Di Tengah Riuh Politik Muktamar, Lesbumi Menyalakan Lentera Pencerahan

0

INVENTIF — Ketika ruang sidang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dipenuhi perdebatan, lobi, dan perebutan arah kepemimpinan, di sudut lain Tambakberas justru tumbuh panggung yang mengajak orang berhenti sejenak: mendengar bunyi gamelan, menyimak puisi, dan mengingat akar kebudayaan.

Di arena parkir timur Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Lesbumi PBNU menghadirkan Tawa Show, sebuah panggung seni budaya yang menjadi ruang perjumpaan seniman Nahdliyin dari berbagai daerah hingga mancanegara. Bagi Lesbumi, inilah persembahan untuk warga NU: ruang kreativitas yang lahir bukan dari hasrat politik, melainkan dari ikhtiar pencerahan.

Wayang itu bukan sekadar hiburan pembuka. Lesbumi menjadikannya sebagai ruwatan budaya dan doa bersama agar Muktamar berjalan bersih dari angkara murka, hawa nafsu kekuasaan, dan perpecahan. Kisah Pandawa yang kembali berkumpul setelah masa pengasingan menjadi cermin bagi para muktamirin: kepemimpinan lahir dari khidmah, bukan sekadar kemenangan.

Zastrow menegaskan, seni budaya dalam tradisi NU adalah jalan dakwah yang telah diwariskan para ulama Nusantara. Tembang, wayang, dan kesenian sejak dahulu menjadi bahasa yang mampu menyentuh hati masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.

Baginya, panggung budaya juga menjadi cara membangun imunitas kultural di tengah derasnya arus globalisasi. NU diajak kembali mengenali tradisi dan sejarahnya, bukan untuk menutup diri dari zaman, melainkan menggali dan mengembangkan kebudayaan yang humanis.

“Kalau tidak kenal tradisi, kita tidak akan kenal sejarah. Dan tanpa sejarah, kita sulit menjadi pemenang,” ujar Zastrow.

Lesbumi memilih tetap netral terhadap dinamika politik Muktamar. Urusan memilih pemimpin, katanya, adalah wilayah para muktamirin. Lesbumi hanya menyediakan ruang refleksi agar keputusan politik tetap berpijak pada akar kebudayaan Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana dawuh para ulama, “Al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Di Tambakberas, petuah itu menjelma menjadi panggung yang mengingatkan bahwa Muktamar tidak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga merawat jiwa dan kebudayaan NU. (NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.