Burung-Burung Rayakan Ulang Tahun Sendiri: Jakarta Bird Land Tiga Tahun, Langit Jakarta Masih Butuh Cinta
INVENTIF — Dalam kota yang langitnya lebih sering kelabu daripada biru, sekelompok burung di Jakarta Bird Land Ancol memutuskan untuk tetap bersyukur.
Ya, mereka baru saja merayakan ulang tahun ke-3 dengan gaya yang, tentu saja, lebih beradab dari sebagian pesta manusia: tanpa knalpot brong, tanpa sampah plastik, dan tanpa drama di Instagram.
Acara yang bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional itu dihadiri oleh 150 anak yatim, segenggam wartawan, dan tentu saja, segerombolan burung yang tampak lebih fotogenik dari pejabat yang memegang gunting pita.
Tema perayaan kali ini, “Tumbuhkan Cinta Satwa, Warnai Ceritanya”, terdengar manis — meski sebagian pengunjung mungkin masih sibuk mencari di mana letak “cinta satwa” ketika burung asli Jakarta terus kehilangan pohon untuk bertengger, tergeser oleh apartemen yang menjulang lebih tinggi dari pesawat elang.
Acara dibuka dengan dongeng edukatif bertajuk “Jaga Langit Jakarta Bersama Kawan Burung”. Sebuah cerita heroik tentang Elang, Kakatua, dan Rangkong yang bersatu menjaga langit dari polusi dan kabel listrik. Dongeng yang begitu utopis, sampai-sampai seekor burung di pojok kandang tampak tersenyum sinis — mungkin ia tahu, bahkan langitnya pun kini dikelola oleh tender proyek.
Eddy Prastiyo, Direktur Operasional PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk edukasi agar anak-anak mencintai satwa sejak dini. “Belajar mencintai satwa berarti belajar menjaga masa depan bumi,” ujarnya dengan penuh semangat. Pernyataan yang benar adanya — meski di luar pagar Ancol, burung pipit masih berjuang agar tak kehilangan atap rumah dari beton yang makin rapat.
Sebagai bentuk “apresiasi terhadap pengunjung”, Ancol juga memberikan promo Paket Bertiga — promosi yang mungkin membuat burung merpati iri, karena mereka sudah bertiga sejak dulu tanpa perlu bayar tiket masuk.
Perayaan tiga tahun ini memang jadi momen refleksi: tiga tahun menjaga burung di dalam sangkar, sementara di luar sana, habitat mereka terus menyusut. Tapi, toh, seperti kata panitia, semua ini demi edukasi, konservasi, dan… sustainability. Sebuah kata sakral yang kini bisa berarti apa saja — termasuk tiket diskon.
Akhirnya, dengan penuh haru dan kicauan, acara ditutup dengan jargon khas mereka: “Salam Lestari – Kawan Jaga Langit.”
Sebuah kalimat yang terdengar indah — apalagi jika diucapkan di antara deru kendaraan yang sedang memburu sunset di tepi Ancol. (NMC)