“Jejak Emas di Bawah Langit Syawal, Ketika Perempuan Sumatera Selatan Menari, Merawat Silaturahmi, dan Menghidupkan Warisan Budaya”
INVENTIF – Di bawah langit Syawal yang masih menyisakan harum kemenangan, langkah-langkah perempuan dari tanah Sumatera Selatan berjejak lembut di ruang megah Hotel Horison Bekasi.
Di sanalah, Perkumpulan Wanita Palembang Sumatera Selatan (PWPSS) merajut kembali benang silaturahmi yang mungkin sempat terurai oleh waktu—halalbihalal yang bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan jiwa yang saling menguatkan.
Sekitar seratus lima puluh hati hadir, termasuk Pembina PWPSS, Anwar Fuady, membawa cerita, membawa rindu, dan membawa tekad yang sama: menjaga kebersamaan tetap bernyawa. Dari pusat hingga cabang, dari DKI Jakarta hingga daerah-daerah lain, mereka berkumpul dalam satu irama—irama perempuan yang tak pernah lelah merawat solidaritas.
Ketua Umum PWPSS, Wiwied Tatung, berdiri bukan sekadar memberi sambutan, tetapi menyalakan api semangat yang diwariskan dari waktu ke waktu. Bahwa pertemuan ini bukan hanya rutinitas tiga bulanan, melainkan ruang di mana kebersamaan dipahat ulang, agar tak rapuh digerus zaman.
Amwar Fuady menimpali, mengutip suara lama dari John F. Kennedy—sebuah gema lintas benua yang kini menemukan rumahnya di hati para perempuan Palembang: tentang memberi, tentang mengabdi, tentang tidak menunggu, tetapi bergerak.
Namun acara itu tak hanya berbicara lewat kata. Ia menari. Tari yang Berbicara dalam Diam. Di tengah gemerlap acara, seni tari Sumatera Selatan hadir seperti doa yang menjelma gerak. Salah satunya adalah Tari Gending Sriwijaya—sebuah persembahan agung yang dahulu hanya ditarikan untuk menyambut tamu kehormatan kerajaan.

Setiap lenggok penari adalah bahasa tanpa suara. Jemari yang lentik pada Tari Tanggai, dihiasi kuku-kuku emas panjang, bergerak perlahan seperti menyisir waktu—anggun, sakral, dan penuh makna. Gerakan itu bukan sekadar estetika, melainkan simbol penghormatan, kelembutan, dan martabat perempuan Palembang.
Kain songket yang berkilau tak hanya memantulkan cahaya lampu, tetapi juga sejarah panjang Sriwijaya—tentang kejayaan, tentang kehalusan rasa, dan tentang warisan yang tak boleh hilang.
Alunan musik tradisional mengiringi, seolah memanggil roh leluhur untuk ikut menyaksikan: bahwa budaya ini masih hidup, masih ditarikan, masih dicintai.
Harmoni yang Tak Sekadar Hiburan
Di sela tarian, angklung berdenting, membawa suara Nusantara yang bersatu dalam perbedaan. Seni bukan lagi pelengkap—ia menjadi jembatan, pengikat rasa yang tak bisa dijelaskan dengan logika semata.
Bahkan, seperti diungkapkan Wiwied, sebagian pertunjukan ini telah melanglang buana ke negeri asing, membawa wajah Indonesia yang lembut namun berdaya. Di sana, tepuk tangan bukan sekadar apresiasi, tetapi pengakuan bahwa budaya kita adalah bahasa universal.
Anwar Fuady, yang menyaksikan dengan mata yang barangkali telah kenyang pengalaman, namun tetap tak bisa menyembunyikan kekaguman. Baginya, PWPSS bukan sekadar organisasi—melainkan denyut perempuan yang bekerja, berbagi, dan menghidupkan kemanusiaan, dari membantu korban banjir hingga membawa budaya ke panggung dunia.
Malam pun kian hidup saat suara Reza Zakarya menggema, disusul dentuman ritme dari DJ Mumu. Tawa pecah, langkah kaki bergerak, dan suasana mencair—seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bagian dari perjuangan.
Di sisi lain, Merry Hani menyebut momentum ini sebagai simpul penting—tempat di mana hubungan tak hanya dijaga, tetapi diperkuat dengan rasa syukur yang tulus.
Dan pada akhirnya, seperti benang yang kembali ditarik ke pusat, Wiwied menegaskan arah: bahwa PWPSS akan terus melangkah, memperluas jejaring, dan meneguhkan peran perempuan Indonesia—tidak hanya sebagai penjaga rumah, tetapi juga penjaga budaya, penjaga bangsa.
Di malam itu, bukan hanya acara yang usai.
Melainkan sebuah janji yang diperbarui—
bahwa selama masih ada yang menari,
budaya tak akan mati.