Menpar Ungkap Tiga Tren Global, Dari Wisata Berkelanjutan hingga Sinyal 4G yang Masih Dicari
INVENTIF – Di tengah jalan-jalan rusak menuju destinasi wisata dan toilet umum yang masih menuntut keberanian moral untuk digunakan, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana tampil penuh optimisme.
Dia mengumumkan tiga tren global yang diyakininya akan “mengubah wajah pariwisata Indonesia secara fundamental.”
“Pariwisata adalah mesin ekonomi dunia,” ujar Menteri Widiyanti dalam pembukaan Indonesia Tourism Outlook 2026 di Jakarta, dengan latar belakang layar LED yang menampilkan pemandangan drone Bali — lengkap dengan burung camar yang tampak lebih bebas dari birokrasi.
Menurut sang Menteri, sektor pariwisata menyumbang 10 persen terhadap PDB global dan menyerap 330 juta tenaga kerja di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, katanya, kontribusi pariwisata mencapai 4,9 persen terhadap ekonomi nasional, meski sebagian wisatawan masih mengira bandara Labuan Bajo itu dekat dengan Borobudur.
“Tantangan kita sekarang bukan sekadar jumlah wisatawan, tapi bagaimana memastikan mereka tak tersesat di Google Maps,” tegasnya penuh semangat.
Tren Pertama: Wisatawan Baru dari Dunia yang Tak Pernah Kita Pikirkan
Widiyanti mengungkapkan bahwa sumber wisatawan global kini berubah drastis. Tak lagi didominasi turis Amerika dan Eropa, kini giliran Asia Selatan dan Timur Tengah naik daun.
“Negara-negara ini akan menjadi pasar outbound terbesar. Dan Indonesia harus siap menyambut mereka — dengan segala keramahan, bukan dengan tarif hotel yang naik tiga kali lipat tiap libur panjang,” katanya disambut tepuk tangan yang sopan tapi tidak antusias.
Ia menyoroti pula potensi pariwisata ramah Muslim, di mana Indonesia, dengan jumlah masjid terbanyak dan Wi-Fi terlemah per meter persegi, dianggap memiliki “keunggulan kompetitif.”
Tren Kedua: Generasi Z dan Milenial, Wisatawan yang Butuh Sinyal Kuat dan Estetika
Menteri kemudian menyinggung generasi muda yang disebutnya “motor pertumbuhan pariwisata dunia.” Generasi yang, menurutnya, lebih mencari “pengalaman bermakna” — meskipun pengalaman itu kadang berupa 30 detik reels di depan mural warna pastel.
“Sebanyak 52 persen Gen Z rela membayar lebih demi pengalaman berkesan,” katanya.
Pengalaman berkesan yang dimaksud, tampaknya termasuk menemukan colokan listrik di kafe pinggir pantai yang tidak diisi daftar menu kopi seharga tiket KRL.
Tren Ketiga: Destinasi Tak Populer yang Akan Jadi Viral (Kalau Ada Influencer-nya)
Tren terakhir, katanya, adalah naiknya minat terhadap “destinasi yang dulu tak populer.” Ia mencontohkan desa-desa wisata dan lokasi yang “lebih autentik.”
“Wisatawan kini mencari yang unik dan alami,” ujar sang Menteri.
Beliau tak menyebut bahwa seringkali yang alami itu rusak dulu baru diperbaiki setelah viral.
Program Unggulan: Dari ‘Tourism 5.0’ hingga ‘Gerakan Wisata Bersih’
Widiyanti menyebut Kementeriannya telah menyiapkan berbagai program unggulan seperti Tourism 5.0 dan Gerakan Wisata Bersih. Yang terakhir, katanya, akan memastikan destinasi wisata “bebas sampah.”
“Minimal saat sedang disurvei oleh media,” tambahnya sambil tersenyum.
Kementerian juga akan bekerja sama dengan Basarnas untuk pelatihan keselamatan wisata di destinasi alam. Langkah ini diapresiasi, mengingat beberapa turis sebelumnya lebih cepat diselamatkan netizen daripada tim resmi.
Menteri Widiyanti mengajak media untuk terus menyebarkan berita positif tentang pariwisata Indonesia.
“Ceritakanlah ke dunia bahwa negeri ini indah, masyarakatnya ramah, dan sinyalnya… sedang diusahakan,” katanya, diakhiri tepuk tangan yang kali ini lebih tulus — mungkin karena sesi makan siang akan dimulai.
Turut mendampingi Menteri, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Martini M. Paham (yang tampak sangat paham kapan kamera menyorot), Deputi Bidang Industri dan Investasi Rizki Handayani, serta Kepala Biro Komunikasi Indri Wahyu Susanti yang mencatat semua hal — kecuali berapa banyak wisatawan yang datang tanpa menemukan toilet yang layak.(NMC)