Lagi Probation : Kerja Ngejar Apa Sih? Ketika Cerita Kehilangan Greget
Premisnya menjanjikan, temanya dekat dengan kehidupan anak muda, tetapi eksekusinya belum sebanding dengan persoalan besar yang ingin disampaikan. Dunia kerja yang penuh intrik berhasil dijadikan bahan cerita, sayangnya karakter-karakternya justru seperti kehilangan pekerjaan untuk menghidupkan film itu sendiri.
INVENTIF – Dunia kerja ternyata bukan hanya tempat mencari nafkah, membangun karier, dan mengejar masa depan.
Di balik meja kantor yang tertata rapi, senyum rekan kerja yang tampak bersahabat, serta sapaan manis setiap pagi, bisa saja tersimpan ambisi, intrik, pengkhianatan, bahkan kejahatan.
Kadang, musuh paling berbahaya bukan orang yang terang-terangan memusuhi kita, melainkan seseorang yang setiap hari duduk di sebelah meja, tersenyum, menawarkan bantuan, tetapi diam-diam sedang menghitung langkah untuk menjatuhkan.
Realitas semacam itulah yang coba diangkat BASE Entertainment melalui film drama komedi terbarunya, Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?, garapan sutradara Archie Hekagery.
Film yang menggelar press screening dan press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (5/11/2026), ini diproduseri Shanty Harmayn. Naskahnya ditulis Rifki Ardisha dengan mengambil inspirasi dari buku karya Samuel Ray, yang juga hadir dalam acara tersebut.
Deretan pemainnya antara lain Aurora Ribero, Rey Bong, Gabriella Ekaputri, Lutfi Afansyah, Daffa Wardhana, Arafah Rianti, Wafda Saifan, dan Indra Birowo.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Premis Menarik, Dunia Kerja Penuh Muslihat
Kisahnya berpusat pada Bintang (Aurora Ribero), seorang perempuan muda yang berjuang mendapatkan pekerjaan demi membantu perekonomian keluarga. Ayahnya baru memasuki masa pensiun, sementara kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan adiknya terus berjalan.
Kesempatan bekerja akhirnya datang. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Bintang harus menjalani masa probation bersama lima kandidat lainnya di sebuah perusahaan besar. Mereka adalah Bima, Velma, Damai, Mika, dan Claudia. Persoalan muncul ketika perusahaan hanya menyediakan satu posisi karyawan tetap.
Sejak saat itu, suasana kerja yang semula dibangun dengan semangat kebersamaan perlahan berubah menjadi arena persaingan. Teamwork bergeser menjadi teamwar. Teman bisa berubah menjadi lawan, sementara keramahan terkadang hanya menjadi strategi untuk memenangkan pertarungan.
Gagasan ini sebenarnya menarik. Bahkan, relevan dengan kehidupan generasi muda yang hari ini harus menghadapi ketidakpastian pekerjaan, sistem kontrak, tekanan atasan, perundungan di lingkungan kerja, hingga persaingan yang sering kali tidak sehat.
Dalam kehidupan nyata, masa probation semestinya menjadi ruang pembuktian kompetensi dan adaptasi. Namun, tidak sedikit perusahaan yang justru menjadikannya semacam arena gladiator: enam orang masuk gelanggang, satu orang bertahan, sementara yang lain dipersilakan mengemas mimpi masing-masing.
Sebuah ironi yang sangat dekat dengan realitas.
Film ini bahkan meminjam analogi permainan bertahan hidup ala Squid Game untuk menggambarkan persaingan di lingkungan korporasi. Sayangnya, ketegangan yang dijanjikan premis tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan dramatik di layar.
Cerita Berjalan, tetapi Emosi Penonton Tidak Ikut Berlari
Di sinilah persoalan utama film ini.
Memiliki premis bagus ternyata tidak otomatis menghasilkan film yang bagus pula. Ide tentang persaingan enam anak muda memperebutkan satu posisi tetap sebenarnya bisa dikembangkan menjadi drama komedi yang tajam, emosional, sekaligus menyentil budaya kerja yang semakin kompetitif.
Sayangnya, cerita terasa berjalan biasa-biasa saja.Konflik hadir, perselisihan muncul, pengkhianatan terjadi, tetapi semuanya seperti melewati jalur yang sudah terlalu sering dilalui. Tidak ada ledakan dramatik yang benar-benar membuat penonton ikut marah, geregetan, atau bahkan merasa sesak menyaksikan ketidakadilan yang dialami tokoh utama.
Skenarionya juga terasa belum cukup kuat menggali potensi konflik. Padahal, persoalan perundungan, manipulasi, ketidakpastian karier, dan pengkhianatan teman dekat merupakan bahan yang sangat kaya untuk membangun cerita. Apalagi ketika semua itu ditempatkan dalam lingkungan kerja yang menuntut profesionalisme, tetapi justru memperlihatkan perilaku yang jauh dari nilai-nilai profesional.
Sayangnya, film ini lebih banyak memperlihatkan persoalan ketimbang benar-benar mengajak penonton merasakan kedalaman persoalan tersebut. Akibatnya, penonton hanya menjadi saksi perjalanan karakter, bukan ikut terperangkap dalam kegelisahan mereka.
Bintang dan Bayang-Bayang Betty La Fea
Tokoh Bintang tampaknya sengaja dibangun sebagai representasi anak muda yang lugu, polos, kurang percaya diri, dan harus berjuang menghadapi lingkungan yang lebih licik.
Karakter ini mengingatkan pada Betty La Fea, tokoh perempuan dalam telenovela asal Kolombia yang pernah populer di berbagai negara.
Namun, ada perbedaan mendasar.
Betty La Fea memiliki kekuatan karakter yang membuat penonton bisa tertawa, bersimpati, sekaligus ikut merasakan perjalanan emosionalnya. Kepolosannya bukan sekadar atribut untuk menciptakan kelucuan, melainkan bagian dari perjalanan menuju perubahan diri.
Sementara Bintang terasa belum memiliki kekuatan karakter serupa. Dalam beberapa bagian, kepolosannya justru mendekati kebingungan yang membuat tokoh utama terlihat kurang meyakinkan. Penonton membutuhkan alasan emosional untuk mendukung perjuangannya, bukan sekadar diberi tahu bahwa ia sedang mengalami kesulitan.
Aurora Ribero sebenarnya memiliki potensi untuk menghidupkan karakter tersebut. Namun, pengembangan tokoh dan penulisan dialog belum sepenuhnya memberikan ruang bagi karakter Bintang untuk tumbuh menjadi sosok yang kuat.
Persoalan lainnya terletak pada pembangunan karakter. Enam kandidat probation seharusnya menjadi kekuatan utama film. Masing-masing memiliki latar belakang, kepentingan, ambisi, dan cara berbeda dalam menghadapi tekanan pekerjaan.
Bima digambarkan sebagai lulusan berprestasi, Velma sebagai sosok ceplas-ceplos, Damai sebagai pencari muka, Mika sebagai anak pewaris, sedangkan Claudia merepresentasikan pekerja korporat yang kaku dan mekanis.
Di atas kertas, komposisi ini menjanjikan benturan karakter yang menarik.
Namun, karakterisasi mereka terasa belum tergarap secara mendalam. Sebagian tokoh seperti hadir hanya untuk memenuhi kebutuhan cerita.
Mereka memiliki nama, memiliki posisi, dan sesekali mendapatkan adegan, tetapi belum semuanya memiliki kekuatan personal yang membuat penonton benar-benar mengenal dan mengingatnya.
Padahal, film dengan banyak tokoh membutuhkan pembagian ruang yang cermat. Setiap karakter harus memiliki alasan untuk bertindak, bukan sekadar menjalankan fungsi yang sudah ditentukan skenario. Akibatnya, konflik antartokoh belum terasa memiliki bobot emosional yang kuat.
Ketika Teman Berubah Menjadi Penjahat
Salah satu gagasan menarik film ini adalah bagaimana hubungan pertemanan bisa berubah ketika kepentingan pribadi mulai berbicara.
Di dunia kerja, tidak semua orang yang menyebut dirinya teman benar-benar datang dengan niat baik. Ada yang mendekat karena membutuhkan sesuatu. Ada yang membantu karena ingin memperoleh keuntungan. Bahkan, ada yang rela menjatuhkan orang lain demi mendapatkan posisi yang diinginkan.
Bukankah situasi semacam ini juga sering kita jumpai dalam kehidupan sosial, organisasi, bahkan politik?
Hari ini bergandengan tangan, besok saling menjatuhkan. Hari ini menyebut diri sebagai sahabat seperjuangan, besok menjadi lawan ketika kursi kekuasaan mulai diperebutkan.
Tidak ada teman yang abadi, begitu kira-kira sindiran yang bisa ditarik dari cerita ini. Yang sering kali abadi justru tujuan dan kepentingan.
Sayangnya, sindiran sosial yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan film belum digali secara maksimal. Padahal, di sinilah Lagi Probation berpeluang melampaui sekadar film komedi perkantoran. Ia bisa menjadi cermin tentang wajah dunia kerja modern, tempat manusia terkadang lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki kompetensi.
Sebagai sutradara, Archie Hekagery sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk mengolah cerita ini menjadi tontonan yang lebih menggigit.
Namun, setelah menyaksikannya, saya belum menemukan sentuhan magis yang membuat film ini meninggalkan kesan istimewa.
Film bergulir dengan cukup lancar, tetapi tidak banyak menawarkan kejutan penyutradaraan. Pengadeganan, pembangunan konflik, dan pengolahan emosi terasa berjalan dalam pola yang relatif aman.
Bukan berarti film ini buruk. Sama sekali bukan. Hanya saja, ada jarak antara film yang sekadar selesai dikerjakan dengan film yang benar-benar berhasil menyentuh penontonnya.
Lagi Probation berada di wilayah yang cukup aman. Tidak terlalu mengecewakan, tetapi juga belum cukup mengesankan untuk membuat penonton keluar dari bioskop sambil membawa sesuatu yang ingin terus dibicarakan.
Padahal, tema yang diangkat memiliki potensi untuk menjadi kritik sosial yang lebih berani.
Lalu, Kerja Ngejar Apa Sih?
Judul film ini sebenarnya menyimpan pertanyaan filosofis yang menarik.
Apakah manusia bekerja demi uang? Mengejar jabatan? Mencari pengakuan? Membahagiakan keluarga? Atau sekadar bertahan hidup agar tagihan bulanan tidak berubah menjadi teror yang lebih menakutkan daripada film horor?
Pertanyaan itu sangat relevan bagi generasi muda.
Namun, pertanyaan besar membutuhkan jawaban sinematik yang juga kuat. Jangan sampai judulnya mengajak penonton berpikir jauh, tetapi ceritanya justru berjalan pendek-pendek.
Film ini memiliki modal cerita yang bagus, tema yang aktual, dan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, kekuatan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi drama yang berkarakter.
Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? bukan film yang gagal total. Ia tetap menawarkan hiburan dan memiliki kedekatan tema dengan realitas pekerja muda. Namun, dari sisi pengembangan cerita, kekuatan karakter, dan kedalaman konflik, masih banyak ruang yang seharusnya bisa dimaksimalkan.
Film ini ingin berbicara tentang kerasnya dunia kerja, tetapi belum cukup keras dalam menyuarakan kritiknya. Ingin menggambarkan pengkhianatan, tetapi belum berhasil membuat penonton ikut merasa dikhianati. Ingin menyindir persaingan, tetapi sindirannya belum cukup tajam untuk meninggalkan bekas.
Ada satu ironi yang justru menarik: film ini bercerita tentang enam orang yang berlomba membuktikan diri agar diterima menjadi karyawan tetap. Namun, karakter-karakternya sendiri belum seluruhnya berhasil membuktikan diri sebagai tokoh yang kuat di hadapan penonton.
Dan barangkali, itulah pelajaran paling satir dari film ini: di dunia kerja, orang bisa gagal melewati masa probation karena tidak memenuhi ekspektasi perusahaan. Sementara di dunia perfilman, sebuah cerita bisa gagal memenuhi ekspektasi penonton meskipun sudah memiliki premis yang menjanjikan.
Sebab, bekerja memang membutuhkan kompetensi. Begitu pula membuat film. Tidak cukup hanya punya ide bagus, nama besar, dan judul yang mengundang rasa penasaran. Harus ada sesuatu yang membuat penonton merasa bahwa dua jam waktunya tidak sekadar dipakai untuk menyaksikan orang-orang berebut satu kursi.
Sebab, penonton datang ke bioskop bukan untuk ikut menjalani masa probation. Mereka datang untuk menikmati sebuah karya yang sudah semestinya lulus ujian kreativitas.