Hadiah di Ujung Muktamar, Prabowo Pulang Membawa Kartu Anggota NU Seumur Hidup

0

INVENTIF — Di penghujung Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Presiden ke-8 Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima sebuah tanda yang tak dibungkus pita, melainkan disematkan sebagai ikatan khidmah: Kartu Anggota NU seumur hidup.

Penutupan Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026), menjadi momen istimewa ketika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerahkan kartu keanggotaan seumur hidup kepada Prabowo sebagai bentuk penghormatan dari jam’iyah.

Di hadapan para kiai, masyayikh, mustasyar, pengasuh pesantren, pimpinan badan otonom NU, dan ribuan muktamirin, Prabowo mengungkapkan bahwa kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga menepati janji.

“Saya datang karena janji. Janji harus dipegang,” ujar Prabowo, seraya mengisahkan bahwa beberapa hari sebelumnya ia menerima kabar dari Gus Yahya Cholil Staquf bahwa kartu anggota NU telah selesai disiapkan.

Bagi NU, kartu itu bukan sekadar identitas organisasi. Ia adalah simbol kedekatan, pengakuan, sekaligus amanah moral. Sebab dalam tradisi Nahdliyin, kehormatan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia yang dihuni lebih dari 300 juta jiwa hanya dapat dipimpin dengan semangat gotong royong. Ia menyebut NU memiliki posisi strategis sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar yang berkepentingan mengangkat kesejahteraan umatnya.

“NU sangat berkepentingan agar warganya bisa meraih tingkat hidup yang layak,” kata Prabowo.

Presiden juga menjanjikan keberpihakan negara kepada rakyat kecil, termasuk melalui skema pinjaman lunak agar warga tidak terus bergantung pada tengkulak dan jerat ekonomi yang mencekik.

Ia turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Muktamar ke-35 yang berlangsung damai dan penuh musyawarah. Menurutnya, NU menunjukkan teladan bahwa organisasi dengan jutaan anggota, ribuan pesantren, dan puluhan ribu kiai mampu menyelesaikan suksesi kepemimpinan secara rukun.

Penutupan muktamar pun dilakukan langsung oleh Presiden dengan pernyataan resmi bahwa rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah berakhir.

“Wa’tashimû bihablillâhi jamî’an wa lâ tafarraqû”—berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran: 103). Ayat itu seakan menemukan gema di Tambakberas: muktamar ditutup bukan hanya dengan palu sidang, tetapi juga dengan peneguhan ikhtiar merawat persaudaraan antara ulama, umat, dan negara dalam bingkai khidmah untuk Indonesia. (NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.