Wanda Hamidah Pulang dari Laut, AWG Nyatakan Perjuangan Tetap “Sumud”
INVENTIF – Setelah berlayar, tertahan, pindah kapal, dan akhirnya pulang tanpa sempat mendekati Gaza, dua delegasi Indonesia, Muhammad Fatur Rohman dan aktivis publik Wanda Hamidah, disambut bak pahlawan di Bandara Soekarno-Hatta.
Aqsa Working Group (AWG) menyebut kepulangan mereka sebagai bukti bahwa “perjuangan tak pernah padam”—meski kapal sempat lebih banyak mogok daripada bergerak.
Armada Flotilla, Lebih Banyak di Bengkel daripada di Laut
Country Director AWG, Rifa Berliana Arifin, dengan penuh semangat menjelaskan bahwa dari awal AWG diminta menyiapkan satu kapal penuh. Sayangnya, keterbatasan dana membuat mereka hanya bisa mengirim personel. Kapal yang dijanjikan pihak lokal Tunisia ternyata “lebih mirip perahu wisata pantai” daripada armada Mediterania.
Akibatnya, peserta harus dipangkas. Dari empat nama, hanya dua yang sempat benar-benar berlayar. Itupun sebentar, sebelum akhirnya kembali pulang. “Yang penting kan niatnya. Soal kapal bocor, mesin rusak, ya itu teknis,” ujar Rifa dengan nada pasrah.
Fatur yang awalnya naik kapal Observer, akhirnya dipindah ke Kamr, sebuah perahu kecil dengan enam penumpang. Sementara itu, Wanda Hamidah ikut kapal Kaiser yang sayangnya mengalami kerusakan mesin begitu sampai Italia. Dengan kata lain, perjuangan melawan blokade Gaza terhenti bukan oleh tentara Israel, melainkan oleh montir bengkel kapal.
Perjuangan yang Tetap “Dicatat Sejarah”
Meski gagal menembus blokade, AWG menegaskan perjuangan tetap sah. Ketua Presidium AWG, Muhammad Anshorullah, bahkan menyatakan perjuangan ini sudah cukup dicatat dalam sejarah bangsa Indonesia.
“Kalau tidak sampai ke Gaza, ya tidak apa-apa. Kan sudah berangkat. Yang penting semangatnya. Itu sudah masuk kategori jihad fi sabilillah,” katanya penuh keyakinan.
Dengan demikian, Palestina mungkin belum terbebas, Masjid Al-Aqsa masih terkepung, namun bangsa Indonesia sudah puas karena ada warganya yang sempat mencicipi angin laut Mediterania. “Kapal boleh gagal jalan, tapi perjuangan tetap sumud,” demikian kesimpulan penyambutan di Soekarno-Hatta. (NMC)