Kemenag Ajak Jaga Alam Lewat Tafsir, Sementara Alam Sibuk Menjaga Diri dari Manusia

0

 

INVENTIF — Di tengah hutan yang terus digunduli, sungai yang berubah warna seperti cat air, dan udara yang lebih sering berbau asap ketimbang oksigen, Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi: Membangun Kesadaran Ekoteologis Berbasis Al-Qur’an.

Peluncuran dilakukan dengan khidmat di Gedung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI), Taman Mini Indonesia Indah (TMII) — sebuah lokasi yang ironisnya dulu dibangun dengan menata ulang alam juga.

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pidatonya menegaskan bahwa alam adalah ayat Allah yang harus dijaga kesuciannya. “Menebang pohon, menyembelih hewan, atau mengolah bumi harus dilakukan atas nama Allah, bukan dengan keserakahan manusia,” ujarnya, disambut tepuk tangan — bukan dari pepohonan, tapi dari pejabat yang hadir. Berjas dan berkopiah.

Dalam tafsirnya, manusia disebut khalifah dan hamba. Sebagai khalifah, manusia berhak mengatur bumi; sebagai hamba, ia wajib menjaga. Namun dalam praktiknya, manusia tampak lebih mahir menafsirkan kata “mengatur” ketimbang “menjaga”.

Menag mengibaratkan peluncuran buku ini sebagai “lahirnya bayi kecil”. Banyak yang berharap bayi itu tidak tumbuh di hutan yang sudah jadi perumahan, atau di lahan gambut yang sedang dibakar untuk sawit.

“Obsesi kita adalah menjadikan dunia tunduk pada gagasan besar ekoteologi dari Kemenag,” kata Menag penuh semangat. Sebuah obsesi yang mulia — meski di sisi lain, bumi tampak semakin tunduk bukan pada ekoteologi, melainkan pada ekonomi. Benarkah?

Sedangkan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM, Prof. Dr. M. Ali Ramdhani, menegaskan pentingnya kesadaran ekoteologi. “Relasi manusia dan alam bukan eksploitasi, tapi amanah,” katanya. Sejatinya itu adalah kalimat yang seharusnya dicetak di setiap dokumen izin tambang dan proyek reklamasi.

Sementara itu, laporan IPCC menyebut suhu bumi telah naik lebih dari 1,1 derajat Celsius. Hutan menyusut, cuaca kacau, laut makin panas. Tapi tak apa — bumi masih bisa tenang, karena kini ia punya tafsir baru yang membelanya… walau manusianya belum tentu membaca.

Buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi bisa diunduh gratis di situs resmi Kemenag. Semoga setelah mengunduh, pembacanya tidak langsung menyalakan AC dengan suhu 16 derajat dan membuang plastik ke sungai.

Di negeri yang gemar menulis aturan tapi pelit menaatinya, tafsir ekologi ini mungkin menjadi mukjizat kecil: mengingatkan manusia bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas aktivis — tapi juga bagian dari iman.
Sayangnya, bumi tidak punya akun e-office untuk menandatangani SK itu. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.