Ketika Sepak Bola Jadi Urusan Negara

0

 

INVENTIF – Menteng sore itu lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada pertandingan Persija, tapi karena ada diskusi soal STY di sebuah kafe bernama Agreya Coffee.

Ya, sekelompok orang serius membahas topik yang biasanya jadi bahan debat di X (Twitter): “Pak Prabowo, Kembalikan Shin Tae-yong (STY) ke Timnas Indonesia.”

Empat media—Cokro TV, Nalar Sports TV, Geo Live, dan Retorika Show—berkolaborasi menggelar diskusi publik ini. Moderatornya, Noella Sisterina dan James Purba, tampil seperti duet komentator Liga Champions, hanya saja tanpa highlight gol dan replay pelanggaran.

Di kursi narasumber hadir Haris Pardede, pengamat sepak bola yang dikenal tajam seperti VAR tanpa delay; Effendi Gazali, pakar komunikasi politik yang juga pecinta Timnas; dan lewat layar Zoom, Andre Rosiade, politisi Partai Gerindra yang kini tampak lebih sering bicara sepak bola ketimbang politik—karena, yah, di Indonesia, kadang keduanya memang tidak bisa dipisahkan.

Diskusi ini muncul setelah Timnas Indonesia resmi tersingkir dari Kualifikasi Piala Dunia, diikuti pemecatan Patrick Kluivert—pelatih yang katanya datang membawa DNA Belanda tapi pulang membawa beban hasil imbang.
Kekosongan kursi pelatih langsung melahirkan seruan nostalgia nasional: “Kembalikan STY!”

Andre Rosiade dengan tenang menyebut bahwa memanggil STY pulang adalah langkah rasional dan efisien. “Dia sudah hafal siapa pemain yang pura-pura cedera dan siapa yang benar-benar cedera,” ujarnya sambil menekankan bahwa keputusan ini juga lebih hemat anggaran—karena mungkin lebih mahal kalau harus mendatangkan pelatih dari planet lain.

Namun Andre juga mengingatkan, kalaupun STY kembali, PSSI harus menetapkan target yang jelas. Soalnya, dalam sepak bola Indonesia, target sering kali lebih kabur dari sistem VAR di liga lokal.

Effendi Gazali memandang pemecatan STY sebagai tindakan tergesa-gesa. Ia menyoroti momen ironis: STY justru dipecat setelah mengalahkan Arab Saudi—prestasi yang jarang terjadi bahkan dalam mimpi fans.

“Bisa jadi ada pihak-pihak yang membisikkan kepada Presiden,” kata Effendi, setengah serius, setengah satire. Bisikan itu mungkin sama lembutnya dengan yang dulu mengiringi pergantian pelatih Timnas dari era ke era.

Sementara itu, Haris Pardede alias Bung Harpa, tampil seperti juru bicara suporter rasional—spesies yang langka. Ia menilai PSSI sering kali kurang terbuka dalam mengambil keputusan. “Banyak detail tidak dijelaskan secara tuntas. Padahal publik berhak tahu,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ada yang salah kalau Presiden Prabowo berdialog dengan Erick Thohir soal sepak bola. “Dulu, waktu Erick maju jadi Ketum PSSI, ada restu Presiden Jokowi. Jadi kalau sekarang Prabowo ikut nimbrung, ya itu cuma transfer antar presiden di bidang sepak bola.”

Menjelang penutupan, Andre Rosiade kembali menegaskan: “Presiden Prabowo memberi perhatian besar untuk sepak bola. Jangan ragukan komitmennya.”
Penonton bertepuk tangan—entah karena setuju, entah karena sesi tanya jawab atau karena acara segera ditutup.

Diskusi pun berakhir di antara aroma espresso dan idealisme. Indonesia, sekali lagi, membicarakan sepak bola dengan nada serius, padahal hasilnya sering tak jauh berbeda dari sinetron: dramatis, penuh harapan, dan kadang tak masuk akal.

Yang jelas, jika STY benar-benar kembali, semoga ia tidak hanya membawa taktik baru, tapi juga kesabaran ekstra menghadapi kultur sepak bola yang lebih politis dari debat di Senayan. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.