Fadil Imran Bayangi Jejak Sutarman Menjadi Kapolri?
INVENTIF – Sosok Fadil Imran sebagai Kapolda Metro Jaya dikenal memiliki kedekatan dengan para jurnalis, khususnya mereka yang bertugas melakukan peliputan di wiluayah Polda Metro Jaya dan jajarannya.
Kedekatan Fadil Imran dengan jurnalis setidaknya tergambar dengan dukungan renovasi balai wartawan Forum Wartawan Polri (FWP) Polda Metro Jaya, Jum’at (22/09/2022). Bangunan menyerupai rumah yang berada persis di depan pom bensin Polda Metro Jaya ini sebenarnya cukup mumpuni untuk menjadi pos bekerja atau sekedar melepas lelah para jurnalis yang meliput kegiatan, kebijakan dikeluarkan ataupun pengungkapan kasus dilakukan kepolisian.
Daya tampung parkiran di balai wartawan ini cukup untuk menampung puluhan kendaraan roda dua milik para jurnalis dan bahkan turut diisi oleh kendaraan sejumlah anggota polisi. Di sisi tembok yang berbatasan dengan jalan menuju Dit Pam Obvit dan Bidang Humas Polda Metro Jaya, setidaknya tiga pedagang makanan dan minuman siap melayani para jurnalis maupun anggota Polri yang haus dan lapar hingga sore hari.

Meski terbilang cukup luas untuk ukuran balai wartawan dan dilengkapi berbagai fasilitas lain seperti tiga kamar mandi, akses wifi hingga musholla, namun harus diakui balai wartawan yang diresmikan di tahun 2011 oleh Kapolda Metro Jaya ketika itu, Irjen Sutarman, memang terbilang kurang secara estetika. Pemandangan parkiran motor yang terkadang terbilang semerawut menambah kesan gersang di bangunan kebanggan FWP tersebut.
Singkatnya, Fadil Imran yang kini menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya akhirnya memutuskan untuk renovasi Balai Wartawan FWP Polda Metro Jaya. Selain untuk menambah kenyamanan, sejumlah titik di bangunan ini memang terbilang telah rusak, seperti plafon, toilet, cat terkelupas dan lainnya.
Direnovasi selama dua bulan lebih sejak tanggal 11 Juni 2022 hingga tanggal 23 Agustus 2022, balai wartawan FWP Polda Metro Jaya kini tampil ciamik dan menampilkan estetika. Deretan batu koral turut menjadi penghias taman hingga memunuculkan kesan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran. Pujian terhadap Balai Wartawan FWP yang baru ini tak hanya datang dari para jurnalis yang berposko di sana, namun juga wartawan lain yang ditugaskan oleh media tempatnya bekerja untuk melakukan peliputan di Polda Metro Jaya.
Berbicara Balai Wartawan FWP Polda Metro Jaya sebenarnya tak bisa dilepaskan antara Sutarman dan Fadil Imran. Dari sekian banyak Pati Polri yang menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, dua sosok ini paling menorehkan sejarah dengan keberadaan Balai Wartawan yang layak.
Di masa ancaman bom buku, Balai Wartawan FWP yang semula berada di lantai dua Gedung Bidang Humas Polda Metro Jaya dipindahkan ke bangunan di sampingnya yang berdempetan dengan lapangan tenis, persis di depan pom bensin. Rabu, 16 Maret 2011, Irjen Sutarman selaku Kapolda Metro Jaya membubuhi tandatangan di prasasti menandai resminya penggunaan Balai Wartawan FWP Polda Metro Jaya.
Adalah Fadil Imran yang ketika itu menjabat Wadir Reskrimum dengan pangkat AKBP yang menjadi penanggungjawab renovasi balai wartawan tersebut. Bak pesulap, dalam 1 X 24 jam, bangunan di sisi lapangan tenis akhirnya berubah fungsi menjadi Balai Wartawan FWP yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti toilet, musholla, akses wifi, televisi hingga ruang pengurus.
“Waktu itu saya Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya. Mungkin masih ada yang lain juga menyaksikan waktu itu Pak Tarman Kapoldanya ngajak kesini, sedang dibongkar Balai Wartawan yang lama di belakang terus tidak ada tempatnya,” cerita Fadil di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 bersama awak media peliputan Polda Metro Jaya di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Selasa (8/2/2022) pagi.

Lulusan Akpol 1991 ini memandang sangat wajar bila renovasi dilakukan mengingat usia bangunan telah cukup tua hingga perlu dilakukan sejumlah perbaikan. Selain itu estetika dipandang memiliki peran, terlebih dengan telah tersedianya lokasi khusus parkir yang mumpuni di Polda Metro Jaya. Dengan adanya taman tanpa adanya pemandangan kendaraan terparkir di lokasi diyakininya membuat pikiran para jurnalis semakin fresh dalam membuat karya pemberitaan.
Preseden Kapolri Satu Angkatan
Kembali ke sosok Fadil Imran dan Sutarman, bukti kedekatan keduanya dengan jurnalis juga ditunjukkan melalui olahraga. Di era kepimpimpinan Sutarman, FWP yang ketika itu digawangi Ketua Edi Hasibuan, Wakil M Bachtiar, Kabid Olahraga Taufik Ridwan, Sandy Adam Mahaputra, Helmi Syarif, dan sejumlah anak muda yang tergabung dalam kepengurusan untuk pertama kali berhasil menggagas turnamen futsal bertajuk Kapolda Cup. Event ini menjadi ajang silaturahmi para wartawan di wilayah hukum Polda Metro Jaya yang tersebar di berbagai pos peliputan, termasuk Kejaksaan Agung, KPK, DPR, dan Balai Kota. Dalam perkembangannya, event ini akhirnya menjadi sinergitas antara Polri dengan wartawan yang terus dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya.
Demikian pula Fadil Imran, dikenal sebagai sosok penggemar sepak bola. Setiap pekannya, Fadil mengajak serta para jurnalis untuk ikut terlibat dalam menjaga stamina melalui sepak bola. Gayung bersambut, Faruk selama ini dikenal sebagai kapten tim futsal FWP yang kerap memenangkan berbagai event.
Tak hanya berbicara kedekatan dengan jurnalis, Sutarman dan Fadil sama-sama memiliki latar belakang reserse mumpuni. Sama-sama pernah bertugas di wilayah Ibu Kota dan Jawa Timur, Fadil bahkan memiliki keunggulan lain dalam hal pendidikan dengan gelar doktor Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Kendati terbukti bukan syarat mutlak dengan terpilihnya Jendral Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri, namun harus diakui sejarah sejumlah pimpinan tertinggi Tribrata merupakan mereka yang pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Catatan Inventif, setidaknya ada empat Kapolri sebelum Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, yaitu Jenderal (purn) Timur Pradopo, Jenderal (purn) Sutarman, Jenderal (purn) Muhammad Tito Karnavian, dan Jenderal (purn) Idham Azis.
“Belum ada preseden pengganti Kapolri berasal dari satu angkatan ”
Dr. Anton Aliabbas, Dosen Universitas Paramadina
Pengalaman sebagai Kapolda Metro Jaya diakui Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas sebagai salah satu pendukung profil kandidat saat pergantian Kapolri. Dosen Universitas Paramadina yang sebelumnya sempat bergabung dengan NGO Imparsial ini menilai selain pengalaman bertugas yang mumpuni dan pendidikan hingga gelar doktor, Fadil Imran memiliki kelebihan lain di mata berbagai pihak, khususnya NGO.
“Irjen Fadil Imran sebagai Kapolda Metro Jaya membuka akses pelibatan pihak eksternal dalam investigasi-investigasi terkait kejadian melibatkan anggota Polri, seperti tragedi KM 50 contohnya. Dia datang ke Komnas HAM, uji balistik melibatkan Komnas HAM, NGO dan lainnya,” jelas Anton kepada INVENTIF, Sabtu (08/10/2022).

“Background juga gak ada masalah, pendidikan bahkan tidak hanya terkait kepolisian tapi juga punya pendidikan dengan gelar doktor dari UI, itu jelas menunjang,” sambung mantan jurnalis Detik Com ini.
Kendati dapat disebut sebagai calon Kapolri pengganti Listyo yang mumpuni, namun Anton juga menyertakan fakta tidak adanya sejarah pengganti Kapolri merupakan rekan seangkatan dari TB 1, sebutan pimpinan tertinggi Polri yang menjabat sebelumnya.
“Belum ada preseden pengganti Kapolri satu angkatan,” singkatnya mengakhiri pembicaraan.