Jelang Hari Guru, 101 Ribu Guru Lulus PPG, Sertifikat Turun, Honor Naik, Idealnya Murid Ikut Naik Juga

0

INVENTIF — Kementerian Agama akhirnya memberi kabar gembira: sebanyak 101.786 guru madrasah dan guru pendidikan agama di sekolah resmi lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Angkatan 3 Tahun 2025.

Kabar ini datang menjelang Hari Guru Nasional—momen tahunan di mana negeri ini mengingat jasa guru, sebelum kemudian melupakannya lagi hingga tahun depan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut kelulusan ini sebagai bentuk penghargaan negara kepada para “pahlawan masa kini.”
“Guru berjuang di ruang kelas, bukan di medan perang,” katanya. Pernyataan yang tentu benar, meski sebagian guru mungkin merasa ruang kelas kini lebih mirip medan ranjau—dengan gaji pas-pasan, tugas menumpuk, dan murid yang lebih pandai mencari konten ketimbang makna.

Sebagai hadiah tambahan, guru yang lulus akan menerima sertifikat dan Nomor Registrasi Guru (NRG)—dua dokumen sakral yang jadi syarat untuk mencairkan Tunjangan Profesi Guru (TPG).
Guru ASN akan mendapatkan tunjangan setara gaji pokok, sementara guru Non-ASN akan memperoleh Rp2 juta per bulan, naik dari Rp1,5 juta sebelumnya.
Kenaikan ini disambut hangat—setidaknya oleh mereka yang masih bisa tertawa di tengah harga beras yang ikut naik, meski tanpa sertifikasi.

“Kenaikan tunjangan adalah bukti perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru,” ujar Menag.
Sebuah kalimat yang mungkin lebih sering terdengar di konferensi pers ketimbang di rekening guru.

Guru: Dari Pengabdi Menjadi Profesional (Setidaknya di Atas Kertas)

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menjelaskan bahwa kelulusan besar-besaran ini adalah hasil sinergi lintas lembaga—dari Kemenag hingga Baznas.
Sebuah kerja sama yang menunjukkan bahwa untuk meluluskan guru saja, negara perlu gotong royong nasional.

Meski tahun ini ada efisiensi anggaran, Kemenag memastikan PPG tetap berjalan. “Fokus kami menuntaskan PPG agar guru agama layak disebut profesional,” kata Suyitno.

Sebuah tekad yang patut diapresiasi, walau sebagian guru mungkin masih sibuk mencari proyektor pinjaman atau menulis RPP di kertas bekas karena “efisiensi” juga berlaku di ruang kelas.

Dari Sertifikat ke Akhlak: Perjalanan Panjang di Dunia Pendidikan

Direktur Pendidikan Agama Islam M. Munir menambahkan bahwa PPG bukan sekadar program administratif, tapi langkah strategis untuk memastikan guru memiliki kompetensi sesuai Undang-Undang.
“Kelulusan ini bukan sekadar data statistik,” katanya. “Ini simbol bahwa negara hadir untuk memuliakan profesi guru agama.”

Pernyataan itu menggugah. Tapi mungkin lebih menggugah lagi bila negara hadir juga di ruang kelas—dalam bentuk papan tulis baru, buku cukup, dan gaji yang datang tepat waktu.

Kemenag layak diapresiasi atas capaian ini. Namun, di balik angka kelulusan dan pidato seremonial, para guru masih mengajar dengan spidol hampir habis dan semangat yang tak kunjung padam.

Dan jika benar guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”, semoga kali ini, setidaknya tanda jasa itu bisa dicairkan tepat waktu—tanpa harus lulus PPG dulu tahun depan. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.