Legenda Kelam Malin Kundang, Ketika Trauma Menjadi Bahasa Utama Sinema

0

 

INVENTIF – Malin Kundang, melekat erat dalam alam pikiran akan hakekat sesal dan kedurhakaan. Menanggalkannya adalah sebuah keberanian dengan sejumput resiko!

Legenda Kelam Malin Kundang bukan sekadar upaya merombak kembali sebuah legenda klasik, tetapi percobaan untuk membentuk dongeng lama menjadi labirin emosional yang lebih dewasa, kelam, dan kontemporer.

Film produksi Come and See Pictures ini memilih jalur misteri-thriller, namun akar utamanya tetap tertanam pada drama psikologis tentang luka keluarga dan ingatan yang tak selesai.

Walau judulnya memancing asosiasi pada kisah rakyat, film ini tidak terjun bebas ke wilayah fantasi. Yang diolah dua sutradara, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, adalah atmosfer: suasana yang muram, ruang-ruang penuh bayangan, serta hubungan antarkarakter yang terasa rapuh tapi intens. Mereka berhasil menghindari jebakan adaptasi legenda yang terlalu literal, dengan memilih pendekatan yang lebih subtil dan modern.

Rio Dewanto tampil sebagai pusat gravitasi drama ini melalui karakter Alif, seorang pelukis yang menjalani hidup dengan pondasi emosional yang retak. Penampilan Rio sangat bergantung pada bahasa tubuh dan mikro-ekspresi, sebuah pilihan yang tepat mengingat karakter Alif memang diselimuti trauma yang tak tersusun rapi.

Namun, ada beberapa adegan yang terasa ingin terlalu “diam”, hingga ritme film sesekali kehilangan denyut. Meski begitu, komitmen Rio untuk menghadirkan kegamangan tokohnya patut diapresiasi.

Faradina Mufti, sebagai Nadine, membawa energi yang lebih stabil. Ia bermain halus, konsisten, dan tidak mencuri perhatian secara berlebihan—justru karena itu, kehadirannya terasa autentik. Namun karakter Nadine sendiri sesekali terjebak menjadi simbol “istri yang terlalu baik”, sehingga lapisan konflik internalnya tidak tereksplorasi sedalam potensi yang ada.

Vonny Anggraini dan Nova Eliza memberi warna berbeda. Vonny menghadirkan spektrum emosi luas yang membuat karakternya hidup, meski beberapa transisi emosinya terasa terlalu cepat akibat porsi pengembangan yang terbatas.

Nova, di sisi lain, mencuri perhatian lewat penampilan yang menahan banyak hal di bawah permukaan. Cara ia menunjukkan rasa sakit tanpa harus bersuara keras merupakan salah satu elemen yang memperkaya lapisan psikologis film.

Dari sisi penyutradaraan, Kevin dan Rafki berhasil mempertahankan nuansa gelap yang konsisten, namun beberapa bagian terasa masih mencari bentuk. Ada momen-momen ketika suspens ingin naik, tetapi suntingan atau penempatan musik latar justru meredam tensinya. Meski begitu, keberanian mereka untuk menjauh dari formula jump scare dan memilih pendekatan atmosferik patut dihargai.

Secara tematik, film ini kuat saat membahas trauma dan dinamika keluarga, tetapi hubungan film ini dengan “Malin Kundang” kadang terasa sekadar pengikat simbolik. Penonton yang berharap pada reinterpretasi mitos yang lebih eksplisit mungkin akan pulang dengan tanda tanya, sementara mereka yang menikmati thriller psikologis perlahan akan tenggelam dalam cengkeraman emosinya.

Legenda Kelam Malin Kundang adalah karya yang berani, berlapis, dan tidak selalu nyaman. Ia mungkin tidak sempurna, tetapi justru di ketidaksempurnaan itulah film ini menemukan karakternya: gelap, tersembunyi, dan terus bergema setelah layar meredup.

Apresiasi tulus tuk kerja dan karya para sineas. Seandainya saja film ini tidak menempel judul Malin Kundang yang membuat kening berkerut, mungkin kita akan melihat atmosper yang betul-betul lain dan berani yang tidak setengah-setengah. Tapi tulah sebuah pilihan yang tetap juga harus dihargai dan dihormati.( NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.