Masjid Ramah Anak, Dakwah Digital yang Mendekatkan Generasi Muda

0

INVENTIF – Masjid bukan sekadar tempat orang dewasa bersujud dan melantunkan doa. Di dalamnya, anak-anak juga perlu menemukan ruang untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan mengenal agama dengan cara yang menyenangkan.

Semangat itulah yang dibawa Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Masjid Al-Hidayah, Pamulang Permai 1, Tangerang Selatan, Sabtu (7/11/2026).

Mengusung tema Penguatan Literasi Dakwah Digital dan Manajemen Masjid: Sinergi Pengurus dan Remaja Masjid, kegiatan ini mengajak pengurus serta remaja masjid beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dakwah.

Ketua Program Studi Magister dan Doktor KPI, Dr. Khaeron Sirin, M.A., mengingatkan bahwa dakwah digital bukan sekadar soal pandai menggunakan media sosial. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan memilah informasi, memahami konteks, serta menyampaikan pesan keagamaan secara bertanggung jawab.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, tidak semua yang viral layak dipercaya dan tidak semua yang ramai pantas disebarkan.
Salah satu pendekatan menarik diperkenalkan Dodo Murtado, M.Kom., melalui materi Transformasi Dakwah dan

Syiar Islam Berbasis Digital. Ia mengenalkan konsep gamifikasi, yakni penggunaan unsur permainan untuk membangun keterlibatan anak-anak dengan masjid.

Contohnya program STAM (Shaf Terdepan Anak Masjid) dan SEDH (Sedekah) yang dikembangkan di Masjid Al Marjan. Melalui kartu QR untuk presensi, karakter robot, tantangan harian, hingga sistem poin dan penghargaan, anak-anak diajak membangun kebiasaan positif dalam beribadah.

Pendekatan ini sederhana, tetapi menarik. Anak-anak tidak hanya diminta datang ke masjid, melainkan diberi pengalaman agar merasa nyaman dan memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan masjid.

Sementara itu, Shobihul Hujjah, S.Sos.I., M.I.Kom., membahas pentingnya manajemen masjid melalui tiga pilar, yaitu idarah (administrasi), imarah (pemakmuran), dan ri’ayah (pemeliharaan fasilitas).

Menurutnya, teknologi dapat membantu pengelolaan administrasi, pendataan jemaah, transparansi keuangan, hingga pelayanan informasi.

Adapun praktisi media digital dan manajemen proyek, Iqbal Maulana, S.E., mengajak remaja masjid lebih aktif mengelola media sosial. Mulai dari perencanaan, produksi konten, distribusi, hingga evaluasi agar informasi kegiatan masjid menjangkau masyarakat lebih luas.

Kegiatan ini juga dihadiri Dr. Cecep Castrawijaya, M.A.; Ketua DKM Al-Hidayah H. Muhammad Natsir beserta pengurus; Muhammad Fanshoby, M.Sos.; Tatum Tivani, M.Pd.; Muammar Aditya, M.Ak.; Prof. Dr. H. M. Yakub, M.A.; serta Dr. Hamidullah Mahmud, M.A.

Melalui kegiatan tersebut, Magister KPI UIN Jakarta ingin menegaskan bahwa masjid perlu terus bertumbuh mengikuti zaman. Teknologi bisa menjadi jembatan, manajemen menjadi penguat, dan anak-anak adalah bagian penting dari masa depan masjid.

Sebab, masjid yang baik bukan hanya yang ramai oleh orang dewasa hari ini, tetapi juga yang mampu membuat anak-anak rindu untuk kembali esok hari.

Leave A Reply

Your email address will not be published.