Laporan dari Riau yang Terbakar, Api di Tanah Gambut dan Awan di Langit Penantian

0

INVENTIF — Langit Riau tak lagi biru. Ia mendung bukan karena hujan yang dinanti, melainkan karena asap yang menjulur dari perut bumi yang menghitam. Pepohonan tumbang dalam sunyi, ilalang membakar dirinya sendiri dalam doa yang tak terkabul.

Di antara bara dan kabut itulah Letjen TNI Dr. Suharyanto, Kepala BNPB, melayang di atas tanah luka, menatap dari udara jejak-jejak bara yang menyayat hijau hutan menjadi abu dan arang.

Ia tak sendiri dalam perjalanan penuh bara ini. Wakil Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kalaksa BPBD Riau, hingga unsur Forkopimda turut bersamanya, melintasi awan yang tak lagi putih, tapi keruh seperti luka yang disembunyikan terlalu lama. Dari ketinggian itu, mereka melihat: Riau terbakar. Seluruh kabupaten dan kota. Bengkalis dan Kampar, paling parah.

“Segera tetapkan status tanggap darurat, agar kami bisa menyiram api dengan kekuatan penuh,” ujar Suharyanto, suaranya menembus kabut, lebih tajam dari deru helikopter yang mengitari langit perbatasan rawa dan lahan gambut.

Dan ia tak datang hanya membawa kata-kata. Pemerintah pusat, lewat koordinasi BNPB, mengirimkan bala bantuan: dari helikopter patroli dan waterbombing yang digandakan, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah memasuki babak ketiga. Awan-awan dipancing, langit dibujuk dengan garam dan harap, agar hujan turun, meski hanya rintik.

“Tadi subuh, awan berbelas kasih. Hujan turun di Indragiri Hilir, Kuala Kampar, Siak, Batang Cenaku, dan Bangkinang. Belum merata, belum cukup, tapi itu awal.”

Tapi air saja tak cukup. Di darat, pompa, water tank portable, motor karhutla, dan alat bantu pernapasan disiapkan. Pasukan dari Korem 031/Wira Bima dan Polda Riau bergerak, bersama para manggala agni, pejuang api yang tak dikenal oleh tepuk tangan, tapi dicintai oleh pepohonan.

Namun, Suharyanto tahu: api tak selalu datang dari langit atau nasib. Ada yang menyulutnya dengan sengaja. Maka selain padamkan bara, hukum pun ditegakkan. Enam belas orang telah ditetapkan sebagai tersangka, sebelas kasus masih dalam penyidikan. Ada asap, ada sebab. Dan kali ini, sebab itu akan dibawa ke meja hijau.

“Ini bukan sekadar memadamkan. Ini tentang menyelamatkan hutan, manusia, dan marwah hukum. Api bukan permainan. Lahan bukan korban abadi. Kita lawan dari darat, udara, dan dari dalam diri kita sendiri,” pungkas Kepala BNPB, menatap jauh ke horizon yang kelam.

Riau kini adalah ladang ujian: antara manusia dan alam, antara keserakahan dan perlindungan. Dan seperti kata langit—hujan akan turun, tapi hanya jika manusia bersedia memanggilnya dengan tulus.

Maka, ketika kabut menipis dan bara mendingin, semoga tak hanya lahan yang diselamatkan. Tapi juga hati manusia yang selama ini membakarnya. (BB)

Leave A Reply

Your email address will not be published.