Mbah Wahab Hasbullah, Sang Penjaga Api Cinta Tanah Air dalam Denyut Nahdlatul Ulama
INVENTIF — Di Tambakberas, Jombang, lahir seorang ulama yang menanam benih cinta tanah air lewat doa, pendidikan, dan lagu.
Dialah KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab mewariskan kepada Nahdlatul Ulama bukan hanya sebuah organisasi, tetapi juga nyala kebangsaan yang hingga kini tetap hidup dalam lantunan Yalal Wathan.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini seakan menjadi cermin perjalanan Mbah Wahab, yang membangunkan umat melalui ilmu, persatuan, dan ikhtiar membangun bangsa.
Lahir pada 31 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah, pengasuh Pesantren Tambakberas, Mbah Wahab tumbuh dalam tradisi pesantren sebelum melanjutkan pengembaraan ilmu ke Tanah Suci Makkah. Dari sanalah lahir pandangan yang kelak menjadi fondasi penting NU: agama dan kebangsaan bukan dua jalan yang saling bertentangan, melainkan dua sungai yang bermuara pada kemaslahatan umat.
Jauh sebelum NU berdiri, Mbah Wahab telah merintis gerakan kebangkitan. Tahun 1916 ia mendirikan Nahdlatul Wathan sebagai wadah membangkitkan semangat nasionalisme kaum muda. Pada masa itu pula ia menciptakan lagu Yalal Wathan, yang kini lebih dikenal sebagai Syubbanul Wathan. Lagu itu mula-mula dinyanyikan para santri sebelum belajar, menjadi ikrar sederhana bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.
Dua tahun kemudian, bersama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, ia membentuk Nahdlatut Tujjar, gerakan ekonomi yang menghimpun para pedagang untuk menopang perjuangan umat dan cita-cita kemerdekaan. Tak lama berselang lahirlah Tashwirul Afkar, ruang dialog yang mempertemukan beragam pemikiran Islam dalam semangat musyawarah dan ilmu.
Perjalanan itu mencapai puncaknya ketika muncul ancaman terhadap kebebasan bermazhab di Tanah Suci akibat ekspansi Wahabi di Hijaz. Atas restu KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab menggerakkan para kiai membentuk Komite Hijaz. Dari ikhtiar itulah, pada 31 Januari 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah yang menaungi perjuangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.
Mbah Wahab juga merancang struktur NU dengan dua pilar: Syuriyah sebagai otoritas keagamaan dan Tanfidziyah sebagai pelaksana organisasi. Rancangan itu membuat NU tumbuh kokoh, berpijak pada hikmah ulama sekaligus bergerak bersama para kader.
Bagi Mbah Wahab, cinta tanah air bukan slogan kosong. Prinsip hubbul wathan minal iman hidup dalam pendidikan, dakwah, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Semangat itu mencapai momentum penting saat para ulama NU melahirkan Resolusi Jihad pada Oktober 1945, yang menegaskan kewajiban membela republik dari upaya penjajahan kembali.
Warisan Mbah Wahab juga menjangkau dunia seni dan budaya. Atas inisiatifnya, tradisi hadrah dihimpun menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), sehingga kesenian Islam tumbuh sebagai bagian dari dakwah dan tradisi Nahdlatul Ulama. Atas jasa tersebut, ISHARI menganugerahkan gelar Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama pada Agustus 2026.
Mbah Wahab mengembuskan napas terakhir pada 29 Desember 1971, beberapa hari setelah kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-25 Surabaya. Negara kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2014.
Kini, setiap kali Yalal Wathan berkumandang di pesantren, muktamar, atau majelis-majelis Nahdliyin, yang bergema bukan sekadar lagu. Ia adalah warisan seorang ulama yang mengajarkan bahwa menjaga agama dan menjaga Indonesia adalah dua ikhtiar yang berjalan beriringan, demi menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. (NM)