Sekjen Kemenag Dukung Langkah Densus, Kedepankan Praduga Tak Bersalah
INVENTIF – Angin berita datang dari barat Nusantara, membawa kabar tentang seorang abdi negara—pegawai Kementerian Agama di Aceh—yang ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat dalam jaringan terorisme. Inisialnya MZ, sosok yang kini berada di balik tirai penyidikan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, merespons dengan kepala dingin dan hati lapang. Di tengah riuhnya opini dan kecamuk rasa publik, ia berdiri teguh pada prinsip dasar keadilan: praduga tak bersalah.
“Saya sudah menerima laporan dari Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, juga telah membaca surat resmi dari Densus 88,” ujar Kamaruddin dalam pernyataannya di Jakarta. Suaranya tidak menggelegar, tapi sarat ketegasan yang bijak.
Ia menegaskan, Kementerian Agama mendukung langkah Densus 88 dalam menegakkan hukum, namun menolak untuk terjebak pada penghakiman dini.
“Kita dukung proses hukum ini sepenuhnya, tentu dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah,” ucapnya. Kata-kata itu menjadi jembatan antara ketegasan dan keadilan, antara kewaspadaan dan kemanusiaan.
Kamaruddin menggarisbawahi bahwa Kemenag siap bersikap kooperatif, apabila keterangan atau dokumen dari lembaganya diperlukan dalam proses penyelidikan. Namun satu hal ia pastikan: keterlibatan dalam gerakan ekstrem tak bisa diberi ruang.
“Kementerian Agama adalah garda terdepan dalam penguatan moderasi beragama. Bila ada yang menyimpang dari nilai-nilai ini, apalagi hingga terlibat dalam gerakan teror, maka tak ada toleransi. Sanksi tegas akan diberikan,” tegasnya, menyampaikan pesan yang tak bisa ditawar.
Tapi Kamaruddin tak berhenti pada hukuman. Ia menengok ke depan, ke akar persoalan. Menyadari bahwa benteng terbaik bukanlah ketakutan, melainkan penguatan nilai. “Kami akan memperkuat pengawasan dan pembinaan. Moderasi beragama bukan hanya slogan, melainkan jalan panjang yang mesti kita tanamkan, bahkan dalam kurikulum cinta dan keindonesiaan,” katanya penuh harap.
Dalam akhir pernyataannya, Kamaruddin mengajak seluruh ASN Kemenag untuk kembali mengingat tanah tempat mereka berpijak.
“Kepada semua ASN, saya minta: rawatlah semangat nasionalisme. Cintailah negeri ini sebagaimana kau mencintai ibumu sendiri. Di sini kita lahir dan bertumbuh. Maka menjaga Indonesia adalah tugas kita, hingga akhir hayat.”
Di tengah bayang-bayang gelap yang sejenak mampir, suara Kamaruddin datang bagai cahaya yang mengajak pulang ke jalan yang lurus—jalan yang tak hanya menjunjung hukum, tetapi juga memeluk kemanusiaan. (BB)