Kemenpar Gandeng Humas Hotel, Dari Sebar Brosur ke Sebar Janji Pariwisata Berkelanjutan

0

 

 

INVENTIF – Jika selama ini humas hotel sibuk mengurus komplain tamu soal AC kamar yang bocor atau Wi-Fi yang lebih lambat dari siput, kini mereka punya tugas baru: menyelamatkan bumi.

Ya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) resmi mengajak Himpunan Humas Hotel (H3) Indonesia untuk ikut serta menyebarluaskan publikasi pariwisata berkelanjutan. Karena, siapa lagi yang bisa meyakinkan wisatawan tentang “hotel ramah lingkungan” selain orang yang biasanya membungkus promosi dengan kata-kata manis?

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, membuka H3 Summit 2025 dengan penuh optimisme. Menurutnya, hotel adalah “tulang punggung pariwisata Indonesia.” Tentu, meski kadang tulang itu keropos oleh tarif listrik yang membengkak dan harga galon air isi ulang yang naik, tetap saja hotel dianggap ujung tombak citra bangsa.

“Peran humas sangat penting,” ujar Rizki. “Mereka harus bisa membangun narasi positif, bukan cuma soal produk hotel, tapi juga pariwisata berkelanjutan.”
Bahasa sederhananya: humas harus pandai menjelaskan ke tamu bahwa sedotan kertas yang cepat lembek itu adalah simbol kepedulian hotel terhadap planet bumi.

Tren pariwisata berkelanjutan memang sedang naik daun. Indonesia bahkan menargetkan net zero emission pada 2060. Target ambisius ini terdengar gagah, walau sebagian warga mungkin sudah “zero emission” lebih dulu karena tak kuat bayar listrik dan akhirnya hidup dalam gelap gulita.

Hotel-hotel pun mulai ikut arus. Ada yang membuat program daur ulang pakaian tamu (alias laundry bayar dua kali lipat), ada pula yang memamerkan pengomposan sampah organik—meski sayangnya masih banyak sampah plastik bekas sabun sachet yang berserakan.

Ketua PHRI, Hariyadi Sukamdani, menambahkan pentingnya efisiensi energi, etika bisnis, dan tata kelola. Ia bahkan menyebut praktik daur ulang pakaian sebagai contoh nyata. Tentu saja, wisatawan asing pasti kagum ketika tahu bahwa baju bekas mereka mungkin akan punya “kehidupan kedua” sebagai seragam karyawan hotel.

Di sisi lain, Ketua Umum H3, Yulia Maria, menyatakan humas siap jadi tulang punggung komunikasi pariwisata berkelanjutan. Dengan kata lain, mereka akan terus menulis press release penuh kata-kata hijau, meski tamu tetap mandi setengah jam di bathtub sambil menyalakan dua AC sekaligus.

Intinya, lewat H3 Summit ini, publik kembali diyakinkan bahwa pariwisata Indonesia bukan sekadar soal pemandangan indah dan hotel mewah. Ini juga soal bagaimana kata “sustainable” bisa dipakai sebanyak mungkin dalam pidato, agar terdengar keren di telinga dunia internasional—walau kadang praktiknya hanya sebatas menempel stiker “Green Hotel” di lobi.

Karena, seperti kata pepatah baru: “Kalau tidak bisa benar-benar hijau, setidaknya tampak hijau di brosur.” ((NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.