34 Tahun Sea World Ancol: Merayakan Laut di Balik Kaca, Sementara Laut Asli Terus Menunggu Diselamatkan

INVENTIF — Ada ikan yang berenang dengan tenang, ada hiu yang melintas gagah, ada anak-anak yang terpukau di balik kaca, dan ada manusia yang sibuk merayakan ulang tahun.

Selamat datang di Sea World Ancol, yang pada 2 Oktober 2026 genap berusia 34 tahun.

Tiga puluh empat tahun tentu bukan usia yang sebentar. Kalau manusia, mungkin sudah mulai rajin membicarakan kesehatan, masa depan, dan pensiun. Kalau akuarium, pertanyaannya sedikit berbeda: sudah sejauh mana kita benar-benar mengenal laut yang dipamerkan itu?

Mengusung tema “Menginspirasi dan Menghidupkan Laut”, Sea World Ancol merayakan HUT ke-34 dengan seremoni sederhana bersama jajaran Direksi dan Manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, anak yatim dan dhuafa, serta anak difabel dari lingkungan sekitar.

Ada potong tumpeng. Ada kue berbentuk ikan yang tampil di bawah air. Ada spanduk raksasa. Ada Sharky, maskot yang barangkali lebih ramah daripada sebagian manusia. Ada pula doorprize yang membuat ulang tahun terasa seperti pesta keluarga.
Semua berlangsung meriah, tetapi tetap sederhana.

Dan memang begitulah seharusnya ulang tahun sebuah tempat yang menjadikan laut sebagai bagian dari cerita: tidak hanya merayakan umur, tetapi juga mengingatkan manusia bahwa laut bukan sekadar latar belakang foto liburan.

Sebab laut Indonesia terlalu indah untuk hanya menjadi dekorasi. Ia adalah rumah bagi jutaan biota, sumber kehidupan masyarakat pesisir, ruang ekonomi, jalur pelayaran, sekaligus benteng ekologis yang sering kali baru kita ingat setelah rusak.
Laut yang indah di balik kaca
Sea World Ancol selama puluhan tahun telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kehidupan bawah laut dari jarak yang aman.

Anak-anak bisa melihat ikan tanpa harus menyelam. Orang tua bisa memperkenalkan biota laut tanpa harus menyewa kapal. Hiu bisa berenang tanpa harus membuat pengunjung panik.

Ironisnya, mungkin justru karena itulah akuarium semacam ini penting.
Sebab tidak semua orang memiliki kesempatan melihat laut dari dekat. Tetapi setelah melihat ikan berenang di balik kaca, semestinya muncul pertanyaan yang lebih besar:

Bagaimana nasib ikan-ikan itu ketika berada di laut sungguhan? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena laut Indonesia tidak selalu seindah yang terlihat di ruang pamer. Di luar sana ada sampah plastik yang hanyut, terumbu karang yang rusak, pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, hingga praktik penangkapan ikan ilegal yang menggerus kekayaan laut.

Di satu tempat manusia merayakan ikan dengan kue ulang tahun. Di tempat lain, ikan sungguhan mungkin sedang berjuang mencari rumah karena habitatnya terus terdesak. Inilah bagian yang mungkin tidak terlihat dari balik kaca akuarium.

Audio Guide Pinalle dan Manusia yang Akhirnya Mau Mendengar
Dalam rangkaian HUT ke-34, Sea World Ancol juga memperkenalkan Audio Guide Pinalle. Teknologi ini memungkinkan pengunjung mendapatkan informasi mengenai koleksi biota air sekaligus panduan rute melalui audio yang dapat diakses menggunakan perangkat masing-masing.

Pengunjung cukup memindai QR code tanpa perlu mengunduh aplikasi. Praktis. Modern. Dan yang paling menarik: manusia akhirnya punya alat untuk mendengarkan laut. Tentu saja, laut tidak benar-benar bisa berbicara dengan bahasa manusia.
Tetapi kalau boleh berimajinasi, mungkin setelah 34 tahun ia ingin mengatakan:“Jangan cuma dengarkan saya di akuarium. Dengarkan juga keluhan saya di laut.”

Sebab teknologi akan menjadi menarik kalau tidak berhenti sebagai fitur wisata.
Audio Guide akan jauh lebih bermakna jika informasi tentang biota laut juga mendorong pengunjung memahami ancaman yang dihadapi ekosistemnya: pencemaran, perubahan iklim, kerusakan terumbu karang, sampah plastik, penangkapan ikan ilegal, hingga perdagangan satwa laut yang tidak bertanggung jawab. Dengan begitu, QR code bukan cuma pintu menuju informasi. Ia bisa menjadi pintu menuju kesadaran.

Menghidupkan Laut, Jangan Hanya m

Menghidupkan Suasana
Tema “Menginspirasi dan Menghidupkan Laut” terdengar indah. Tetapi kalimat indah selalu mempunyai pekerjaan rumah: membuktikannya.

Menghidupkan laut tidak cukup dengan membuat akuarium terlihat hidup. Tidak cukup dengan menghadirkan hiu, ikan pari, terumbu karang buatan, atau pertunjukan bawah air.

Laut yang sesungguhnya berada jauh di luar gedung. Di sana nelayan menggantungkan hidup. Di sana terumbu karang tumbuh perlahan. Di sana ikan berkembang biak. Di sana mangrove menjadi benteng pesisir. Dan di sana pula berbagai kerusakan ekologis terjadi tanpa penonton yang membayar tiket.

Maka, ulang tahun ke-34 Sea World Ancol bisa menjadi momentum yang lebih besar dari sekadar perayaan. Ia bisa menjadi pengingat bahwa konservasi bukan urusan slogan.

Kalau manusia bisa bertepuk tangan melihat ikan di balik kaca, mestinya manusia juga bersedia menjaga laut agar ikan-ikan itu tetap memiliki tempat hidup ketika kaca akuarium sudah tidak lagi menjadi rumah mereka. Sharky boleh tersenyum, laut jangan sampai menangis

Perayaan HUT ke-34 akan berlanjut pada 3–4 Oktober 2026 dengan berbagai pertunjukan spesial untuk keluarga.
Silakan bersenang-senang. Anak-anak memang berhak mendapatkan kegembiraan. Keluarga memang membutuhkan ruang rekreasi. Dan wisata edukasi memang seharusnya menyenangkan.

Namun di balik semua keceriaan itu, ada satu pesan yang sebaiknya ikut dibawa pulang: Laut bukan milik akuarium. Laut bukan milik perusahaan. Laut bukan milik pemerintah. Laut adalah ruang kehidupan yang diwariskan kepada manusia dengan tanggung jawab untuk menjaganya.

Karena itu, 34 tahun Sea World Ancol seharusnya bukan hanya menjadi perayaan tentang berapa lama manusia berhasil membuat orang tertarik pada kehidupan bawah air.

Lebih dari itu, ia bisa menjadi perayaan tentang seberapa jauh manusia berhasil membuat dirinya peduli terhadap kehidupan bawah air. Sebab akan terasa lucu—bahkan sedikit menyedihkan—jika manusia begitu sibuk merayakan ikan yang berada di balik kaca, sementara ikan-ikan di laut bebas justru kehilangan rumahnya.

Sharky boleh tersenyum. Pengunjung boleh tertawa. Anak-anak boleh berfoto. Tetapi laut Indonesia jangan sampai hanya bisa kita cintai ketika ia sudah masuk ke dalam akuarium. (Stn)

Comments are closed.