlaknya sendiri. Sebab mimbar yang suci tidak membutuhkan suara paling keras, tetapi teladan paling jujur. (NM)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.