Ramadhan Penuh Cinta, Saat Doa Anak Yatim dan Hajat Dewan Adat BAMUS Betawi Menyatu

0

INVENTIF – Rabu (18/3) sore, langit mulai meredup perlahan. Angin sepoi berembus di halaman Balai Budaya Condet, Jakarta Timur membawa aroma khas Ramadhan, perpaduan antara harapan, kebersamaan, dan kepedulian.

Di tempat inilah, ratusan anak yatim duduk rapi, menanti sebuah momen yang bukan sekadar berbuka puasa, tetapi juga merasakan hangatnya perhatian saat Dewan Adat BAMUS Betawi kembali menggelar kegiatan tahunan bertajuk “Ramadhan Penuh Cinta ke-15”.

500 anak yatim piatu hadir, datang dari berbagai penjuru Jakarta, mayoritas dari Jakarta Timur, namun juga dari Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Mereka menjadi pusat dari sebuah perayaan sederhana yang sarat makna.

Di antara kerumunan, tokoh-tokoh Betawi, ulama, dan penggiat seni budaya tampak berbaur tanpa sekat. Suasana terasa akrab, seolah menegaskan bahwa Ramadan memang selalu punya cara untuk mendekatkan yang jauh, dan menghangatkan yang lama tak bersua.

Di kesempatan ini, Ketua Umum Dewan Adat BAMUS Betawi, Muhammad Rifqi menyebut, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan panggilan hati yang terus dijaga.

“Ini sudah jadi tradisi kami. Setiap Ramadan, kami ingin hadir, berbagi, dan memastikan anak-anak yatim ini merasakan kebahagiaan,” ujar pria yang akrab disapa Ekki Pitung ini.

Di balik kesederhanaan acara ini, tersimpan kerja kolektif yang tidak kecil. Santunan yang diberikan, mulai dari paket sembako hingga bantuan lainnya, merupakan hasil gotong royong banyak pihak seperti tokoh masyarakat, lembaga, hingga para dermawan yang memilih tetap berada di balik layar. Namun lebih dari itu, ada hal lain yang ingin dihadirkan: doa.

Dan di tengah dinamika dunia yang tak menentu, Dewan Adat BAMUS Betawi juga menjadikan momen ini sebagai hajatan sekaligus ruang spiritual untuk mengetuk langit.

Doa-doa anak yatim diyakini memiliki kekuatan, menjadi harapan bagi bangsa yang tengah menghadapi berbagai tantangan.

“Kami ingin Ramadhan ini juga jadi momentum mendoakan Indonesia. Supaya bangsa ini tetap aman, tidak terpecah, dan kuat menghadapi tantangan global,” kata Ekki.

Di sisi lain, kehadiran para tokoh adat dan sentuhan budaya menjadi pengingat bahwa di tengah laju Jakarta sebagai kota global, ada identitas yang tak boleh hilang.

Dan Dewan Adat BAMUS Betawi menyadari betul hal itu. Baginya, menjaga budaya Betawi bukan hanya soal melestarikan tradisi, tetapi juga menjaga jati diri di masa depan.

“Jakarta ini sedang bergerak jadi kota global. Tapi jangan sampai budaya aslinya justru hilang. Betawi harus tetap hidup, bukan hanya hari ini, tapi untuk generasi ke depan,” tegasnya.

Ia pun berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, agar budaya Betawi mendapatkan ruang yang kuat, sebagaimana daerah lain yang memiliki kekhususan. (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.