Stop Jadikan Ranking Patokan Kepintaran, Champion Siap Dukung Anak Punya Jalur Juaranya Sendiri

0

INVENTIF –  Jika Anda masih mengukur tingkat kepintaran anak cuma dari ranking dan nilai matematika, hal itu sudah ketinggalan jauh.

Banyak orang tua masih terjebak standar lama: anak harus jadi dokter, harus jago matematika, harus jago fisika. Padahal, potensi anak itu bentuknya macam-macam.

Hal ini ditegaskan dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, dokter spesialis anak dari RS Anugerah Pekalongan. Menurutnya, kemampuan setiap anak tak bisa dipukul rata dengan satu standar.

“Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika, tidak semua anak harus jago fisika. Karena anak itu yang kita bilang kepintaran itu macem-macem,” ujar dr. Shyrien, baru-baru ini.

Ia mencontohkan, banyak anak yang justru jenius di bidang lain.

“Wih anaknya itu jago banget ngegambar, musiknya keren banget. Anak-anak dyslexia, itu rata-rata musiknya dan gambarnya keren banget. Masa mau kita bilang dia nggak pinter? Enggak, dia jenius di bidangnya, dia jenius di bidang musik, dia jenius di bidang menggambar. Jadi IQ tidak sebagai patokan,” jelasnya.

Lalu bagimana cara mengenalinya? Kuncinya ada di orang tua.

Menurut dr. Shyrien, orang tualah yang paling tahu. Mulai dari hal simpel: amati kegiatan apa yang bikin anak antusias, dengerin ceritanya dengan serius, dan kasih kesempatan buat coba hal baru.

Yang paling penting, tetap dampingi saat anak kesulitan, tanpa buru-buru bandingin dengan anak lain.

“Itu semua siapa yang tahu? orang tuanya kan? Orang tuanya yang bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak menilai, tidak mengevaluasi, dia tidak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting dukungan orang tua terhadap anak,” kata dr. Shyrien.

Selain pendampingan mental, ada fondasi fisik yang nggak kalah penting: nutrisi otak.

“Tapi itu semua butuh nerve (saraf) yang saling berkomunikasi, persarafan yang saling berkomunikasi dan saling mendukung. Nah itu yang kita penuhi dari nutrisi, memori kognisi yang baik, nah itu yang kita penuhi dari AHA/DHA,” jelas dr. Shyrien.

Dijelaskannya, AHA/DHA mendukung agar anak IQ-nya mencapai titik optimal yang bisa dicapai.

Artinya, dukungan minat harus jalan bareng dengan asupan nutrisi yang tepat, terutama di usia sekolah 7-12 tahun yang jadi masa emas perkembangan kognitif.

Menjawab kebutuhan ini, Champion hadir sebagai pilihan minuman cokelat pertama di Indonesia yang diperkaya DHA dan dilengkapi 10 jenis vitamin. Diformulasikan khusus untuk bantu nutrisi jaringan otak agar anak tetap fokus dan tanggap saat belajar.

Haruman Rustandi, Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk menambahkan, pendekatan ini harus sejalan.

“Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak, lalu hadir untuk mendukung prosesnya. Kami berharap Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,” ujarnya.

Selaras dengan semangat itu, Champion juga menghadirkan program Anak Juara Champion (AJC), sebuah panggung apresiasi untuk semua anak Indonesia.

Apapun bakatnya, mulai dari akademis, seni, olahraga, hingga kreativitas digital, semua anak dikasih kesempatan buat tampil dan jadi “Juara” di bidangnya masing-masing.

Bahkan, anak-anak terpilih akan dapat Beasiswa Anak Juara Champion sebagai dukungan nyata untuk masa depan dan pendidikannya.

Dengan pesan “Juara Enaknya, Juara Nutrisinya!”, Champion ingin jadi mitra setia ibu dan anak happy minum cokelat favoritnya, sang ibu pun tenang saat nutrisinya terpenuhi. (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.