Di Bawah Lampion Ibu Kota, Icha Yang Menyulam Bahagia

0

JAKARTA — Malam menjelma lautan cahaya di pelataran Bundaran Hotel Indonesia.

Lampion-lampion menggantung bagai bulan-bulan kecil yang turun lebih rendah, seakan ingin mendengar manusia bernyanyi. Di sanalah ribuan orang berdiri tanpa sekat, menyatukan langkah dalam perayaan yang bernama Harmoni Imlek Nusantara.

Ketika nama Icha Yang dipanggil angin malam, tepuk tangan merekah seperti kembang api. Ia hadir bukan sekadar sebagai penyanyi, melainkan sebagai penenun ingatan. Tujuh lagu ia bentangkan di panggung terbuka—tujuh helai kisah yang menyentuh masa lalu, merangkul hari ini, dan menyisakan harap untuk esok.

Suaranya melayang, lembut namun tegas, membelah langit Jakarta yang sibuk. Para penggemar lama tersenyum dalam nostalgia; generasi muda mengangkat gawai, menangkap momen yang kelak akan menjadi cerita. Mereka yang semula hanya melintas berhenti, seperti disapa oleh nada yang akrab di hati.

Tak semua lagu ia nyanyikan dalam bahasa leluhur Tionghoa. Sebagian ia pilih dalam bahasa yang lebih umum, agar kebahagiaan tak tersesat dalam perbedaan aksara.

“Supaya teman-teman yang tidak merayakan Imlek juga bisa ikut merasakan suasana bahagia,” ucapnya, suaranya menyatu dengan riuh penonton. “Setengahnya bukan lagu Mandarin, supaya semua bisa bernyanyi bersama.”

Di ruang terbuka, katanya, ia merasakan denyut yang berbeda. “Kalau indoor biasanya komunitas tertentu saja. Tapi di outdoor semua bercampur—bapak, ibu, anak muda. Rasanya kangen sekali lihat penonton yang antusias,” ujarnya, matanya memantulkan cahaya lampion.

Malam itu, musik tak hanya terdengar—ia berdenyut. Ia mengalir di antara kerumunan yang berbaur tanpa tanya siapa dan dari mana. Imlek di jantung ibu kota menjadi wajah Indonesia yang sesungguhnya: negeri yang menjadikan perbedaan sebagai pelangi, bukan pagar.

Perayaan Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan lunar. Ia adalah bagian dari keindahan dan kebhinekaan Indonesia—tanah yang kaya oleh keberagaman suku, budaya, dan keyakinan.

Di sini, merah lampion berdampingan dengan warna-warni Nusantara; doa-doa dalam bahasa Mandarin bersua dengan senyum dalam bahasa Indonesia; semuanya menyatu dalam satu kata: bersama.
Menjelang akhir penampilan, Icha mengucap harap yang sederhana namun dalam.

“Semoga kita semua panjang umur, sehat, dan rezekinya dilancarkan. Yang penting penonton happy, saya juga happy,” tuturnya.

Dan ketika lagu terakhir mereda, tepuk tangan masih bergema, seperti enggan mengakhiri malam. Di bawah langit Jakarta, orang-orang pulang membawa sesuatu yang tak kasatmata—sepotong hangat yang bernama harmoni.

Sebab di kota yang tak pernah benar-benar tidur, musik telah membuktikan: Indonesia selalu punya cara untuk merayakan perbedaan, dan menjadikannya nyanyian yang indah. Pray)

Leave A Reply

Your email address will not be published.