Usia Hanyalah Angka, Anakia Production Menyindir Dunia yang Terlalu Cepat Menganggap Tua sebagai Tamat

0

INVENTIF  — Di dunia yang begitu gemar memuja kemudaan, rambut beruban kerap dianggap sebagai tanda menyerah, keriput diperlakukan seperti pengumuman pensiun, dan usia seolah-olah menjadi vonis bahwa seseorang tak lagi pantas bermimpi.

Padahal, hidup bukan perlombaan lari yang garis finisnya ditentukan oleh angka dalam kartu identitas. Berangkat dari kegelisahan itulah Anakia Production menyiapkan serial drama berjudul Usia Hanyalah Angka, sebuah kisah tentang semangat berkarya, keberanian membuka peluang, dan upaya membuktikan bahwa usia senior bukan berarti kreativitas harus masuk liang lahat lebih dahulu.

Persiapan produksi serial tersebut ditandai dengan acara syukuran di Restoran Pho Baba, Epiwalk, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Serial ini berangkat dari pengalaman hidup Irnawati selaku executive producer.

Percakapan sehari-hari yang semula sederhana kemudian dirangkai menjadi cerita yang menyentuh persoalan kehidupan, terutama tentang manusia yang sering kali lebih sibuk menghitung usianya ketimbang mengukur kemampuannya.

Sebab, masyarakat kadang mempunyai cara yang unik dalam menilai seseorang. Ketika masih muda, orang dituntut segera sukses. Ketika beranjak senior, ia justru diminta tahu diri. Seolah-olah kesempatan berkarya memiliki tanggal kedaluwarsa, persis seperti produk yang terlalu lama tersimpan di rak supermarket.

Padahal, kreativitas tidak mengenal kalender. Gagasan tidak harus mengantongi surat izin dari usia muda, dan kebermanfaatan tidak otomatis kehilangan masa berlakunya hanya karena rambut mulai memutih.

Irnawati berharap Usia Hanyalah Angka dapat menjadi penyemangat bagi mereka yang masih ingin berbuat sesuatu, meski usia tak lagi muda.

“Jangan pernah menyerah di usia kita yang sudah tidak muda lagi. Walaupun usia sudah tidak muda, kita masih bisa berkarya, bahkan berbuat untuk orang lain,” ujar Irnawati.

Pesan itu terdengar sederhana, tetapi barangkali justru itulah yang sering dilupakan. Sebab, dalam kehidupan yang gemar mengukur keberhasilan melalui jabatan, penghasilan, popularitas, dan penampilan, orang terkadang lupa bahwa manusia tetap mempunyai nilai selama masih mampu memberikan manfaat.

Ketika Usia Bukan Penghalang, tetapi Prasangka Menjadi Tembok
Sutradara Irawan Tanu menjelaskan bahwa serial ini tidak semata-mata berbicara tentang usia. Ceritanya juga menawarkan pandangan mengenai peluang mendapatkan penghasilan melalui ide, kreativitas, dan kolaborasi, tanpa harus selalu bergantung pada pekerjaan di kantor atau instansi formal.

Dalam serial tersebut, karakter yang diperankan Irnawati digambarkan sebagai pemilik manajemen agensi yang merangkul orang-orang dengan beragam gagasan untuk dikembangkan bersama.

Melalui karakter itu, penonton diajak melihat bahwa kesempatan bisa tumbuh dari ruang-ruang yang tidak selalu megah. Sebuah ide dapat menjadi pintu, pertemanan bisa menjadi jembatan, dan kerja sama dapat membuka jalan ketika pintu-pintu lain mulai terasa berat didorong.

Di sinilah sindiran kehidupan menemukan tempatnya.

Kita sering mendengar nasihat agar manusia terus produktif, tetapi tidak selalu menyediakan ruang yang cukup bagi mereka yang ingin kembali berkarya. Orang senior diminta tetap bersemangat, tetapi gagasannya kadang lebih dahulu dicurigai. Pengalamannya dipuji dalam pidato, tetapi belum tentu diberi kesempatan ketika keputusan harus dibuat.

Ironisnya, dunia yang gemar mengampanyekan inovasi terkadang masih terjebak pada prasangka lama: bahwa yang muda pasti kreatif dan yang tua sebaiknya cukup menjadi penonton.

Padahal, pengalaman adalah guru yang tidak selalu murah biaya pendidikannya. Ia dibentuk oleh kegagalan, kehilangan, keberhasilan, dan perjalanan panjang yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku motivasi atau mengikuti seminar sehari.

Irawan berharap serial tersebut dapat mendorong penonton untuk melihat peluang baru dan tidak menyerah ketika menghadapi perubahan hidup. Keberhasilan, menurut semangat cerita yang diusung, tidak selalu harus dimulai pada usia muda. Kemauan untuk mencoba, keberanian untuk belajar, dan tujuan yang positif tetap menjadi modal penting untuk melangkah.

Namun, tentu saja, semangat saja tidak cukup. Kreativitas perlu bertemu dengan kesempatan, gagasan membutuhkan kerja nyata, dan kolaborasi harus dibangun di atas kepercayaan. Sebab, mimpi yang hanya dipeluk tanpa pernah diperjuangkan akan tetap menjadi mimpi, berapa pun usia pemiliknya.

Empat Puluh Lima Episode untuk Layar yang Tak Lagi Lebar
Anakia Production merencanakan Usia Hanyalah Angka hadir dalam format serial vertikal dengan rasio gambar 9:16, mengikuti kebiasaan masyarakat yang semakin akrab menikmati tayangan melalui telepon seluler dan platform streaming.
Serial ini direncanakan terdiri atas 45 episode, dengan durasi sekitar dua hingga tiga menit untuk setiap episode.

Proses pengambilan gambar direncanakan berlangsung selama lima hari, dengan sejumlah lokasi yang disiapkan di kawasan Cijantung, Keranggan, dan Kuningan, Jakarta.

Irawan mengatakan, penggunaan latar perkotaan dengan gedung-gedung bertingkat menjadi bagian dari pendekatan visual yang ingin ditampilkan.

Pilihan format vertikal itu terasa relevan dengan zaman. Kini, cerita tidak harus menunggu layar bioskop yang megah untuk menjumpai penonton. Cukup melalui layar kecil di genggaman, sebuah kisah bisa hadir di sela perjalanan, waktu istirahat, atau bahkan di tengah kesibukan yang tak kunjung memberi kesempatan untuk menarik napas panjang.

Barangkali ada ironi tersendiri di sana. Layarnya boleh semakin kecil, tetapi persoalan kehidupan yang dibicarakan tetap besar. Dan meski durasi setiap episode hanya beberapa menit, pertanyaan yang ditinggalkannya bisa jauh lebih panjang: apakah kita benar-benar berhenti berkarya karena usia, atau justru berhenti karena terlalu sering diyakinkan bahwa waktunya sudah habis?

Untuk mendukung proses produksi, Irawan juga memberikan pendampingan akting kepada Irnawati yang baru pertama kali terjun ke dunia seni peran.

Pembacaan naskah dan latihan dilakukan agar para pemain memahami karakter masing-masing serta mampu membangun adegan yang terasa natural.

Sebab, membawa pengalaman hidup ke dalam cerita tentu membutuhkan lebih dari sekadar keberanian tampil di depan kamera. Pengalaman perlu diterjemahkan menjadi ekspresi, dialog, dan gerak yang dapat dipercaya penonton.

Foto2 Satrya

Deretan Pemain, Beragam Karakter, dan Satu Pesan Kehidupan
Serial Usia Hanyalah Angka disutradarai Irawan Tanu, dengan Irnawati sebagai executive producer, Rini Astri sebagai assistant producer, Hendra Suhendi sebagai line producer, dan Andi Afdilah sebagai produser pelaksana.

Sejumlah pemain yang terlibat antara lain Irna Frans sebagai Popy, Farhan Ananda George sebagai Farhan, Indri Octaviani sebagai Vanya, Rantya Affandy sebagai Giska, Meldian Maladi sebagai Bara, serta Keke Kartika sebagai Soraya.

Pemeran lainnya adalah Rini Astri sebagai Wanda, Arry Febrian sebagai Edwin, Ardhana Jovin sebagai Darrel, Ricky W Miraza sebagai Dito, Yogasz sebagai Boby, Eriez Muchsin sebagai Manager Evan, serta Yayan Femix sebagai Pak Rudi.

Kehadiran para pemain tersebut diharapkan mampu menghidupkan cerita yang berangkat dari pengalaman sehari-hari, dengan segala persoalan, harapan, dan peluang yang menyertainya.

Melalui serial ini, Anakia Production berupaya mempertemukan hiburan dengan pesan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahwa manusia tidak seharusnya berhenti mencoba hanya karena usianya bertambah, dan bahwa kesempatan kedua bukanlah hadiah eksklusif bagi mereka yang masih muda.

Pada akhirnya, Usia Hanyalah Angka bukan sekadar judul drama. Ia juga seperti teguran kecil bagi masyarakat yang terlalu cepat memberi batas kepada orang lain, seolah-olah masa depan hanya milik mereka yang baru memulai perjalanan.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan lurus. Ada yang menemukan jalannya pada usia dua puluh, ada yang baru memahami dirinya pada usia empat puluh, dan ada pula yang justru menemukan keberanian ketika sebagian orang menganggap perjalanannya sudah selesai.

Usia boleh bertambah. Tenaga mungkin tak lagi sama. Langkah bisa melambat. Namun, selama pikiran masih menyala dan kemauan belum menyerah, selalu ada sesuatu yang dapat dikerjakan.

Sebab, yang benar-benar membuat seseorang tua bukan semata-mata angka yang bertambah setiap tahun, melainkan ketika ia berhenti membuka diri terhadap kemungkinan.

Dan bagi dunia yang terlalu sibuk memuja kemudaan, mungkin inilah sindiran paling sederhana sekaligus paling telak: jangan buru-buru mengubur potensi seseorang hanya karena usianya sudah senior. Bisa jadi, ketika yang muda masih sibuk mencari panggung, yang senior justru sedang membangun pertunjukannya sendiri. (NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.