Qorin 2: Horor Slasher yang Terperangkap Cerita Sendiri

0

 

INVENTIF – Film Qorin 2 tampaknya ingin tampil lebih gelap, lebih sosial, dan lebih “slasher” daripada pendahulunya.

Namun, ambisi tersebut justru membuat film ini berjalan dalam kabut cerita yang tidak konsisten, latar yang rancu, dan penokohan yang kehilangan pegangan. Alih-alih menjadi horor yang menegangkan, film ini justru membuat penonton bertanya-tanya: sebenarnya film ini ingin jadi apa?

Cerita: Ambisi Besar, Eksekusi Bingung

Tema bullying dan masalah sosial sekolah sebenarnya sangat relevan. Sayangnya, narasi Qorin 2 terasa seperti bercita-cita tinggi tetapi lupa merapikan jalurnya.

Motivasi Pak Makmur membangkitkan Qorin seharusnya menjadi fondasi utama cerita, namun alih-alih ditelusuri secara mendalam, film justru berputar-putar pada kejadian mistis tanpa pondasi logis yang kuat. Akibatnya, konflik emosional yang seharusnya menjadi jantung cerita hanya lewat bagai angin.

Sabab-akibat dalam plotnya tidak konsisten, termasuk hubungan antara kejadian di sekolah dengan teror di kampung yang terkesan dipaksa saling berhubungan.

 

Bumi Pasundan Hanya Jadi Pajangan

Film berlokasi di daerah dengan kekayaan visual—Bumi Pasundan—namun sinematografinya gagal mengeksplorasi keindahan alamnya. Kamera seperti hanya memotret lokasi, bukan “menghadirkan” atmosfer.

Alih-alih menjadi ruang estetika, setting hanya tampil seperti latar belakang yang kebetulan ada, bukan sebuah elemen naratif.

Penokohan: Lemah, Kecuali Dua

Karakter Fitri (Wavi Zihan) dan Jaya (Muzakki Ramdhan) tampil menyelamatkan film dari kehampaan ekspresi. Keduanya bermain dengan kedalaman emosional dan menghidupkan adegan tanpa harus berteriak ingin terlihat hebat.

Sayangnya…Sisi “baru” Fedi sebagai slasher sama sekali tidak terasa.Seolah yang hadir hanya Fedi Nuril sebagai Fedi Nuril, persis sebagaimana kita melihat Fedi Nuril di film-film Fedi Nuril sebelumnya, Sukma, Pangku dan se againya. Tidak ada transformasi, tidak ada kedalaman gelap yang dijanjikan.

Bahasa gampangnya, bukan “sisi lain”, tapi “sisi itu lagi”.

Acting Pendukung dan Figur Zombie: Datang, Lalu Menguap

Keberadaan figur “mirip zombie” tampaknya ingin memberi kesan slasher-horor internasional, tapi gagal menempel di kepala penonton Indonesia. Visualnya tidak memorable, tidak punya identitas, dan justru meniru genre luar tanpa adaptasi budaya yang kuat.

Zombie—atau apapun itu—hanya lewat seperti cameo yang terlupakan.

Kesimpulan: Horor yang Menjadi Drama, Drama yang Jadi Horor

Qorin 2 memang mencoba mengusung isu besar, tapi kurang disiplin dalam menjaga logika cerita dan karakterisasi. Alih-alih menyisakan rasa waswas, film ini meninggalkan tanda tanya yang tak perlu.

Film ini bisa jadi tontonan, tetapi sulit menjadi pengalaman horor yang membekas. Kecuali bagi mereka yang ingin melihat Wavi Zihan dan Muzakki Ramdhan, yang jelas menjadi titik terang dalam kegelapan yang justru dibuat film itu sendiri.

Terlepas dari semua itu, kalau masyarakat menerima, ya ok aja. (NMC)


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.