Sate Gagak yang Kurang Lezat
INVENTIf – Film Sate Gagak, karya terbaru duet Etienne Caesar dan Dono Pradana, mencoba menjadi hidangan yang berani — mencampur komedi kelas pekerja, satire sosial, dan horor mistis dalam satu piring.
Namun, sebagaimana sate yang gosong di ujung bara, film ini sesekali terlalu panas untuk dinikmati, tapi tetap menyisakan rasa yang tak mudah dilupakan. Ramuan konyol ini memang kurang asyik dinikmati. Beberapa catan itu adalah ;
Cerita yang Tak Selalu Tegas
Premisnya sederhana saja tiga pria miskin mencari rezeki lewat jalan mistik, dengan menjual sate gagak kepada makhluk halus yang membayar dengan uang gaib. Ide ini biasa saja, kritik terhadap masyarakat yang haus kaya instan di tengah tekanan ekonomi. Begitu maunya. Tapi ya begitu- begitu saja.
Film ini kerap tersandung dalam ritme dan fokus narasi. Babak pertama menampilkan kegetiran hidup kelas bawah. Tapi ketika masuk ke bagian supernatural, tone cerita terasa goyah — antara ingin lucu, seram, atau moralistik, film seperti kehilangan pijakan. Tidak jelas..!
Ada ambisi untuk mengingatkan penonton soal harga dari keserakahan, tapi pesan moral itu kadang terjebak dalam guyonan yang menutupi tragedinya. Aneh memang film ini. Gak jelas maunya apa!
Ekting Pemain Tak Didukung Ritme yang Konsisten
Ardit Erwandha mencoba tampil impresif sebagai Anto — wajah lugu yang menyimpan keputusasaan. Ia membawa karakter ini dengan kesederhanaan dan kejujuran khas rakyat kecil. Sayang, kerja kerasnya kurang berhasil dan gak layak diacungi jempol. Dua rekannya, Yono Bakrie dan Benidictus Siregar, tidak selalu seimbang dalam komedi maupun emosi. Beberapa dialog terasa seperti sketsa YouTube yang dipanjang-panjangkan. Tapi harus dihargai usaha keduanya tuk melucu meski …, ya kurang lucu!
Kehadiran Nunung, Arief Didu, dan Ence Bagus diharapkan bisa menyelamatkan momen-momen hening film ini dengan improvisasi segar dan kehadiran karismatik yang mencoba menambah lapisan humor tanpa kehilangan makna. Tapi lagi- lagi maunya doang dan kurang hasil. Apalagi ekting Ence bagus yang bingung juga menilainya. Ekting apa ekting?
Visual dan Atmosfer Mistis yang Kurang Menggigit dan Aneh
Secara visual, Etienne Caesar patut diapresiasi atas keberaniannya memadukan dunia gaib dengan romansa rakyat jelata. Cahaya remang, kabut tipis, dan warteg yang berantakan terasa sangat ‘adanya apa’ dan bukan ‘apa adanya’. Ketika seharusnya adegan horor menimbulkan rasa ngeri, film justru kehilangan ketegangan karena efek visual yang kurang detail serta terlalu teatrikal dan kurang subtil. Nampaknya mereka kurang memahami dunia mistis yang sebenarnya dan tidak lebih dari’ apa adanya’.
Beberapa adegan makhluk gaib tampak lebih seperti karikatur ketimbang ancaman eksistensial. Hiiiii…gak serem!!!
Kritik Sosial yang Mencoba Menyengat Tapi Tak Sampai ke Jantung, Jadi Ya Begitu deeh.
Sate Gagak seolah punya misi: menyoroti mental jalan pintas masyarakat urban, sindiran terhadap utang pinjol, tekanan ekonomi, dan budaya gengsi. Tapi sayangnya, kritik itu tak pernah benar-benar ditajamkan. Ia berhenti di permukaan — di antara tawa, jeritan, dan ritual absurd — tanpa memberi refleksi yang mengguncang.
Padahal, jika saja film ini berani sedikit lebih muram, sedikit lebih berani membongkar hipokrisi sosial dan politik uang, ia bisa menjadi satire gelap terbaik tahun ini. Sayang duet penulis dan sutradara terlalu penakut untuk melakukan itu.
Mencoba Lezat, Tapi Malah Pahit di Ujung Lidah
Sate Gagak adalah film yang seolah berani dan orisinal, namun juga takut dengan dirinya sendiri. Ia ingin menakutkan, tapi juga ingin lucu; ingin menggugat keserakahan, tapi tak berani menatap realitas keras yang sebenarnya. Boleh dibilang, para penakut kumpul di film ini.
Namun, di tengah industri film lokal yang sering bermain aman, kerja kreatif ini layak diacungi jempol. Setidaknya, Sate Gagak mencoba memberi aroma lezat bagi sinema Indonesia — sekaligus peringatan pahit: bahwa di balik setiap “keajaiban instan”, selalu ada bayaran yang tak bisa dihitung dengan uang. Tapi makna film ini pagang jauh dari api, alias Gatot, atawa gagal total.
Tapi tontonlah film ini, bukan karena film ini keren banget, melainkan demi sinema nasional kita (NMC)