Lentera di Tengah Badai, Nyala Ingrid Kansil di Simpang Politik, Bisnis, dan Panggung Kehidupan”

0

 

INVENTIF – Di bawah langit dunia yang retak oleh riuh konflik dan gemetar ekonomi global, nama Ingrid Kansil berpendar seperti lentera yang tak rela padam.

Ia bukan sekadar Ketua Perhimpunan Pedagang, bukan pula hanya sosok yang berjejak di Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia—ia adalah simpul dari banyak semesta: politik yang berdenyut, bisnis yang berpeluh, dan dunia hiburan yang pernah memberinya panggung untuk dikenal.

Di antara arus zaman yang sering kali lebih kejam dari badai, Ingrid berdiri, mengajak para perempuan pelaku usaha untuk tidak hanyut dalam gelombang ketakutan. Suaranya mengalir tenang, namun tegas, seperti doa yang diam-diam menguatkan: bahwa harapan tak boleh ikut runtuh hanya karena dunia sedang goyah.

“Inovasi dan kreativitas,” katanya, adalah perahu kecil yang mampu membawa mereka melintasi laut ketidakpastian.
Ia tahu benar denyut pasar, sebab sebagian besar—sekitar tujuh dari sepuluh perempuan yang berjalan bersamanya—menenun hidup dari kain-kain fashion dan aroma dapur kuliner. Dua sektor yang, seperti napas manusia, tetap dibutuhkan bahkan di saat dunia menahan napasnya sendiri.

Namun ia juga paham, bahwa perjuangan tak cukup hanya dari tangan-tangan kecil itu; negara mesti hadir, membuka pintu-pintu yang selama ini terasa terlalu berat untuk didorong sendiri.

Maka ia mengusulkan ruang—bukan sekadar ruang fisik di pusat perbelanjaan, tetapi ruang keadilan: sudut-sudut UMKM yang memberi kesempatan produk perempuan berdiri sejajar, tak lagi tersembunyi di balik bayang-bayang merek besar.

 

Langkahnya tak berhenti di dalam negeri. Dari Jepang hingga Turki, dari Brunei hingga panggung-panggung pameran internasional, ia membawa cerita tentang karya lokal yang tak kalah gemilang. Dunia luar, katanya, masih membuka tangan—dan produk Indonesia, dengan segala kehangatan dan keunikannya, mendapat sambutan yang tak sekadar basa-basi.

Namun jalan itu tidak selalu lapang. Harga bahan baku yang melonjak seperti ombak pasang menjadi ujian tersendiri. Dalam nada yang tetap teduh, ia meminta negara menurunkan sedikit beban yang menindih pundak para pelaku usaha—agar mereka tetap bisa berdiri tanpa kehilangan arah.

Di sisi lain, Ingrid juga menyalakan api kecil di dalam rumah-rumah. Ia percaya, dapur bukan hanya tempat memasak, dan ruang tamu bukan hanya tempat menerima tamu. Di sanalah, potensi sering kali bersembunyi—menunggu disentuh, diolah, lalu menjelma menjadi nilai ekonomi.

Ia mendorong para perempuan untuk memulai, sekecil apa pun langkahnya, karena setiap usaha adalah benih yang suatu hari bisa tumbuh menjadi pohon harapan.

Sebagai figur yang pernah merasakan gemerlap dunia hiburan dan kini menapaki lorong-lorong kebijakan serta jejaring bisnis, Ingrid memahami pentingnya peran penghubung. Ia menjadi jembatan—mengalirkan bantuan, pelatihan, dan harapan dari pemerintah kepada mereka yang kerap tak terdengar suaranya.

Dan pada akhirnya, di ujung kalimatnya yang sederhana namun menggema, ia meninggalkan pesan yang tak lekang oleh waktu: bahwa rezeki bukan sekadar soal hasil, melainkan tentang keberanian untuk terus mencoba.

Jatuh, baginya, bukan akhir—melainkan cara semesta mengajarkan manusia bagaimana cara bangkit dengan lebih tegak.
Di dunia yang terus berubah, Ingrid Kansil memilih untuk tidak sekadar bertahan—ia memilih untuk menyalakan cahaya. (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.