“E-Library dan Doa-Doa yang Mengendap di Pondasi”

0

 

INVENTIF – Di sebuah pagi yang dibalut doa dan kamera dokumentasi, di halaman UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah batu akhirnya menemukan takdirnya: diletakkan dengan khidmat, disaksikan banyak mata, dan—tentu saja—dipenuhi harapan yang tak kalah berat dari beton yang kelak akan menindihnya.

Maka datanglah Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, membawa bukan hanya sambutan, tetapi juga simbolisme yang sudah akrab dalam birokrasi: peletakan batu pertama. Sebuah ritual pembangunan yang seringkali lebih cepat selesai dibanding bangunannya sendiri.

Batu itu pun diletakkan, doa dilantunkan, dan sejarah—atau setidaknya prasasti awalnya—resmi dimulai. Gedung baru Fakultas Ushuluddin itu kelak akan menyandang nama sang menteri sendiri. Sebuah bentuk penghormatan, kata mereka. Atau mungkin, dalam bahasa yang lebih jujur: cara paling elegan agar nama tetap tegak berdiri, bahkan saat jabatan sudah lama duduk di museum kenangan.

Di negeri ini, bangunan memang kerap menjadi monumen—bukan hanya bagi ilmu, tapi juga bagi ego yang ingin diabadikan dalam huruf kapital. Namun tentu saja, semua itu dibungkus dengan narasi luhur: penguatan tradisi keilmuan, kebangkitan epistemologi Islam, hingga cita-cita menjadikan Ushuluddin sebagai mercusuar dunia. Kata-kata besar yang melayang tinggi, kadang lebih tinggi dari crane proyek itu sendiri.

Dalam pidatonya, sang menteri mengingatkan bahwa Fakultas Ushuluddin pernah melahirkan nama-nama besar seperti Harun Nasution dan Quraish Shihab. Sebuah pengingat bahwa kejayaan masa lalu selalu menjadi bahan bakar paling murah untuk membakar optimisme masa depan.

Ia menyerukan agar kampus tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi produsen. Sebuah ajakan yang terdengar gagah—meski di lorong-lorong akademik, para peneliti masih sering bertarung dengan hal yang lebih sederhana: dana riset yang seret, birokrasi yang berbelit, dan publikasi yang kadang lebih administratif daripada substantif.

Namun hari itu, semua terasa mungkin. Karena di atas kertas rencana, segalanya selalu tampak sempurna. Gedung tujuh lantai dengan luas ribuan meter persegi itu dijanjikan akan dilengkapi e-library, ruang diskusi ilmiah, dan ekosistem akademik yang produktif. Perpustakaan, kata menteri, bukan lagi sekadar ruang buku, melainkan pusat pengetahuan digital.

Sebuah gagasan yang indah—selama jaringan internetnya tidak lebih sering putus daripada argumen dalam seminar.
Di sana, dosen dan peneliti diharapkan aktif mempresentasikan karya. Sebuah harapan yang mulia, jika saja budaya akademik tidak sesekali tersandera oleh rutinitas administratif yang lebih tebal dari jurnal itu sendiri.

Rektor Asep Saepudin Jahar pun menegaskan capaian global kampusnya—peringkat ke-29 dunia bidang studi agama-agama. Sebuah prestasi yang patut dirayakan, tentu saja, sekaligus menjadi pengingat bahwa angka seringkali lebih mudah diukur daripada kualitas berpikir.
Peringkat naik, gedung bertambah, lantai meninggi—semoga saja nalar juga ikut bertumbuh, tidak tertinggal di lantai dasar.

Di akhir acara, pesan disampaikan dengan nada bijak: jangan berhenti di peletakan batu pertama. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi di negeri proyek ini, ia sering menjelma menjadi doa paling realistis. Karena kita semua tahu, banyak bangunan di negeri ini yang lebih rajin diresmikan daripada diselesaikan.

Maka batu itu kini terbaring di sana, memikul harapan, janji, dan sedikit ironi. Ia diam, tapi barangkali ia mengerti: menjadi fondasi di negeri ini bukan sekadar soal menopang bangunan—melainkan juga menopang harapan yang seringkali lebih rapuh dari semen yang mengikatnya. (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.