‘Rinduku’, Nyanyian Rindu Mayang dari Dunia yang Telah Retak

Sebuah catatan  dari ruang kehilangan yang disulap menjadi lagu

0

INVENTIF – Sore yang kering oleh kenangan. Di sudut kota yang tak pernah tidur, di antara rimbun rindang Pasar Minggu, suara yang nyaris patah itu akan menggema sebuah lagu yang lahir dari luka, cinta, dan doa.

Mayang Lucyana Fitri, gadis muda yang telah terlalu sering digoda perpisahan, memilih untuk tak membendung air mata. Ia menenunnya menjadi nada.

‘Rinduku’, judul sederhana yang menyimpan palung perasaan, resmi menyapa dunia pada 20 Juli 2025, tepat di hari ulang tahun keponakannya yang kini tumbuh tanpa ibu dan ayah. Gala Sky, bocah lima tahun yang kini menjadi poros rindu bagi banyak hati yang kehilangan.

Lagu ini bukan hanya hadiah ulang tahun. Ia adalah pelukan yang tak bisa diberikan, bisikan yang tak sempat disampaikan, dan kehadiran yang abadi dalam ketidakhadiran.

Ditulis tangan dingin sang komposer Bimo Maxim, lagu ini bergerak dalam nada mellow, semacam senandung yang lahir dari ruang-ruang kosong di hati. Bait-baitnya seperti berdoa sambil menahan isak: “Semoga surga jadi rumahmu…” kalimat yang tak cuma lirik, tapi mantra bagi yang ditinggal mati.

Mayang tak sendiri. Ayahnya, Doddy Sudrajat, pun mengaku luruh dalam tangis saat pertama kali mendengar lagu ini. Air mata, barangkali, adalah bahasa paling jujur dari lagu yang dibangun dari puing-puing cinta yang tercerai.

Dalam peluncuran yang digelar di Warung WOW, keluarga, sahabat, dan media akan menyaksikan, bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi pemaknaan ulang atas duka yang dijahit menjadi kekuatan.

Yang membuat lagu ini begitu hidup bukan hanya suaranya, tapi juga visual yang akan menyusul. Dalam video klip ‘Rinduku’, Mayang menyusuri kota demi kota, dari Jakarta yang hiruk, Yogyakarta yang sendu, hingga Surabaya yang menyimpan pusara kenangan. Makam Vanessa Angel menjadi salah satu latarnya. Tempat di mana cinta ditanam dan tak pernah benar-benar mati.

“Visualnya akan memperlihatkan bagaimana rindu itu tidak pernah selesai.” kata Doddy, seolah ingin menyampaikan bahwa batu nisan bukan penutup cerita, melainkan awal dari dialog yang sunyi tapi abadi.

Netizen menyambut hangat. Di media sosial, kalimat seperti ‘obat rindu’ dan ‘lagu paling tulus’ berseliweran. Mungkin karena setiap orang, pada akhirnya, menyimpan satu nama dalam dadanya yang tak sempat diucap untuk terakhir kalinya.

“Ini bukan sekadar lagu, ini doa. Ini cinta yang tak akan putus oleh maut,” ucap Mayang. Di sana, matanya berkabut, suaranya bergetar, tapi nadanya pasti.

Kini, lagu ‘Rinduku’ telah tersedia di berbagai platform digital. Tapi sejatinya, lagu ini telah lama hidup di hati orang-orang yang mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari kasih sayang. Bahwa rindu, meski tak bertemu, tetap bisa bernyanyi.

Dan dari puing-puing luka itu, Mayang Lucyana Fitri berdiri. Tak lagi sekadar adik dari mendiang Vanessa Angel. Ia kini seorang penyair muda yang menyanyikan air mata. Yang menjadikan sedih sebagai seni. Yang membiarkan musik menyalakan lentera di lorong kehilangan.

Karena kadang, rindu tak bisa dijawab. Tapi bisa dinyanyikan. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.