Ketika Wisata Religi Dipuji, Destinasi Muslim Friendly Masih Menjadi PR Besar

0

 

INVENTIF — Tepuk tangan menggema di Sanur, Bali. Lampu panggung menyala terang, penghargaan diserahkan, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar dinobatkan sebagai Bali Top Hospitality Leader in Religious Tourism Development dalam ajang 11th Bali Tourism Awards 2026.

Sebuah panggung yang merayakan prestasi, di tengah kenyataan bahwa wajah pariwisata Indonesia justru sedang menyimpan banyak kerutan.
Penghargaan itu diterima Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan, Gugun Gumilar, pada Selasa (15/9/2026).

ITTA Foundation menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan dan kontribusi Menteri Agama dalam mendorong pengembangan wisata religi di Indonesia, termasuk penguatan destinasi wisata berbasis agama dan budaya.

Namun, di luar gemerlap seremoni, muncul pertanyaan yang tak bisa terus disapu di bawah karpet merah: apakah pariwisata Indonesia benar-benar sedang baik-baik saja?

Sebab faktanya, sektor pariwisata nasional masih menghadapi tantangan serius. Sejumlah destinasi mengeluhkan penurunan kunjungan wisatawan, okupansi hotel di berbagai daerah belum sepenuhnya pulih, pelaku usaha wisata menjerit akibat daya beli masyarakat yang melemah, sementara banyak objek wisata hidup segan, mati tak mau.

Pernyataan itu memiliki makna penting. Kerukunan memang fondasi pembangunan. Namun fondasi saja tidak cukup jika bangunan pelayanan wisata masih banyak yang retak. Wisata religi membutuhkan akses, kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan fasilitas yang benar-benar berpihak kepada wisatawan.

Penghargaan tentu layak diapresiasi sebagai bentuk pengakuan atas upaya pemerintah. Namun penghargaan bukan garis akhir, melainkan pengingat bahwa pekerjaan sesungguhnya masih menunggu di lapangan. Sebab pariwisata tidak diukur dari banyaknya trofi yang dipajang, melainkan dari pengalaman wisatawan yang pulang membawa kesan, bukan keluhan.

Di negeri yang kaya akan masjid bersejarah, pura, gereja, vihara, dan situs-situs spiritual kelas dunia, semestinya wisata religi bukan hanya indah dalam pidato, tetapi juga ramah dalam pelayanan. Jika tidak, penghargaan akan tetap bersinar di etalase, sementara pariwisata nasional masih berjalan tertatih di persimpangan.(NM)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.