Uap Tak Terlihat di Negeri Bensin, dari Diskusi AJV tentang Racun yang Menguap dari SPBU
INVENTIF — Di negeri yang mobilnya terus berlari dan sepeda motornya tak pernah benar-benar tidur, bensin telah lama menjadi semacam doa sehari-hari: dituang, dibakar, lalu dilupakan.
Namun Sabtu siang di Hotel Amaris Pancoran, sekelompok orang mencoba mengingatkan bahwa di antara tetes-tetes bahan bakar itu ada sesuatu yang ikut terbang—sesuatu yang tak terlihat, tak disadari, tetapi mungkin diam-diam ikut tinggal di paru-paru manusia.
Aliansi Jurnalis Video (AJV) bidang Lingkungan Hidup menggelar diskusi publik bertajuk “Uap Beracun Berbahaya (VOCs) di POM Bensin (SPBU), Bagaimana Solusinya?”. Tema yang terdengar ilmiah, tetapi sebenarnya sangat sederhana: mengapa udara di sekitar pompa bensin kadang terasa lebih berat dari sekadar bau bahan bakar?
Ketua AJV, Chandra, membuka diskusi dengan nada optimistis—atau mungkin setengah berharap bahwa percakapan kali ini tidak sekadar menjadi ritual diskusi yang lahir, hidup sebentar, lalu menguap seperti bensin itu sendiri.
“Ini sudah dua kali kami lakukan sebelumnya, dan semoga diskusi ketiga ini berjalan lancar. Kami berharap isu ini bisa menghasilkan solusi agar masyarakat tidak ragu lagi datang ke SPBU,” katanya.
Harapan itu terdengar wajar. Sebab selama ini, masyarakat datang ke SPBU membawa kendaraan, bukan masker gas.Karena itu Chandra juga berharap hasil diskusi ini bisa menjadi semacam bisikan halus bagi pemerintah: bahwa udara yang kita hirup di sekitar pompa bensin mungkin layak diperlakukan sedikit lebih serius.
Di forum itu, Brigitta Manohara menjelaskan sebuah ironi kecil yang mungkin cukup mahal: uap bensin yang selama ini hilang ke udara sebenarnya bukan hanya soal polusi, tetapi juga soal uang.
“Jika dihitung, kerugian akibat uap bensin yang terlepas bisa mencapai sekitar Rp3,8 triliun per tahun. Jika ditangkap kembali, selain mengurangi pencemaran juga bisa mengembalikan nilai ekonominya,” ujarnya.

Bayangkan saja—uang triliunan rupiah terbang setiap tahun. Tidak lewat korupsi, tidak lewat pencurian, tetapi lewat penguapan.
Di situlah teknologi Vapor Recovery System (VRS) masuk sebagai tokoh yang agak terlambat datang ke cerita. Menurut Baidi, ahli pemasangan alat tersebut, VRS mampu menangkap kembali uap Volatile Organic Compounds (VOCs) yang muncul saat pengisian dan penyimpanan bahan bakar di SPBU.
Mesin itu bekerja dengan cara yang hampir terdengar seperti alkimia modern: uap bensin yang menguap ditangkap, disuling, didinginkan, lalu perlahan kembali menjadi bahan bakar.
“Prosesnya sekitar 30 menit sampai satu jam sampai menjadi bahan bakar kembali. Dari mesin awal, alat ini mampu menangkap sekitar 75–80 persen uap VOC,” jelas Baidi.
Dalam angka yang lebih sederhana, penguapan bahan bakar biasanya menyebabkan kehilangan sekitar 0,12 hingga 0,2 persen—sekitar 12 liter. Tidak besar, tapi juga tidak kecil jika dikalikan ribuan SPBU dan bertahun-tahun waktu.
Sayangnya, teknologi yang tampak menjanjikan itu baru terpasang di sekitar 20 SPBU di wilayah Jabodetabek. Padahal negeri ini memiliki ribuan pompa bensin yang setia bekerja siang malam.
Mungkin karena mesin itu masih harus datang dari Korea Selatan dengan harga sekitar Rp600 juta per unit—angka yang cukup untuk membuat sebagian pengelola SPBU menghela napas panjang sebelum memutuskan membeli.
Baidi juga mengingatkan bahwa mesin secanggih apa pun tetap membutuhkan satu hal yang sederhana: tangki yang tidak bocor.
“Jika ada kebocoran di bagian main hole tangki pendam, mesin tidak bisa bekerja optimal menangkap uap,” katanya.
Sementara masyarakat, tanpa sadar, sebenarnya sudah mengenal tanda-tanda keberadaan uap itu: bau bensin yang tajam, kepala yang tiba-tiba terasa ringan, atau perut yang sedikit mual setelah terlalu lama berada di sekitar pompa.
Dalam diskusi yang sama, Dr. Angga Wira dari Satuan Pengawas SKK Migas yang juga Staf Khusus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan bahwa masalah ini bukan sekadar bau tidak sedap.
Beberapa komponen VOC, katanya, memiliki reputasi ilmiah yang cukup menyeramkan.
Benzena dikenal bersifat karsinogen. Etilbenzena berpotensi karsinogen. Toluena dapat memicu gangguan saraf. Xilena bersifat iritan. Sementara n-hexana dikenal sebagai neurotoksin.
Daftar yang terdengar seperti nama-nama karakter dalam novel kimia, tetapi sesungguhnya adalah zat yang mungkin ikut terhirup oleh pekerja SPBU dan pengendara setiap hari. Angga menyebut pemerintah membuka peluang untuk membahas teknologi pengendalian uap ini lebih jauh melalui forum lanjutan.
“Kementerian ESDM akan memfasilitasi diskusi lebih lanjut dengan Direktur Teknik Lingkungan untuk membahas apakah teknologi ini bisa menjadi bagian dari standar atau persyaratan perizinan SPBU,” ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa pengelola SPBU tidak hidup dari udara—bersih atau tercemar. Margin usaha mereka semakin tipis, sementara satu mesin VRS bisa memakan biaya sekitar Rp600 juta, atau hampir 10 persen dari total investasi SPBU.
Karena itu, pemerintah juga mendorong kemungkinan produksi teknologi serupa di dalam negeri agar biayanya lebih terjangkau.
Diskusi itu pun ditutup dengan sebuah harapan yang terdengar sederhana: menjadikan SPBU lebih ramah lingkungan, lebih “hijau”, dan lebih aman bagi pekerja maupun masyarakat.
Sebab di negeri yang begitu mencintai kendaraan bermotor, mungkin sudah waktunya kita juga mulai sedikit mencintai udara yang kita hirup—sebelum semuanya benar-benar habis menguap.