Lift Terpilih di FFH Edisi Ke-4, Ketika Musik Menjadi Nafas Terakhir Sebuah Film

0

INVENTIF —Festival Film Horor Edisi Ke-4 mengumumkan para pemenangnya. Film “Lift” dinobatkan sebagai film terpilih bulan Maret 2026.

Malam di sebuah sudut Pasar Minggu terasa sedikit berbeda. Di sebuah ruang hangat bernama Pictum Cafe, cerita-cerita tentang ketakutan, imajinasi, dan bunyi-bunyian yang tak selalu kasat mata bertemu dalam satu panggung diskusi.

Di sanalah Festival Film Horor (FFH) Edisi Ke-4 digelar—sebuah perayaan kecil namun penuh makna bagi para pencinta film horor yang percaya bahwa rasa takut bukan sekadar bayangan, melainkan seni yang diracik dengan cermat.

Festival ini bukan sekadar memilih film terbaik setiap bulan. Ia juga membuka ruang percakapan, tempat para sineas saling berbagi kegelisahan kreatif dan pengalaman artistik—agar film tidak hanya dibuat, tetapi juga dipahami dari kedalaman prosesnya.

Malam itu, film “Lift” terpilih sebagai film unggulan edisi Maret. Sebuah karya yang berdiri di antara sunyi lorong dan ketegangan ruang sempit, membawa penonton naik turun seperti perasaan yang terjebak di dalam kabin besi yang tak selalu ramah.

Namun percakapan malam itu tidak berhenti pada film semata. Tema yang diangkat, “Musik Horor yang Membumi: Membangun Vibes Horor Tanpa Kehadiran Setan”, mengajak para hadirin menyelami elemen yang sering kali tak terlihat, tetapi justru paling terasa—musik.

Diskusi menghadirkan Produser Adha Riantono, Produser Eksekutif Lok S. Iman, Sutradara Randy Chana, Music Director Bemby Gusti, dengan Alyne Ma’arif sebagai moderator yang merangkai percakapan seperti seorang konduktor mengatur nada. Alyne tampil cantik, cerdas, ceria dan mumpuni dalam penguasaan materi diskusi.

Dalam sejarah sinema, musik pernah menjadi nyawa yang menyelamatkan film dari kesunyian. Pada masa film bisu, nada-nada pianolah yang pertama kali memberi napas pada gambar bergerak. Sejak saat itu, film dan musik tumbuh seperti dua saudara yang tak terpisahkan.

Namun para pembicara malam itu mengingatkan: tidak semua bunyi adalah musik. Ada yang sekadar sound, gema kecil yang sengaja diletakkan untuk mengguncang psikologis penonton. Sebuah pintu berderit, langkah samar di lorong kosong, atau denting halus yang membuat bulu kuduk berdiri—semua memiliki perannya sendiri dalam membangun rasa takut.

Bagi Lok S. Iman, sebagai produser, kebebasan kreatif adalah napas bagi para pembuat film. Ia memilih tidak terlalu mencampuri urusan musik maupun sound dalam karya yang ia dukung.

“Aku percaya pada mereka. Biarkan mereka menentukan sendiri musiknya,” ujarnya singkat, seolah menyerahkan kompas artistik kepada para kreator yang lebih memahami arah cerita.

Sementara Bemby Gusti melihat musik sebagai alat yang mampu mengendalikan emosi penonton—mengarahkan rasa tegang, cemas, bahkan sunyi yang menggantung. Ia mengakui, sebelum sebuah nada diputuskan masuk ke dalam adegan, sering terjadi perdebatan panjang antara dirinya dan sutradara.

Karena pada akhirnya, seorang music director kadang harus mengalah pada visi sang sutradara. Bukan karena kalah, melainkan karena film adalah rumah besar bagi banyak seni yang harus berjalan seirama.

Sutradara Randy Chana pun sepakat. Baginya, memilih musik bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari jiwa cerita.

“Musik bisa membangkitkan ketegangan penonton. Karena itu perlu diskusi yang dalam antara sutradara dan music director,” katanya.

Percakapan malam itu mengalir seperti alur film yang pelan namun pasti. Setiap pembicara membawa sudut pandangnya sendiri, namun mereka bertemu pada satu kesimpulan yang sama: tanpa musik, sebuah film seolah belum benar-benar selesai bercerita.Seolah-olah musik adalah napas terakhir yang menutup kisah di layar.

Diskusi juga dihadiri artis senior Connie Constantia. Selain menelurkan banyak album musik, artis lawas yang masih eksis dan terlihat bugar ini juga pernah berkiprah dalam jagad film Indonesia yang bertajuk Tatkala Mimpi berakhir Sutradara: Wim Umboh. Ia juga bermain dalam film Kamus Cinta Sang Primadona dan Kenikmatan Tabu.

Dalam diskusi ini CC menegaskan, “Saya sangat mendukung FFH karena ini akan memperkaya dunia perfilman Indonesia. Ingat lho,  film horor banyak penggemarnya di Indonesia sejak dulu.  Bahkan sempat mengalami masa keemasan pada saat alm Suzana berkiprah.

Di era sekarang ini produksi film horor pun melonjak dengan penonton yang membludak. Bahkan ada yang sempat merajai box office di Indo seperti KKN di Desa Penari. Jadi sangat wajar dan patut diapresiasi kehadiran FFH,” tandas artis yg masih terlihat cantik di usia senjanya.

CC melanjutkan, mudah-mudahan, harapnya, film horor di Indo terjaga kualitas dan kuantitasnya. Ini adalah industri kreatif yanh patut di sokong oleh pelbagai instansi. ” CC sangatt mendukung FFH,” tandasnya.

Pada penghujung acara, Festival Film Horor Edisi Ke-4 mengumumkan para pemenangnya. Film “Lift” dinobatkan sebagai film terpilih bulan Maret 2026.
Pemain Pria terpilih diraih Alfie Afandi, Pemain Wanita Terpilih Ismi Melinda, Dop Terpilih Risky Dwipanca, dan Randy Chans ditabalkan sebagai sutradara terpilih.

Dengan raihan itu, Produser Adha Riantono menandaskan, tak mudah untuk bersikeukeuh memproduksi film horor Lift karena harus menabrak pakem film horor yang seolah-olah harus muncul hantu.

“Horor itu gak selalu harus dengan kemunculan hantu. Di Lift, horor yang ril bisa saja muncul. Bahkan lebih ganas!” tandas Adha.

Dan ketika lampu-lampu kafe mulai meredup, percakapan tentang film pun perlahan usai. Namun seperti kata para pembicara malam itu—selama musik masih terdengar dalam ingatan penonton, cerita film sesungguhnya belum benar-benar berakhir. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.