Film Lyora, Sunyi yang Menjelma Harapan

0

 

INVENTIF : Ada luka yang tak mengucur darah, tapi menetap di dada. Ada harapan yang tak bersuara, tapi bergema dalam diam. Lyora: Penantian Buah Hati, film garapan Pritagita Arianegara, bukan hanya sebuah suguhan sinema—ia adalah napas panjang yang tertahan, doa yang tertulis di mata, dan cinta yang menua dalam penantian.

Film ini tak mencoba memekakkan telinga dengan dialog penuh tangisan, tak pula memaksa air mata jatuh dengan latar musik yang memuncak. Ia justru memilih jalan sunyi. Jalan di mana rasa lebih nyaring ketika tak diucapkan, dan luka lebih tajam ketika hanya terlihat dari gestur tubuh dan mata yang tak sempat menatap penuh.

Marsha Timothy dan Darius Sinathrya, dalam peran pasangan yang mendamba kehadiran buah hati, tampil bukan sebagai tokoh, melainkan manusia. Mereka tidak bermain peran—mereka hidup di dalamnya. Wajah Marsha adalah padang sepi yang sesekali ditimpa gerimis, sedang Darius menjadi langit yang menggantung, menahan badai tapi tak kuasa memberi hujan.

Pritagita Arianegara memahat setiap adegan dengan kelembutan yang nyaris rapuh. Kamera bergerak pelan, kadang seolah tak ingin mengganggu kesedihan tokohnya. Setiap bingkai terasa seperti surat yang tak pernah dikirim, namun ditulis dengan air mata dan cinta yang tidak habis.

Film ini adalah keberanian dalam bisu. Ia menolak narasi patriarkal yang menganggap perempuan harus selalu kuat, harus selalu tersenyum, meski jiwanya remuk dalam ketidaksuburan. Ia menampar perlahan, tapi dalam—kepada mereka yang menganggap soal memiliki anak adalah perkara yang bisa dipaksa, digiring, atau ditertawakan.

Virgie Baker, sang produser sekaligus penulis buku yang menjadi inspirasi film ini, tampak menanamkan jiwanya di dalam naskah. Ada empati yang tidak dibuat-buat, ada cinta yang lahir dari luka nyata. Ini bukan film untuk ditonton sambil lalu. Ini film yang harus diresapi, diam-diam, seperti seseorang meresapi kehilangan di tengah keramaian pesta.

Tentu, bukan tanpa cela. Beberapa adegan terasa terlalu berhati-hati, hingga nyaris tak bernyawa. Namun justru dari kekurangan itu, Lyora menemukan kekuatannya. Ia tak hendak menggurui atau memberi solusi. Ia hanya hadir, sebagai pelukan bagi mereka yang pernah merasa sendiri dalam ruang rumah sakit, atau sepi di antara doa yang belum terkabul.

Lyora: Penantian Buah Hati adalah puisi panjang tentang cinta yang diuji waktu, tentang tubuh yang tak selalu bisa memberi, dan jiwa yang tetap ingin menerima. Ini bukan hanya film, ini adalah pelita kecil dalam sunyi yang panjang. Sebuah nyala lembut yang mengajarkan kita: kadang harapan tak bersuara, tapi ia tetap tumbuh.

Namun, saking sunyi dan berhati-hatinya sang sutradara menggapai kesempurnaan, beberapa pengadeganan malah terasa kurang  gregetnya alias hambar.  Pertempuran bathin  yang harusnya banyak muncul dan  menggedor bathin penonton seolah noktah artifisial belaka. Gampangnya, kurang tereksplorasi dengan utuh. Pun suasana mencekam saat Covid  melanda negeri ini kurang meneror. Padahal sejatinya, peristiwa itu menjadi bab traumatik tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Bisakah film ini menjadi penguat energi bagi pasangan yang tengah bergulat dengan persoalan yang sama? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Apalagi bila cuma  berpegangan dengan kartu BPJS semata. Tentu perjuangan jadi berkali-lipat beratnya.(NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.