Vonny Sumlang: Menyulam Nada Lama di Zaman yang Baru

0

INVENTIF  — Waktu boleh saja berlari, meninggalkan jejak-jejak kenangan di piringan kaset dan panggung-panggung lampau.

Namun suara itu—suara yang pernah melambung lewat lagu “Ratu Sejagad”—tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi sejenak, menunggu momen yang tepat untuk kembali menyapa.

Nama Vonny Sumlang mungkin tak asing bagi penikmat musik era 90-an hingga awal 2000-an. Ia bukan sekadar penyanyi; ia adalah perjalanan panjang tentang keberanian menolak dikotakkan oleh zaman.

Kini, di tengah riuh industri musik digital, Vonny kembali menata langkah. Dalam sebuah perbincangan hangat, ia mengungkapkan rencananya menghidupkan kembali karya-karya lama yang sempat tertunda, seperti membuka lembar buku yang lama terlipat.

“Sebetulnya album itu sudah dibuat sejak 2016,” tuturnya pelan, seperti mengingat masa lalu yang belum selesai. “Ada beberapa lagu yang sudah punya video klip, seperti Ratu Sejagad dan Terlalu Mencintaimu. Tapi masih ada lagu-lagu yang belum sempat divisualkan.” jelas penyanyi yang masih nampak cantik dan enerjik dimasa senjanya.

Salah satunya adalah lagu berjudul Maafkan—sebuah nomor slow yang, menurutnya, bukan sekadar lagu cinta biasa. Ia adalah percakapan sunyi antara manusia dan Tuhan. Sebuah permintaan maaf yang lirih, namun dalam.

Vonny berencana menghadirkan dua karya sekaligus: satu dengan tempo cepat yang lebih segar, dan satu lagi balada yang menyentuh ruang paling sunyi dalam hati. “Doakan saja,” katanya, “kalau sudah jadi, saya ingin bertemu lagi dengan teman-teman jurnalis.”

Perjalanan Vonny Sumlang bukanlah kisah yang lurus dan sederhana. Ia pernah berdiri di banyak panggung, baik di dalam negeri maupun mancanegara, membawa warna musik yang tak tunggal. Pop, dangdut, hingga qasidah—semua ia jalani seperti seorang penjelajah rasa.

“Orang sering mengotakkan saya,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Padahal saya ini seperti restoran dengan banyak menu,”  tandasnya seraya menebar senyum manisnya.

Dari festival ke festival, dari panggung lokal hingga internasional—termasuk sejumlah penampilan di Eropa yang membawanya bersentuhan dengan konsep “festival” dalam arti sebenarnya: pesta musik, perayaan kebebasan berekspresi. Ia tumbuh bukan sebagai penyanyi satu genre, melainkan sebagai perupa suara yang cair.

Album-album yang pernah ia rilis—meski sebagian kini hanya hidup dalam ingatan kolektor dan penggemar setia—menjadi bukti perjalanan panjang itu. Mini album yang ia garap pada 2016, misalnya, memuat sekitar delapan lagu, namun baru sebagian kecil yang sempat diproduksi dalam bentuk video klip.

Sisanya? Masih menunggu waktu.

Di era ketika algoritma menentukan selera, Vonny memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Ia bahkan membuka kemungkinan untuk mendistribusikan karya barunya melalui platform digital seperti YouTube, sekaligus menjajaki peluang tampil di berbagai program musik modern.
Ia juga sempat membagikan karyanya kepada sejumlah pelaku industri, dan respons yang diterima cukup hangat.

“Mereka bilang suka,” ujarnya singkat, namun cukup untuk menyiratkan harapan.

Di balik semua itu, ada satu nama yang turut memberi warna dalam proses kreatifnya: John Will, sosok di balik aransemen lagu-lagu barunya. Bersama, mereka meracik ulang rasa—mengawinkan nuansa lama dengan sentuhan kekinian.

Vonny Sumlang lahir di LembeanManadoSulawesi Utara, 19 April 1961. Ia adalah seorang penyanyi Indonesia yang populer di tahun 1980-an. Selain penyanyi dan producer Exsekutif ia juga dikenal sebagai lead vokal kelompok band Bhaskara.

Vonny Sumlang hari ini adalah potret tentang keteguhan. Tentang seorang penyanyi yang tak pernah benar-benar selesai dengan karyanya sendiri. Ia tidak mengejar tren, melainkan merawat suara—seperti merawat kenangan yang enggan usang.

Dan mungkin, ketika Maafkan akhirnya menemukan bentuk visualnya, kita akan kembali diingatkan: bahwa musik bukan sekadar bunyi, melainkan perjalanan pulang—ke hati yang pernah kita tinggalkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.