Film Nia, Seruan Kemanusiaan yang Terjebak Dalam Eksekusi Setengah Matang
INVENTIF— Film Nia hadir dengan beban moral yang besar: mengangkat tragedi nyata seorang remaja di Kayu Tanam, Padang Pariaman, yang dirudapaksa hingga tewas oleh pengguna narkoba.
Dengan dasar kisah seberat ini, film garapan Aditya Gumay sejatinya memiliki potensi menjadi salah satu karya paling mengguncang di tahun 2025. Namun, potensi besar tersebut tidak sepenuhnya berhasil diwujudkan dalam eksekusi finalnya.
Kekuatan Cerita: Realitas yang Menyakitkan
Film ini berdiri kokoh pada fondasi kisah nyata yang menyayat. Kehidupan Nia Kurnia Sari—remaja 18 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga—disajikan sebagai potret ketidakadilan yang dialami banyak perempuan Indonesia. Adegan-adegan yang menggambarkan kerja kerasnya demi ibu sakit, kakak, dan adik kecilnya, cukup efektif menggugah simpati penonton.
Tragedi kekerasan yang menimpa Nia pun divisualisasikan sebagai “alarm sosial”, seruan keras bahwa kekerasan seksual bukan sekadar angka statistik, tetapi fakta sosial brutal yang masih menghantui banyak daerah.
Di titik ini, Nia bekerja: ia menjadi film yang memaksa kita menatap penderitaan yang sering disembunyikan dalam laporan. Sungguh tragis!
Akting: Emosional, Namun Belum Sepenuhnya Matang
Syakira Humaira menampilkan ketulusan dalam memerankan Nia, meski pada beberapa adegan intens emosional terlihat kurang terjaga. Helsi Herlinda dan Neno Warisman memberi energi emosional yang lebih stabil, khususnya NenoWarisman yang memerankan Makwo dan menjadi kanal empati yang kuat.
Namun secara keseluruhan, sejumlah peran pendukung terasa mismatch dan tidak memperkaya dinamika cerita. Interaksi antar karakter sering kehilangan kekuatan dramatik yang seharusnya menambah kedalaman tragedi.

Naskah: Lemah dan Kurang Detail
Di balik premis kuat, naskah film Nia menjadi titik paling problematis. Banyak detail penting tidak digarap secara presisi. Pembangunan karakter Andri (pelaku), misalnya, terasa dangkal dan terburu-buru—padahal perannya sebagai sumber tragedi seharusnya menjadi elemen yang ditata dengan kehati-hatian dramaturgis.
Beberapa dialog juga terasa kaku, terkesan seperti membacakan pesan moral alih-alih percakapan natural. Alur yang seharusnya membawa penonton masuk lebih dalam justru sering terasa seperti potongan-potongan peristiwa tanpa pengikat emosi yang kuat.
Sebagai pengguna narkoba, tubuh kekarnya gak masuk akal sebagai pecandu narkoba akut. Kayaknya sih aktor ini salah peran!
Pencampuran Elemen Publik: Distorsi Suasana Dramatis
Kehadiran tokoh publik seperti Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan beberapa tokoh masyarakat Sumatera Barat dalam film ini menimbulkan problem tersendiri. Alih-alih memperkuat pesan sosial atau memberi konteks, kemunculan mereka justru memecah imersi penonton dan menggeser fokus dari inti tragedi. Kehadiran figur-figur ini terasa lebih seperti sisipan simbolis yang kurang relevan dengan pengembangan cerita.
Teknis dan Atmosfer: Sinematik Namun Tidak Konsisten
Secara visual, film ini memiliki beberapa momen sinematik yang kuat. Pengambilan gambar Kayu Tanam dan suasana pedesaan cukup efektif membangun ruang cerita. Musik garapan Adam S. Permana memberikan sentuhan emosional yang pas, meski sayangnya tidak selalu bertemu dengan ritme adegan yang tepat.
Ketidakkonsistenan tone visual dan editing membuat beberapa adegan tampak terburu-buru, sementara adegan lain terlalu berlama-lama tanpa progres emosional.
Penting, Menyentuh, Namun Tidak Maksimal
Nia adalah film yang penting—penting karena visinya, karena tragedinya nyata, karena pesannya mendesak. Namun sebagai karya sinema, film ini belum sepenuhnya berhasil mengolah potensi besar itu menjadi narasi yang kokoh dan mendalam.
Ia menyentuh, tetapi tidak mengguncang sedalam yang seharusnya. Ia mengajak peduli, namun eksekusinya sering menghalangi penonton merasakan kedalaman tragedi Nia secara total.
Film ini tetap layak ditonton, terutama sebagai pengingat bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak masih merupakan PR besar bangsa ini. Namun dari sisi sinematik, Nia masih terasa sebagai film yang “lebih penting daripada bagus”—seruan kemanusiaan yang kuat, namun terjebak dalam penggarapan yang kurang matang.
Tapi setidaknya, Aditya produktif menggarap film dimana dalam film Nia ia berhasil mengajak banyak pihak terlibat didalamnya, termasuk Ruben Onsu sebagai produser.
Sayang semuanya kurang maksimal. Mudah-mudahan urang awak berbondong-bondong untuk menontonnya.(NMC)