Wamenpar Cek Geopark Maros-Pangkep, Antara Warisan Dunia dan Warisan Janji

0

 

INVENTIF – Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meninjau Geopark Maros-Pangkep, memastikan segala sesuatu siap menjelang revalidasi status Global Geopark UNESCO pada Juli 2026.

Bedanya, kali ini bukan hanya batu dan fosil purba yang diuji, tapi juga konsistensi pemerintah dalam merawat “warisan dunia” yang lebih tua dari jabatan menteri.

“Bu Menteri sangat concern,” ujar Wamenpar disela kunjungannya, seraya menegaskan dukungan penuh pemerintah. Kata-kata concern memang mudah diucapkan, meski masyarakat sekitar mungkin lebih concern soal akses jalan berlubang menuju situs atau harga tiket geowisata yang tak sebanding dengan gaji bulanan.

Geopark Maros-Pangkep, dengan lukisan gua prasejarah yang sudah ribuan tahun, kini kembali harus membuktikan kelayakannya di hadapan asesor UNESCO. Revalidasi dilakukan tiap empat tahun, mirip seperti siklus politik: banyak janji, sedikit realisasi, dan penuh laporan tebal dengan bahasa indah.

Wamenpar menyebut geopark ini akan berdampak pada ekonomi lokal. Benar, tentu saja. Asal jangan sampai dampaknya lebih terasa di kantong pengelola ketimbang masyarakat penjaga situs yang sehari-hari hidup dengan warisan budaya itu.

Badan Pengelola UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep pun sudah menyiapkan diri. Enam rekomendasi UNESCO dijadikan daftar pekerjaan rumah: mulai dari promosi hingga pendidikan. Seperti biasa, rekomendasi itu akan dipenuhi dengan brosur berwarna, baliho besar, dan seminar berhari-hari – sambil berharap para asesor terkesan, meski warga sekitar masih mengandalkan spanduk “Warung Kopi” untuk menarik wisatawan.

Di akhir kunjungan, Wamenpar menegaskan bahwa pemerintah siap mendukung penuh. “Kita bisa support,” ujarnya, tanpa lupa menyebut “pelatihan-pelatihan masyarakat.” Kalimat yang sudah seperti mantra, meski pelatihan kadang berakhir dengan foto dokumentasi lebih rapi daripada hasilnya.

Geopark Maros-Pangkep mungkin akan tetap berstatus “Global” di mata UNESCO. Namun, di mata warga lokal, yang lebih mendesak adalah apakah status itu bisa benar-benar mengglobalisasi kesejahteraan mereka, atau hanya menambah koleksi plakat di lobi kementerian. (NMC)


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.