Santri Baru Diperbolehkan Bermimpi Setelah Difilmkan? SANFFEST 2025 dan Amnesia Kolektif Dunia Perfilman

0

INVENTIF — Santri rupanya baru dianggap “kreatif” setelah diberi panggung, karpet, dan fanfare orkestra.

Setidaknya itulah kesan yang muncul dari gegap gempita Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 yang digadang-gadang sebagai “ruang baru” bagi santri menuju ekosistem perfilman nasional.Padahal, jauh sebelum istilah ekosistem menjadi mantra hibah dan proposal, santri telah lama membuat film—tanpa festival, tanpa juri selebritas, apalagi malam anugerah.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: siapa sebenarnya yang sedang diperkenalkan kepada siapa? Santri kepada film, atau film kepada santri?

Santri Sudah Lama di Balik Kamera, Bukan Baru Keluar Pesantren
Jika memori sejarah tidak sedang mengalami gangguan, dunia perfilman Indonesia justru lahir dari rahim santri.
Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik—dua pelopor dan tokoh utama perfilman nasional—adalah santri dan aktivis NU. Bersama Asrul Sani, mereka mendirikan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia), jauh sebelum festival-festival modern sibuk mencari “identitas”.

Di level kontemporer, santri bukan sekadar figuran kreatif. Tengok saja ada Rahmat Hidayatullah (Dayat), santri Pesantren Nuris Jember, sineas yang masih aktif.  Lalu ada Shinta, sutradara film pendek peraih penghargaan Diary Santri dari Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sedangkan Ali Mustajib, alumni Pesantren Tebuireng, berkiprah di dunia perfilman nasional.

Di era kekinian,  Edy Prasojo (Ponpes Nurul Huda) dan Riski Hanifa (Ponpes Al Ikhlas) adalah sutradara film pendek yang pernah menang di Festival Film Santri. Zaira Rizqiany Firdaus (SMK Al Wafa Bandung) juga meraih penghargaan sutradara film pendek. Zafran Nabil Fauzan (Raru Production) dari Ponpes Rahmatul Asri juga dikenal sebagai sutradara film pendek.

Belum lagi deretan santri dan alumni pesantren yang mengisi layar kaca dan bioskop. Ada Syakir Daulay, Abidzar Al Ghifari, Wirda Mansur, Alvin Faiz, Dewi Perssik, Aura Kasih, Julia Perez, Fady Alaydrus—bahkan hingga Nikita Mirzani dan Keanu Agl.

Dengan daftar sepanjang itu, wajar bila muncul pertanyaan lanjutan: SANFFEST ini sedang membuka pintu, atau sekadar mengklaim rumah yang sudah lama berdiri?

Soal Juri: Menghakimi Tradisi dengan Kriteria Siapa?
Festival film, bagaimanapun, bukan hanya soal panggung, melainkan soal penilaian.
Maka publik berhak bertanya—dengan nada santun tapi tajam:nsiapa jurinya, dan sejauh apa mereka memahami tradisi santri yang dinilai? Sebab ini bukan melulu tentang persinemean.

Santri bukan sekadar subjek tematik. Mereka adalah komunitas dengan sejarah estetik, etika, dan narasi sendiri. Menilai karya santri hanya dengan parameter festival arus utama berisiko mengulang kolonialisme kreatif versi baru: santri boleh berkarya, asal sesuai selera kurator.

Orkestra Live, Tapi Sejarah Playback
SANFFEST 2025 memang menawarkan kemasan megah—orkestra live, paduan suara, fanfare orisinal. Namun ironi muncul ketika kemewahan presentasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman refleksi sejarah.

Ketika santri disebut “melampaui stigma hanya belajar kitab”, justru muncul stigma baru: seolah-olah santri baru sah kreatif setelah dilegitimasi festival.
l Padahal, santri tidak sedang menunggu validasi. Mereka sudah lama berkarya—hanya saja tidak selalu difoto, tidak selalu diberi panggung TMII, dan tidak selalu disebut “gelombang baru”.

Festival atau Arsip yang Terlambat?
Jika SANFFEST ingin benar-benar menjadi rumah, maka ia harus lebih dari sekadar panggung tahunan. Ia mesti menjadi arsip kesadaran, yang mengakui bahwa santri bukan pendatang baru di perfilman Indonesia—mereka adalah tuan rumah lama yang terlalu sering dilupakan. Santri tidak sedang menuju perfilman nasional.

Harus disadari, Perfilman nasional sejak awal justru berangkat dari santri.
Dan barangkali, satir paling pahit dari SANFFEST 2025 adalah ini:
festival baru datang membawa cahaya, ke sebuah ruangan yang sejak lama sudah terang—hanya saja lampunya tak pernah disorot kamera. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.