Leluhur Mewariskan Cerita, Industri Film Jangan Cuma Mewariskan Formula
INVENTIF — Indonesia tak pernah kehabisan hantu, tetapi industri filmnya terkadang kehabisan imajinasi.
Padahal, negeri ini menyimpan ribuan tahun sastra, budaya, folklor, mitologi, mitos, legenda, dongeng, hingga sejarah Nusantara yang bisa menjadi tambang emas bagi perfilman nasional. Sayangnya, kekayaan itu belum digali secara sempurna. Sebagian masih tertidur di lemari tua, tersimpan dalam ingatan para tetua, atau hanya menjadi cerita pengantar tidur yang perlahan dilupakan pemilik zamannya.
Di tengah situasi itulah Festival Film Horor (FFHoror) mengumumkan para pemenang bulanan sekaligus menyambut soft launching film Rarangken, produksi PAS Production, di Kopi Besok Pagi, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).
Acara ini bukan sekadar perayaan bagi para pemburu ketakutan di layar lebar. Lebih dari itu, ada pesan yang layak direnungkan: horor Indonesia seharusnya tidak hanya sibuk membuat penonton berteriak, tetapi juga mampu mengajak mereka mengenali akar kebudayaannya sendiri.
Sebab, kalau urusan menakut-nakuti manusia, Indonesia punya banyak bahan. Dari cerita tentang benda pusaka, larangan memasuki tempat tertentu, sosok gaib penghuni hutan, sampai kisah leluhur yang diwariskan dari mulut ke mulut. Persoalannya, berapa banyak dari kekayaan tersebut yang sudah benar-benar diolah menjadi film dengan riset mendalam, penulisan cerita yang kuat, dan keberanian artistik?
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk mencari hantu baru dari luar negeri, sementara hantu-hantu lokal yang punya silsilah panjang justru dibiarkan menganggur.
Pirunduk Berjaya, Rarangken Menawarkan Jalan Berbeda
Dalam pengumuman pemenang bulanan FFHoror, film Pirunduk berhasil meraih penghargaan Film Terbaik. Film yang sama mengantarkan Billy Christian sebagai Sutradara Terbaik dan Verly Ikraino sebagai Penata Kamera atau Director of Photography (DOP) Terbaik.
Sementara itu, Baskara Mahendra terpilih sebagai Aktor Terbaik melalui film Lubang Buaya, sedangkan Adinda Thomas meraih penghargaan Aktris Terbaik lewat penampilannya dalam film Orang Bunian.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja kreatif para sineas yang berusaha menghadirkan cerita dan pengalaman sinematik bagi penonton.
Namun, di tengah perayaan itu, Rarangken menawarkan pembicaraan yang tak kalah menarik. Film garapan sutradara R.G.H. ini mencoba meramu horor dengan kekayaan mitos dan kepercayaan masyarakat Sunda.
Produksi PAS Production tersebut tidak sekadar menjanjikan kemunculan sosok menyeramkan dari balik pintu atau kejutan mendadak yang membuat penonton melompat dari kursinya. Film ini berusaha menempatkan teror dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: keluarga, warisan masa lalu, benda pusaka, dan rahasia yang tak pernah benar-benar selesai.
Sebuah pendekatan yang patut mendapat perhatian. Sebab, ketakutan paling menarik terkadang bukan berasal dari sesuatu yang muncul tiba-tiba di depan mata, melainkan dari sesuatu yang sejak lama berdiam dalam ingatan manusia.
Rarangken: Ketika Warisan Keluarga Menyimpan Teror
Cerita Rarangken berpusat pada Ranti, diperankan Vanny Meisella, yang kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat orang sahabat.
Kepulangan itu semestinya menjadi perjalanan biasa. Namun, suasana berubah setelah sebuah benda peninggalan bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya.
Sejak saat itu, berbagai peristiwa misterius mulai terjadi. Sosok Nyi Larang muncul dan menyeret Ranti ke dalam rangkaian kejadian yang berkaitan dengan tragedi masa lalu.
Upaya Ranti menghancurkan benda tersebut ternyata tidak serta-merta mengakhiri teror. Sebaliknya, tindakan itu justru membuka rahasia kelam yang telah terkubur selama puluhan tahun.
Di dalam kisah ini, benda pusaka bukan sekadar properti untuk mempercantik adegan. Ia menjadi pintu masuk menuju persoalan rasa bersalah, hubungan keluarga, dan warisan masa lalu yang tak mudah disingkirkan.
Barangkali di situlah daya tarik horor berbasis budaya: benda-benda yang bagi sebagian orang tampak biasa dapat menyimpan makna yang jauh lebih besar dalam ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Tentu, mitos dan kepercayaan lokal perlu diolah dengan riset serta kepekaan budaya. Jangan sampai kebudayaan hanya dijadikan tempelan, sementara cerita utamanya berjalan seperti film lain yang kebetulan diberi nama tokoh lokal.
Sebab, mengganti nama hantu belum tentu berarti menciptakan kebaruan. Kadang-kadang, yang berubah hanya namanya, sementara cara menakut-nakutinya masih menggunakan resep lama.

Indonesia Kaya Cerita, Mengapa yang Diangkat Itu-Itu Saja?
Dalam sesi wawancara yang dipandu Alin, moderator sekaligus pemerhati film nasional, apresiasi disampaikan kepada produser Wan Emily Sjahrir dan executive producer Tsani Prilia atas keberanian mereka mengangkat budaya Sunda sebagai bagian penting dari cerita Rarangken.
Kekayaan mitos dan cerita rakyat Indonesia menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya perfilman berkualitas. Sayangnya, berbagai legenda dari daerah-daerah di Nusantara belum seluruhnya memperoleh ruang yang memadai di layar lebar.
Padahal, setiap daerah memiliki semesta ceritanya sendiri. Ada tradisi lisan, kisah leluhur, kepercayaan tentang alam, legenda kerajaan, hingga dongeng yang menyimpan nilai sosial dan pandangan hidup masyarakat.
Pembicara juga menyoroti mitos yang berkembang dalam masyarakat Sunda, termasuk kepercayaan mengenai Sanekala, yang masih terbuka untuk dieksplorasi para sineas Indonesia.
“Saya sangat mengapresiasi Kak Emily selaku produser dan Kak Sani sebagai eksekutif produser. Di usianya yang masih muda, Kak Sani sudah menjadi eksekutif produser dan berani mengangkat budaya Sunda,” ujar Alin.
Ia berharap keberanian mengangkat cerita dari satu daerah dapat menginspirasi sineas lain untuk menggali kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia.
“Indonesia itu sangat kaya akan budaya. Sayang kalau hanya menitikberatkan pada satu atau dua daerah saja. Alangkah baiknya semuanya bisa diangkat ke layar lebar,” ujar Emily.
Pernyataan itu seharusnya menjadi bahan renungan bagi industri film nasional.
Nusantara bukan hanya peta yang dibagi berdasarkan provinsi. Ia adalah perpustakaan raksasa yang sebagian besar ceritanya belum dibaca sampai tuntas.
Dari mitologi Jawa, legenda Sunda, folklor Sumatra, kisah-kisah dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua, terbentang kemungkinan cerita yang nyaris tak berujung.
Belum lagi sastra klasik, hikayat, babad, epos, cerita kepahlawanan, dongeng rakyat, serta sejarah lokal yang dapat dikembangkan menjadi drama sejarah, fantasi, petualangan, thriller, maupun horor psikologis. Semua itu bisa menjadi kekuatan sekaligus kekayaan film Indonesia yang belum digarap secara sempurna.
Ironisnya, kita sering berbicara tentang pentingnya identitas nasional dalam perfilman, tetapi ketika sebuah cerita lokal muncul, pertanyaan pertama yang kadang terdengar justru: apakah cukup menjual?
Seolah-olah kebudayaan baru pantas diangkat apabila sudah lebih dahulu mendapat persetujuan pasar.
Padahal, tugas sineas bukan hanya mengikuti selera penonton. Mereka juga dapat memperluas selera itu, membuka cakrawala baru, dan memperkenalkan cerita yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk ditonton.
Film Harus Punya Pembeda
Wan Emily Sjahrir, menilai unsur budaya dapat memberikan karakter dan daya tarik tersendiri bagi film horor Indonesia.
Tradisi, legenda, dan kepercayaan masyarakat, menurutnya, merupakan sumber cerita yang tidak pernah habis untuk dikembangkan.
Ia menegaskan bahwa sebuah film perlu memiliki identitas dan pembeda agar tidak sekadar mengulang formula yang sudah terlalu sering digunakan.
“Film itu harus ada pembedanya, kalau sama sebaiknya tak perlu buat tapi nonton saja. Dan bila ingin membuat film harus out of the box, keluar dari kebiasaan terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.
Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi menyentil persoalan mendasar dalam industri kreatif: keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Sebab, membuat film bukan sekadar memindahkan formula yang berhasil dari satu layar ke layar lain, lalu mengganti nama karakter dan lokasi syutingnya.
Kalau semua film mengikuti pola yang sama, industri mungkin tetap bergerak.
Namun, kreativitas bisa berjalan di tempat.
Dalam konteks horor, budaya lokal dapat menjadi sumber pembeda yang kuat, asalkan tidak berhenti pada penampakan, pakaian adat, bahasa daerah, atau benda pusaka yang muncul sekilas.
Kebudayaan perlu hadir sebagai bagian dari jiwa cerita. Ia mesti memengaruhi cara tokoh berpikir, mengambil keputusan, menghadapi konflik, serta memahami hubungan manusia dengan alam dan sejarahnya.
Dengan begitu, penonton bukan hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pengalaman mengenali dunia yang mungkin selama ini terasa asing, bahkan bagi masyarakat Indonesia sendiri.
Sastra, Folklor, Mitologi: Harta Karun yang Belum Selesai Digali
Di tengah pembicaraan mengenai Rarangken, ada satu hal yang layak ditegaskan: kekayaan cerita Nusantara jauh melampaui genre horor.
Sastra, budaya, folklor, mitologi, mitos, legenda, dongeng, dan sejarah Nusantara merupakan sumber penciptaan yang bisa melahirkan beragam karya sinema dengan karakter khas Indonesia.
Sastra menawarkan kedalaman manusia dan konflik batin. Folklor menyimpan ingatan kolektif masyarakat. Mitologi menghadirkan semesta simbol, asal-usul, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar. Legenda menyimpan jejak perjalanan sebuah komunitas, sementara dongeng menyampaikan imajinasi dan nilai kehidupan dari generasi ke generasi.
Sejarah pun menyediakan drama tentang kekuasaan, perjuangan, pengkhianatan, cinta, dan pilihan-pilihan manusia yang menentukan nasib zamannya. Jika semuanya digarap dengan riset serius, penulisan skenario yang matang, serta pendekatan visual yang berani, film Indonesia tidak harus selalu sibuk mencari identitas ke tempat lain.
Kita mempunyai cerita sendiri. Yang perlu dilakukan adalah mengolahnya dengan standar produksi yang baik, tanpa kehilangan akar budayanya.
Tentu, mengangkat cerita lokal bukan berarti menjadikan setiap film sebagai pelajaran sejarah atau ceramah kebudayaan. Penonton datang ke bioskop untuk menikmati cerita, bukan mengikuti ujian kebudayaan.
Namun, cerita yang kuat justru dapat membuat penonton tertawa, menangis, takut, atau terdiam, sekaligus membawa pulang pengetahuan yang tidak terasa seperti pelajaran.
Di situlah seni bekerja: menyampaikan sesuatu tanpa harus selalu berkhotbah.
Dan jika kekayaan Nusantara hanya disimpan sebagai materi seminar, bahan pidato, atau slogan festival, jangan salahkan generasi muda apabila suatu hari mereka lebih mengenal mitologi dari negeri lain daripada legenda dari kampung halaman sendiri.
Warisan budaya tidak cukup hanya dibanggakan. Ia harus dihidupkan, ditafsirkan kembali, dan diberi ruang untuk berbicara melalui karya-karya baru.
Fanny J. Poyk: Film Indonesia di Tengah Perubahan Zaman
Sementara itu, penulis Fanny J. Poyk melalui tulisannya bertajuk Film Indonesia Dahulu dan Kini menyoroti perubahan besar dalam industri perfilman nasional. Ia mengingatkan bahwa periode 1980-an hingga 2000-an memiliki dinamika tersendiri dalam perkembangan film Indonesia.
Kini, pada periode 2020–2026, industri perfilman menghadapi tantangan yang berbeda seiring perubahan kebiasaan menonton, perkembangan media sosial, dan kemudahan akses hiburan digital.
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para pembuat film.
Perubahan tersebut menuntut insan perfilman untuk terus mengembangkan gagasan, cerita, dan pendekatan kreatif agar tetap relevan di tengah persaingan.
Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, film tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh sekadar perangkat: cerita yang punya jiwa.
Kamera dapat merekam gambar dengan semakin sempurna. Efek visual bisa menciptakan dunia yang sebelumnya hanya hidup dalam imajinasi. AI pun dapat membantu berbagai proses produksi.
Tetapi, tanpa gagasan yang kuat, semua kecanggihan itu berisiko hanya menghasilkan gambar indah yang cepat dilupakan.
Di sinilah kekayaan budaya Nusantara dapat mengambil peran penting. Ia menyediakan sumber inspirasi yang luas, sekaligus memberi ruang bagi sineas untuk membangun identitas yang tidak mudah disamakan dengan produk hiburan dari negara lain.
Bukan Sekadar Menjual Ketakutan
Rarangken menghadirkan sejumlah pemain, antara lain Vanny Meisella sebagai Ranti, Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, dan Ambu Rd Sonnia Soema sebagai Tetua Adat.
Film ini juga didukung Achmad Bayhaki A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zahra Putri sebagai Rarang, serta Tiara Khoerunnisa sebagai Ami.
Adapun karakter masa kecil diperankan Felicia Lindi sebagai Ranti Kecil dan Bhadramatura Abilawa sebagai Jati Kecil.
Kehadiran para pemain tersebut diharapkan mampu membangun kedalaman emosi dan misteri dalam kisah yang berkaitan dengan rahasia keluarga serta peristiwa masa lalu.
Soft launching Rarangken menjadi momentum untuk membuka kembali pembicaraan mengenai masa depan film horor Indonesia dan pentingnya menggali identitas budaya dalam karya sinema.
Tentu, satu film tidak serta-merta menyelesaikan pekerjaan rumah industri perfilman nasional. Perlu lebih banyak penulis skenario yang tekun meneliti cerita rakyat, produser yang berani mengambil risiko, sutradara yang memiliki visi, serta ekosistem produksi dan distribusi yang mampu membawa karya-karya tersebut kepada penonton.
Yang juga dibutuhkan adalah keberanian untuk memahami kebudayaan secara utuh, bukan sekadar meminjam namanya demi kepentingan promosi. Sebab, mitos bukan cuma tentang makhluk gaib. Di baliknya ada sejarah ingatan, ketakutan, harapan, dan cara manusia memahami kehidupan.
Begitu pula legenda dan dongeng. Di balik kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, sering tersembunyi pertanyaan tentang kekuasaan, keadilan, kesetiaan, keserakahan, hingga hubungan manusia dengan alam.
Semua itu merupakan bahan baku cerita yang sangat berharga.nMaka, jika suatu hari film Indonesia mampu menggali kekayaan tersebut dengan lebih serius, kita tidak hanya akan memiliki lebih banyak film horor. Kita juga berpeluang melahirkan film fantasi, drama, petualangan, dan epik sejarah yang berakar kuat pada pengalaman Nusantara.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Indonesia memiliki cukup banyak cerita untuk difilmkan. Persoalannya adalah apakah industri ini cukup berani untuk menggali, merawat, dan mengolahnya menjadi karya yang bermutu.
Sebab, Nusantara tidak pernah miskin cerita. Yang terkadang miskin justru keberanian untuk membacanya kembali.
Dan jika kekayaan itu terus dibiarkan terkubur, jangan heran apabila suatu hari kita harus membeli tiket untuk menonton mitologi bangsa lain, sementara legenda leluhur sendiri hanya tinggal cerita yang sayup-sayup terdengar menjelang tidur.
Barangkali, inilah teror yang sesungguhnya: bukan hantu yang muncul dari balik pintu, melainkan kebudayaan yang perlahan menghilang karena pemiliknya sendiri terlalu lama membiarkannya tidur. (Stn)