“Jum’at Berkah, Antara Sedekah, Sorotan Kamera, dan Motor Listrik di Tengah Terik Jakarta”

0

 

Jakarta — Di negeri yang katanya kaya akan empati, selalu ada tokoh yang ingin membuktikan bahwa kebaikan tak harus menunggu kampanye.

Cak Rofi’i, misalnya, kembali menunjukkan kepedulian sosialnya lewat kegiatan Jum’at Berkah, Jumat (31/10). Acara yang semula sederhana — membagikan makanan — tiba-tiba berubah jadi ajang penuh wartawan, doa, dan dokumentasi.

Kegiatan itu digelar di restoran milik Cak Rofi’i, Warung Kampung Bidadari, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di sanalah ratusan paket makanan berisi ayam goreng, mie goreng, dan telur dadar dibagikan kepada masyarakat yang melintas. Sembari berkeringat di bawah matahari siang, para relawan tersenyum, sementara kamera memastikan setiap momen terekam, demi arsip kebaikan yang abadi — di media sosial.

“Saya ucapkan terima kasih kepada sahabat wartawan yang menginisiasi acara Jum’at Berkah ini,” ujar Gus Rofi’i dalam sambutannya yang disampaikan dengan ketulusan khas mereka yang sudah terbiasa disorot lampu sorot. “Bagi saya, setiap hari adalah waktu yang baik untuk bersedekah, tapi kali ini terasa istimewa karena bisa berbagi bersama wartawan dan ulama.”

Sungguh, jarang ada kolaborasi seindah ini: antara wartawan yang menulis, kiai yang mendoakan, dan tokoh yang membagikan nasi kotak — lengkap dengan logo yayasan di tutupnya.

Di sela acara,  Cak Rofi’i juga memberi kado motor listrik kepada istrinya yang berulang tahun dan anaknya yang “selalu mendukung perjuangan ayah.” Sebuah langkah simbolik yang mengajarkan kita: berbagi memang penting, tapi jangan lupa keluarga, terutama kalau bisa disertai launching kecil-kecilan.

Didi, penggagas kegiatan itu, berharap Jum’at Berkah bisa jadi gerakan nasional. “Saya ingin menggandeng siapa saja — wartawan, artis, pengusaha, dan tokoh agama — untuk ikut berbagi tiap pekan,” ujarnya, sambil memastikan sudut foto terbaik sudah diambil.

Mungkin benar, di zaman ini kebaikan memang harus punya branding. Sedekah harus punya narasi, dan amal sosial sebaiknya punya angle. Di negeri yang lapar akan inspirasi — dan juga nasi bungkus — kegiatan seperti ini penting, bukan hanya untuk memberi makan yang lapar, tapi juga memberi konten bagi yang kehausan eksposur.

Kalau terus begini, bukan tak mungkin Jum’at Berkah berikutnya akan disponsori. Karena, siapa tahu, di balik setiap nasi kotak, ada peluang emas untuk mencetak nama dalam sejarah — atau minimal, trending di linimasa.(NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.