The Verdict, Dakwaan yang Mengamini Kenyataan Pahit Negeri

0

 

INVENTIF – Keadilan: The Verdict, datang ke bioskop Indonesia seperti tamu yang seolah membawa kue ulang tahun, tapi isinya entah antara harapan manis atau ledakan kecil.

Kolaborasi Lee Chang-hee dan Yusron Fuadi—dua nama yang reputasinya cukup untuk membuat penonton menegakkan badan—membuat film ini tampil seperti seminar tentang keadilan, namun dengan gaya orasi yang lebih suka bercanda ketimbang berkoar.

Reza Rahadian sendiri menggambarkan film ini sebagai tontonan tentang keadilan yang tidak berat. Tentu, ini melegakan. Karena di negeri yang tiap pagi sudah disuguhi drama hukum dari dunia nyata, siapa yang masih punya energi menonton sesuatu yang terlalu serius? Untunglah film ini memilih jalan tengah: membahas ketimpangan hukum tanpa membuat penonton merasa sedang ikut kelas filsafat wajib.

Lee Chang-hee datang dengan reputasi A Killer Paradox—serial yang membuat penonton bertanya-tanya apakah moral itu benda cair—dan Yusron Fuadi membawa aroma hutan mistis dari Setan Alas! Hasil kolaborasi mereka menghadirkan sebuah kisah tentang seorang pria yang berjuang di dunia hukum yang katanya tidak masuk akal. Tapi bagi penonton Indonesia, dunia hukum seperti itu terasa bukan fiksi, melainkan dokumenter mini.

Produser Song Hyun-ju menambahkan bahwa mereka ingin menunjukkan bagaimana orang berkantong tebal bisa melenggang sementara yang kere tetap dihukum, bahkan jika satu-satunya dosa mereka adalah tidak punya dompet bermerek. Sebuah gagasan yang, ironisnya, sudah begitu akrab di telinga publik, hingga film ini lebih terasa seperti nostalgia ketimbang kritik sosial.

Reza Rahadian dan Rio Dewanto memimpin parade aktor yang tampaknya dipilih bukan hanya untuk akting, tapi juga untuk mempertahankan tradisi film Indonesia: semakin gelap tema, semakin tampan pemeran utama. Elang El Gibran, Dian Nitami, Niken Anjani, hingga Eduard Manalu turut memperkuat cerita, seolah memastikan bahwa ketidakadilan harus tetap disampaikan oleh wajah-wajah yang enak dilihat agar penonton tidak terlalu sedih.

Film ini juga mencoba permainan klasik: menjadikan hero sebagai antihero. Pilihan yang menarik, meski di era sekarang, banyak orang sudah merasa dirinya antihero sejak bangun tidur, terutama setelah melihat isi rekening.

Pada akhirnya, Keadilan: The Verdict terasa seperti surat cinta yang terlambat tiba—sudah lama dinanti, namun datang membawa kenyataan pahit bahwa dunia tidak berubah. Yang membedakan hanya cara film ini mengemasnya: rapi, stylish, dan cukup satir untuk membuat penonton tersenyum getir.

Sisanya, seperti biasa, keadilan tetap tergantung siapa yang memegang palu. Film ini hanya mengingatkan bahwa palu itu sering jatuh ke arah yang sama.

Dengan gembar-gembor film ciamik hasi kolaborasi sineas Indonesia dan Korea Selatan, hasilnya malah kurang memuaskan, meski jauh dari kesan jelek.  Kalau cuma seperti itu hasilnya, ya lebih kasih full sutradara Indonesia saja untuk menggarapnya secara total. Jangan-jangan hasilnya malah lebih ciamik dan keren.  (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.