Perang Tarif AS-China Ancam Ekonomi Global, Siapa yang Paling Terimbas?

0

INVENTIF – Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin memanas dan mencapai titik eskalasi baru.

Kedua negara ekonomi terbesar dunia itu terus saling balas menaikkan tarif impor, hingga kini tarif resiprokal antara keduanya melonjak tajam, memicu kekhawatiran pasar global.

Hingga Jumat (11/4) malam, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa seluruh produk impor asal China yang masuk ke AS kini dikenakan tarif minimum sebesar 145 persen. Kebijakan itu merupakan kelanjutan dari keputusan Presiden Donald Trump yang pada Kamis (10/4) menetapkan tarif tambahan 21 persen di atas tarif resiprokal 125 persen yang sudah berlaku sebelumnya.

Sebagai respons, pemerintah China melalui Dewan Tarif Nasional menaikkan tarif terhadap barang-barang impor asal AS dari 84 persen menjadi 125 persen. Namun, Beijing memberi sinyal bahwa itu akan menjadi batas terakhir eskalasi tarif yang diberlakukan terhadap produk asal Negeri Paman Sam.

“Pemberlakuan tarif yang sangat tinggi secara berturut-turut terhadap China oleh AS telah menjadi tidak lebih dari sekadar permainan angka, tanpa signifikansi ekonomi yang nyata,” ujar juru bicara Dewan Tarif China.

Kebijakan saling balas tarif ini dimulai sejak awal masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Hanya sepekan setelah pelantikannya pada 20 Januari 2025, Trump mengumumkan kebijakan tarif 10 persen terhadap produk China serta tarif 25 persen terhadap Kanada dan Meksiko. Namun, dua hari kemudian, pengenaan tarif ditunda.

Langkah agresif dimulai pada 10 Februari 2025 saat Trump kembali mengumumkan tarif global 25 persen atas baja dan aluminium yang berlaku mulai 12 Maret. China secara khusus dikenai tambahan 10 persen sehingga total menjadi 35 persen. Merespons langkah ini, pemerintah China membalas dengan mengenakan tarif 15 persen terhadap produk pertanian AS.

Pada 2 April, Trump meningkatkan tarif atas produk China menjadi 54 persen, dengan dalih bahwa China telah bersikap menantang terhadap kebijakan pemerintahannya. China kembali membalas pada 4 April dengan tarif tambahan 34 persen terhadap produk AS.

Lima hari kemudian, 9 April, Trump meluncurkan paket tarif resiprokal terhadap 57 negara, termasuk Indonesia. Seluruh negara dikenai tarif 32 persen, namun diberi masa tenggang 90 hari kecuali China, yang langsung dikenakan tarif tambahan hingga mencapai 125 persen. Tidak tinggal diam, China menaikkan tarifnya terhadap AS dari 84 persen menjadi 125 persen.

Eskalasi terbaru ini mengundang kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk organisasi dagang internasional dan pelaku pasar global. Analis ekonomi menyebut tarif 145 persen sebagai tarif paling tinggi dalam sejarah konflik perdagangan bilateral antara dua kekuatan ekonomi besar dunia.

“Jika ini terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, kita bukan hanya menghadapi krisis perdagangan, tetapi potensi perlambatan ekonomi global yang lebih serius,” ujar Anthony Muller, ekonom senior dari Global Economic Policy Institute (GEPI), kepada Bloomberg.

China sendiri telah mengisyaratkan keengganannya untuk terus melayani eskalasi tarif dari AS. Menurut pejabat Dewan Tarif China, Beijing lebih memilih fokus pada efisiensi dan daya saing industri dalam negeri daripada melanjutkan siklus balas dendam tarif yang dinilai kontraproduktif.

Namun hingga kini, belum ada sinyal diplomatik dari Washington maupun Beijing untuk meredakan ketegangan. Pasar global pun masih menanti bagaimana dampak lanjutan dari perang tarif ini akan mempengaruhi rantai pasok dunia dan harga komoditas utama. (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.