‘Doti Tumbal Ilmu Hitam’, Ketika Gelap Sulawesi Menyelinap ke Layar Perak
INVENTIF – Dalam gelap malam Desa Jonjo yang tersembunyi di pelipir Parigi, Gowa, suara-suara lama masih bergema. Suara yang tak terdengar telinga biasa, tapi menyesak di dada mereka yang menyimpan luka dari masa silam: luka karena doti, ilmu hitam paling keji yang lahir dari rahim kebudayaan yang terselubung kabut mistis.
Film ‘Doti Tumbal Ilmu Hitam’, buah kolaborasi Dream Picture dan Ruang Visual Production, mengajak kita menyelami lorong gelap kebatinan Sulawesi. Disutradarai Bayu Pamungkas yang sebelumnya menjejak lewat De Toeng tak sekadar menyajikan sosok hantu yang melompat dari bayangan. Ia merayap pelan-pelan, menyusup ke nadi, membangkitkan rasa takut bukan karena rupa, tapi karena makna.
Dengan pendekatan elevated horror, Bayu dan penulis skenario Kayla Maulida memilih menyiksa rasa, bukan mengejutkan mata. Dalam naskah ini, penonton diajak merasakan sunyi yang menyeramkan, bukan teriakan yang hingar.
Kisahnya sederhana namun dibalut mistik: Ikhsan, diperankan Ahmad Pule, kembali ke tanah leluhur untuk menziarahi ayahnya Daeng Rate yang wafat sebagai tertuduh dukun doti.
Tapi tanah Jonjo bukan lagi kampung, melainkan rahim dari kebencian dan rahasia. Di sanalah, Daeng Rewa (Billy Budjanger), dukun sakti yang menyimpan dendam, menunggu dengan senyap, menganyam kembali benang-benang dendam melalui ritual dan kutuk yang membunuh tanpa pisau.
Ikhsan mencoba menyelamatkan bukan hanya nama ayahnya, tetapi juga ruh kampung itu. Namun seperti doti yang tak terlihat namun mematikan, musuhnya bukan hanya Daeng Rewa, tetapi juga rasa takut dan prasangka yang telah berakar puluhan tahun.

Film ini menampilkan barisan aktor lokal: Sri Herawati yang menghidupkan Daeng Rannu dengan sorot mata penuh trauma, Jerry Wongiyanto yang cukup kuat membawakan sosok Daeng Rate walau hanya lewat kenangan, dan Della Ogini serta Anita Tanjung yang menjadi pelengkap suasana mistis itu.
Sayangnya, keindahan tema tak sepenuhnya berhasil dijelmakan di layar. Cerita yang dibangun dengan potensi filosofis dan sosiologis yang besar justru terseok-seok. Dramaturgi terasa ragu, hukum sebab-akibat kerap meloncat tak tentu arah, dan yang paling kentara: doti, yang seharusnya menjadi ruh utama film justru tak tergambar dengan kuat. Ia hadir sebagai bayangan samar, bukan sebagai kekuatan yang nyata.
Pementasan para aktor pun tak mampu menyelamatkan keseluruhan narasi. Terkesan setengah matang, bahkan beberapa momen seperti diambil tanpa pengarahan jiwa. Kesan seorang santri pun tak mampu dimunculkan seorang Ahmad Pule. Hanya Jerry Wong yang tampak sedikit menyentuh kedalaman.
Sungguh disayangkan, bumi Sulawesi yang menyimpan kearifan dan estetika mistik tak sepenuhnya divisualkan secara utuh. Musik yang seharusnya menjadi mantra pengiring malah melempem, dan ritme cerita lebih banyak tersandung dari pada meluncur.
Namun tetap, ‘Doti Tumbal Ilmu Hitam’ patut kita sambut sebagai langkah awal menuju kehadiran horor lokal non-Jawa. Ia sebuah batu loncatan, bukan mahakarya. Ia mungkin belum menggetarkan seperti doti sejatinya, tapi niat untuk menghidupkan kembali cerita-cerita mistik Indonesia Timur layak dihargai.
Ini adalah panggilan untuk sineas lain, bahwa di luar pulau Jawa, ada dongeng kelam yang menunggu diceritakan. Ada duka dan doa yang tak pernah benar-benar hilang, hanya terpendam di hutan, di gunung, atau di dalam nadi kita sendiri.
Gaskeun! Dukung film Indonesia, meski belum sempurna, ia tetap cerita kita. Cerita dari tanah sendiri. (NMC)