“Negara yang Dituduh Sebelum Bertindak”

0

INVENTIF – Di sebuah zaman ketika kabar tak lagi berjalan, melainkan berlari tanpa arah, kebenaran justru tertatih di belakangnya—membawa napas yang tersengal dan wajah yang kerap diabaikan.

Di sanalah kisah ini bermula: bukan tentang uang kas masjid, melainkan tentang betapa mudahnya kecurigaan dilahirkan, bahkan sebelum peristiwa itu sendiri ada.

Nama Kementerian Agama Republik Indonesia kembali dipanggil ke panggung, bukan untuk meresmikan kebijakan, tetapi untuk membantah sesuatu yang tak pernah mereka rancang. Lewat suara Thobib Al Asyhar, negara mencoba menjelaskan bahwa ia tidak sedang mengintip kotak amal, apalagi berniat menggenggamnya.

Namun, seperti biasa, publik lebih dulu jatuh cinta pada kabar yang dramatis. Sebuah gambar Nasaruddin Umar dipoles dengan narasi yang tak pernah lahir dari mulutnya. Kalimat ditempelkan seperti stempel kebenaran, padahal ia hanya ilusi yang dirangkai oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Di titik ini, realitas tak lagi penting—yang penting adalah seberapa cepat ia bisa menyebar.

Satirnya, negara harus membantah niat yang bahkan belum sempat ia pikirkan.
Thobib menyebutnya disinformasi—kata yang kini terasa terlalu halus untuk sebuah kebohongan yang dirancang dengan sadar. Sebab ini bukan sekadar salah paham, melainkan produksi kegaduhan yang seolah menjadi industri baru: murah, cepat, dan laku keras.

Padahal di balik semua itu, kehidupan masjid berjalan seperti biasa. Kas tetap berada di tangan Dewan Kemakmuran Masjid—sunyi, sederhana, dan jauh dari sorotan viral. Mereka bekerja tanpa tagar, tanpa sensasi, tanpa kebutuhan untuk membuktikan apa pun kepada algoritma.

Namun di luar pagar masjid, dunia telah berubah. Kebenaran tak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh frekuensi kemunculannya di layar.

Imbauan pun kembali dilontarkan: periksa, verifikasi, jangan mudah percaya. Tapi nasihat ini terdengar seperti rekaman lama yang diputar ulang—didengar, lalu dilupakan. Sebab di era ini, percaya adalah soal refleks, bukan hasil berpikir.

Maka yang tersisa hanyalah ironi: negara yang belum berbuat apa-apa sudah lebih dulu dituduh, sementara kebohongan yang jelas-jelas dibuat justru dirayakan sebagai kemungkinan.

Dan kita, lagi-lagi, berdiri di persimpangan yang sama—antara akal yang seharusnya bekerja, dan jempol yang tak sabar menekan tombol “bagikan.” (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.