Jejak Terakhir Penyelenggaraan Haji
INVENTIF – Selembar catatan sejarah terbit hari ini. Kementerian Agama menutup lembar panjang penyelenggaraan haji dengan tinta yang indah.
Catatan itu adalah Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia 2025 mencapai angka 88,46, sebuah capaian yang dicatat Badan Pusat Statistik dengan predikat Sangat Memuaskan.
“Angka ini bukan sekadar hitungan. Di baliknya ada senyum, ada doa, ada peluh yang jatuh di tanah suci. Ada pengakuan atas kerja keras kita semua,” tutur Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan suara yang bergetar di Jakarta.
Lembar Penutup, Warisan Terbaik
Survei kepuasan jemaah kali ini bukan hanya rilis tahunan. Ia menjadi penanda historis: survei terakhir bagi Kemenag sebagai penyelenggara haji. Setelah 14 tahun berturut-turut, tongkat estafet akan berpindah ke Kementerian Haji dan Umrah.
“Indeks 88,46 adalah warisan terbaik. Pondasi kuat untuk melanjutkan layanan haji yang lebih baik di masa mendatang,” ujar Menag.
Survei yang melibatkan lebih dari 14 ribu jemaah itu mengamati perjalanan sejak keberangkatan, prosesi ibadah di Tanah Suci, hingga kepulangan. Setiap titik pengamatan menyimpan cerita: keramaian bandara, doa lirih di Armuzna, dan rasa lega saat tenda menjadi teduh di tengah panas padang pasir.
Ketika Ibadah Jadi Puncak Kepuasan
Dari sepuluh aspek yang diteliti, tujuh di antaranya meningkat. Layanan ibadah mencatat skor tertinggi, 89,45 – sebuah kabar yang terasa paling membahagiakan. Karena pada akhirnya, haji adalah perjalanan ibadah, dan kepuasan jemaah dalam hal ini adalah inti dari segalanya.
Meski tahun ini penuh tantangan dengan sistem multi syarikah yang baru diterapkan, kendala hotel, konsumsi, dan transportasi di Armuzna tetap teratasi. Angka yang dicatat BPS menjadi bukti bahwa kerja keras tak pernah sia-sia.
Terima Kasih, Salam Perpisahan
Di akhir sambutannya, Menag menundukkan kepala, seakan berbicara bukan hanya kepada bangsa, tetapi juga kepada sejarah. Ucapan terima kasih ia tujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kepada kementerian/lembaga, kepada Pemerintah Arab Saudi, kepada BPS, dan terutama kepada para petugas haji.
“Dedikasi mereka—waktu, tenaga, bahkan nyawa—adalah kunci keberhasilan,” ucapnya lirih.
Dan kepada para jemaah, ia menyampaikan salam perpisahan. “Terima kasih atas kepercayaan, doa, dan kesabaran. Semoga Bapak/Ibu sekalian pulang sebagai haji yang mabrur. Dengan kerendahan hati, kita akhiri tugas besar ini dengan capaian yang membanggakan. Mohon maaf dan terima kasih.”
Seperti itu, Kemenag menutup tugas panjangnya. Dengan angka, dengan doa, dengan senyum jemaah yang akan selalu menjadi kenangan. (ISS)