Horor Kita Sudah Pulang, Lalu Mengapa Ceritanya Masih Jalan di Tempat?

0

INVENTIF — Hantu rupanya makhluk paling konsisten dalam industri film Indonesia.

Ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di rumah tua, menunggu di kamar mandi, bersembunyi di balik pintu, menyelinap ke desa terpencil, lalu muncul ketika penonton sudah membayar tiket.

Yang justru sering tersesat adalah manusianya—para pembuat film yang kadang terlalu takut meninggalkan formula yang sudah terbukti laku.

Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Festival Film Horor (FFH) Edisi ke-8 bertajuk “Horor Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia”, yang digelar di PFN Heritage, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026), dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 sekaligus perayaan 25 tahun lembaga tersebut.

Diskusi menghadirkan Eddie Karsito, produser, pemain film, budayawan. Lalu ada Wahyu Nugroho, sutradara, penulis skenario yang juga Ketua PPSSI. serta Haris Chinamon, Produser, sutradara, penulis skenario dan dramawan. Perbincangan dipandu artis dan model Karina Icha, SH, yang bertindak sebagai moderator.

Tema diskusinya terdengar seperti orang sedang mencari alamat. Horor mencari jalan pulang. Padahal, seperti celetukan Eddie Karsito, ada persoalan yang lebih mendasar. “Bagaimana kita mau pulang? Kan kita tidak pernah pergi.”

Kalimat itu kemudian menjadi semacam tamparan kecil untuk industri film horor kita.Sebab mungkin masalah terbesar film horor Indonesia bukan karena kehilangan identitas.

Kita justru terlalu lama tinggal di halaman rumah sendiri, tetapi lupa membuka pintunya. Dulu Hantunya Banyak, Ceritanya Juga Beragam.Padahal kalau mau menengok ke belakang, film horor Indonesia pernah memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Pada era 1980-an, layar bioskop kita dipenuhi hantu-hantu yang lahir dari halaman kebudayaan sendiri: Sundel Bolong, Nyi Blorong, Ratu Ilmu Hitam, Malam Satu Suro, hingga Pengabdi Setan. Film-film tersebut tidak selalu sempurna secara teknis, tetapi memiliki sesuatu yang sekarang sering hilang: identitas dan keberanian mengolah mitologi lokal.

Nama Suzanna bahkan menjadi ikon horor Indonesia. Ia tidak sekadar memainkan hantu. Ia seperti menjadi pintu antara dunia manusia dan dunia yang selama ini kita takutkan tetapi juga kita kenali melalui cerita rakyat, mitos, kepercayaan dan tradisi.

Kemudian datang Pengabdi Setan karya Sisworo Gautama Putra. Film 1980 itu menjadi salah satu tonggak penting horor Indonesia dan kemudian memperoleh kehidupan baru ketika dibuat ulang oleh Joko Anwar pada 2017.

Lalu pada 2001, Jelangkung datang seperti anak muda yang mengetuk pintu bioskop sambil berkata: “Permisi, kami mau bikin takut dengan cara yang agak berbeda.”
Film karya Rizal Mantovani dan Jose Poernomo itu menjadi fenomena dan disebut ikut menghidupkan kembali genre horor Indonesia.

Film tersebut kemudian menjangkau sekitar 1,5 juta penonton dan memperkenalkan horor yang dekat dengan dunia anak muda, lokasi asing, kamera yang lebih dinamis dan suasana urban-modern.

Artinya, horor kita pernah bergerak.Pernah mencari bentuk.Pernah mencoba sesuatu.
Lalu pertanyaannya sekarang:
mengapa ketika industri sedang besar-besarnya, keberanian itu justru seperti mengecil?

Ketika Hantu Sukses, Semua Orang Mendadak Memeliharanya
Eddie Karsito melihat salah satu penyakitnya ada pada kebiasaan industri untuk “mengekor yang sukses.”
Begitu sebuah film laris, resepnya segera dibongkar.Ada desa.Ada rumah tua.Ada perempuan kerasukan.Ada suara anak kecil.
Ada pintu terbuka sendiri. Ada kamar terlarang.

Lalu, tentu saja, ada hantu. Kalau perlu ditambah jump scare. Kalau penonton belum kaget, tambahkan lagi. Kalau masih belum, musik dibuat lebih keras. Kalau masih belum juga, hantunya muncul mendadak. Dan kalau semuanya sudah selesai, muncullah plot twist. Horor pun akhirnya seperti makanan cepat saji.
Resepnya sudah ada, tinggal mengganti nama restoran.

Menurut Eddie, persoalannya bukan karena budaya Jawa terlalu dominan dalam film horor. Budaya Jawa justru sangat kaya untuk dieksplorasi. Masalahnya adalah ketika kekayaan itu hanya dipakai sebagai tempelan.

Ia menilai para sineas perlu melakukan riset dan menggali lebih dalam cerita-cerita mistis yang hidup di tengah masyarakat.
Sebab Indonesia tidak kekurangan cerita hantu.

Yang mungkin kekurangan adalah kemauan untuk menggali manusia di balik hantunya.
Kita Punya Seribu Hantu, Tetapi Hanya Satu Cara Membuatnya Takut

Pembahas lain, Wahyu Nugroho,  melihat horor sebenarnya memiliki wilayah cerita yang sangat luas. Ada misteri. Ada tradisi. Ada religi. Ada mitologi. Ada konflik sosial.
Ada psikologi. Ada sejarah. Ada trauma keluarga. Ada kearifan lokal.

Semua itu bisa menjadi bahan bakar cerita.
Tetapi terkadang kita terlalu sibuk mempercantik hantunya sampai lupa membangun manusia yang harus ditakuti olehnya.

 

“Kita lihat dulu temanya apa. Kadang mengemas hantunya yang mirip-mirip, padahal itu bisa lebih dalam lagi untuk diekspos,” jelas Wahyu.

Ia mengingatkan bahwa film horor tidak semestinya hanya menjual rasa takut di dalam bioskop. Sebab ketakutan terbaik adalah ketakutan yang ikut pulang bersama penonton.

Bukan sekadar membuat penonton meloncat dari kursi selama dua jam, kemudian pulang sambil berkata, “Hantunya bagus.”

Dari Jelangkung ke KKN: Ketika Horor Menemukan Pasarnya
Menariknya, sejarah membuktikan bahwa penonton Indonesia tidak alergi terhadap horor yang punya identitas. Jelangkung pada 2001 membuktikan bahwa horor bisa menyatu dengan kehidupan anak muda dan kultur pop zamannya.

Pengabdi Setan (2017) kemudian menunjukkan bahwa horor klasik bisa dilahirkan kembali dengan pendekatan sinema modern. Film tersebut mencapai lebih dari 4,2 juta penonton dan beredar hingga sejumlah pasar luar negeri.

Lalu datang KKN di Desa Penari (2022).
Film ini bukan sekadar sukses. Ia menjadi fenomena budaya pop. Ceritanya berasal dari utas Twitter yang kemudian berkembang menjadi novel dan film. Di bioskop, film tersebut menembus lebih dari 10 juta penonton dan sempat menjadi film Indonesia dengan jumlah penonton tertinggi sebelum rekornya kemudian dilewati film lain.

Setelah itu ada Pengabdi Setan 2: Communion, Sewu Dino, dan sejumlah film horor lain yang mampu menembus jutaan penonton.

Jadi masalahnya jelas bukan penonton.
Penonton masih mau takut.
Bahkan mereka rela membayar mahal untuk ketakutan. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah industri berani memberikan ketakutan yang berbeda?

Kalau Mau Mendunia, Jangan Takut Gagal
Haris Cinamon, Pruduser dan Sutradara film Cristin melihat persoalannya juga berkaitan dengan mental kreatif.
Menurutnya, jika film Indonesia ingin bergerak ke tingkat internasional, sineas harus memiliki sikap “nothing to lose”—berani membuat karya sebaik mungkin tanpa terlalu sibuk mengikuti arus.

Karena ketika semua orang mengikuti film yang sukses, industri akhirnya melahirkan sesuatu yang ironis: film berbeda yang bentuknya sama.

Haris menilai anggapan bahwa “film horor harus ada hantu” juga perlu dilawan.
Sebab hantu hanyalah salah satu instrumen.
Horor sejatinya bisa lahir dari ketakutan manusia terhadap kehilangan, kematian, kesepian, kekerasan, kemiskinan, kekuasaan, dosa, keluarga, bahkan dirinya sendiri.

Hantu boleh ada. Tetapi jangan sampai hantu menjadi alasan untuk tidak berpikir.
Masalah Kita Mungkin Bukan Kurang Hantu, Tapi Kurang Riset

Haris Chinamon bahkan mengkritik kebiasaan industri yang terlalu cepat mengulang formula yang sukses. Ia juga merasa jengah dengan jargon bahwa film nasional harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bagaimana mungkin menjadi tuan rumah, katanya, kalau manajemen industrinya masih bermasalah dan produksi hanya mengikuti tren? Sindiran itu kemudian merembet ke persoalan manajemen.
Bahkan diskusi tentang film saja bisa terlambat, apalagi mengharapkan industri film dikelola dengan disiplin seperti industri global.

Eddie Karsito ikut menambahkan, pembenahan manajemen menjadi salah satu kunci. Karena film bukan hanya soal kamera, aktor dan hantu.

Film juga soal riset, produksi, distribusi, promosi, tata kelola, disiplin waktu dan keberanian mengambil risiko. Hantu bisa menunggu.Investor belum tentu.
Horor Tak Pernah Pergi. Kita yang Tak Pernah Berani Pergi

Akhirnya para pembicara menemukan satu kesimpulan yang agak lucu tetapi sekaligus menyakitkan. Film horor Indonesia sebenarnya tidak pernah pergi. Ia selalu ada. Di rumah. Di desa. Di cerita nenek.
Di legenda. Di tradisi.Di kitab-kitab tua. Di lorong sekolah. Di kamar kos. Di perkebunan. Di gedung tua. Di ingatan masyarakat.

Masalahnya, para pembuat film kadang hanya mengambil hantu yang sudah terkenal, lalu memasukkannya ke dalam cerita yang formula ceritanya juga sudah terkenal.

Kita memiliki ribuan cerita mistis, tetapi sering kali hanya memproduksi satu cara untuk membuat penonton berteriak.
Maka judul “Horor Mencari Jalan Pulang” sebenarnya memiliki makna yang lebih getir.

Horor tidak perlu mencari jalan pulang.
Ia sudah pulang. Ia ada di rumahnya sendiri. Yang perlu mencari jalan pulang justru sinema kita—pulang kepada keberanian untuk menggali identitas, melakukan riset, menciptakan cerita baru dan berhenti menjadi pengikut dari kesuksesan orang lain.

Karena kalau setiap film hanya ingin menjadi seperti film yang sudah sukses, maka industri horor kita mungkin memang akan selalu ramai. Bioskop penuh.Tiket laku.Hantu bergentayangan. Tetapi kreativitas? Mungkin masih tersesat di kuburan lama.

Detania Membuat Suasana Kembali Bernapas
Sebelum diskusi dimulai, suasana PFN Heritage sempat diguncang energi musik Detania, yang digawangi Deta dan Indra.
Mereka membawakan tiga single dengan warna hip-hop dut yang enerjik dan segar.

Sejenak, para hantu boleh istirahat.
Sebab siang itu yang lebih berisik bukan suara dari alam lain. Melainkan suara musik, gagasan, kritik, dan pertanyaan tentang ke mana sebenarnya film horor Indonesia hendak berjalan.

Satu hal tampaknya menjadi pekerjaan rumah bersama: jangan lagi hanya mencari hantu baru. Carilah cerita baru. Sebab penonton sudah cukup pintar untuk membedakan mana film yang benar-benar ingin membuat mereka takut dan mana film yang sekadar takut tidak laku.

Leave A Reply

Your email address will not be published.