Cahaya Pesantren Menyala, Kemenag Umumkan Finalis Pesantren Award 2025
INVENTIF – Di balik tembok pesantren yang teduh, lahir gagasan dan karya yang kini menembus panggung nasional.
Kementerian Agama hari ini mengumumkan para finalis Pesantren Award 2025, sebuah penghargaan yang merekam denyut inovasi, dedikasi, dan perjuangan para santri serta para pemimpin daerah yang setia mendukung ekosistem pesantren.
Direktur Pesantren, Basnang Said, menyebut para finalis ini sebagai wajah terbaik pesantren Indonesia.
“Mereka bukan sekadar nama di atas kertas. Mereka adalah nyala api semangat, yang telah menyalakan obor ilmu dan pengabdian bagi masyarakat. Dari sekian banyak, terpilihlah mereka yang akan berjuang menuju tiga besar. Perjalanan belum selesai, karena wawancara mendalam masih menanti sebelum ditetapkan pemenang,” ujarnya penuh makna.
Sementara Ketua Dewan Juri, Alissa Wahid, menegaskan bahwa proses penilaian dijalankan dengan jernih dan adil.
“Kami melihat dari kepemimpinan, inovasi, dampak sosial, hingga jejak pengabdian. Tidak ada ruang bagi basa-basi, karena yang terpilih adalah yang benar-benar memberi cahaya bagi lingkungannya,” katanya.
Nama-Nama yang Menyemai Inspirasi
Kategori Kepala Daerah
Dari Sumatera hingga ujung Aceh, dari Jawa hingga Kalimantan, nama-nama pemimpin muncul sebagai finalis.
- H. Herman Deru – Gubernur Sumatera Selatan
- Mahyeldi, SP – Gubernur Sumatera Barat
- Hj. Khofifah Indar Parawansa – Gubernur Jawa Timur
- Ahmad Luthfi – Gubernur Jawa Tengah
- H. Muhidin – Gubernur Kalimantan Selatan
- Muzakir Manaf – Gubernur Aceh
Tak ketinggalan, para bupati dan wali kota yang tangannya tak hanya memegang pena kebijakan, tetapi juga menggandeng tangan para santri di wilayahnya:
- M. Fathul Fauzy Nurdin – Bupati Bantaeng
- Robby Hernawan – Wali Kota Salatiga
- Dony Ahmad Munir – Bupati Sumedang
- Amar Nurmansyah – Bupati Sumbawa Barat
- Grengseng Pamuji – Bupati Magelang
- Dyah Kartika Permanasari – Bupati Kendal
- Vinanda Prameswati – Wali Kota Kediri
Kategori Santri Inspiratif
Laksana bintang yang bertebaran di langit malam, sepuluh nama santri inspiratif dipanggil ke panggung cahaya:
- Nabila Saphira, santri muda dari Harau yang menyalakan obor ilmu.
- Tsuroyyah Hamidah, dari Sunan Drajat, Lamongan, dengan dedikasi yang teguh.
- Mifta Yoga Fahreza, putra IMBOS Pringsewu yang membawa mimpi besar.
- Ahmad Faqieh Shakier, suara dari Parepare yang menggema hingga jauh.
- Muhammad Aidil Fitrah Lubis, santri Al-Azhar Asy Syarif, Sumatera Utara.
- Khoirul Adib, pemuda Tuban dengan prestasi internasional.
- Nisa Fitriyani, cahaya dari Nurul Yaqin Batipuh Ateh.
- Revan Kurnia Aditya, santri Tasikmalaya yang menautkan MTQ dengan inovasi kesehatan.
- Qotrotun Nadia, wajah pesantren Yogyakarta yang penuh daya cipta.
- Fitria Raudhatul Jannah, delegasi muda yang membawa harum nama Indonesia di MQK Internasional.
Di balik daftar nama itu, ada kisah-kisah panjang: tentang kitab yang dihafal di kala lampu temaram, tentang mimpi-mimpi yang lahir dari bilik sederhana, tentang doa yang tak pernah putus.
Basnang Said menutup pengumuman dengan harapan:
“Semoga penghargaan ini menjadi suluh, bukan hanya untuk mereka yang terpilih, tapi bagi seluruh pesantren di Indonesia. Agar terus berinovasi, agar cahaya mereka menjangkau lebih luas, hingga pelosok negeri.”
Dan malam ini, cahaya pesantren itu kian menyala, menandai perjalanan panjang menuju Pesantren Award 2025. (ISS)