Film ‘Yang Terluka’, Ketika Dunia Maya Lebih Brutal dari Jalanan, dan Perempuan Diminta Tetap Tersenyum

0

 

INVENTIF – Dunia digital kini begitu canggih: pesan instan, belanja cepat, dan—tentu saja—kejahatan yang ikut naik kelas.

Di tengah hiruk pikuk tersebut, muncul film “Yang Terluka”, drama-thriller produksi Project 69 yang mencoba menampar kesadaran publik bahwa internet bukan hanya tempat bergulirnya konten lucu, tetapi juga lorong gelap tempat perempuan sering menjadi sasaran empuk.

Sutradara sekaligus penulis skenario Rico Michael mengungkap bahwa film ini tidak lahir dari imajinasi liar, melainkan dari kenyataan yang bahkan lebih liar.
“Ide film ini dari kisah Harrum Chens, atlet dari Bali yang jadi korban cyberbullying dan kejahatan digital. Suaminya sendiri yang menyebarkan dan memperjualbelikan video intim mereka. Romansa modern, ya begitu,” ujar Rico di lokasi syuting PN Bogor, Sabtu (22/11/2025).

Namun Rico menambahkan bahwa film ini bukan menargetkan satu kasus saja. “Kami adaptasi kreatif dari banyak kisah. Karena kalau mau jujur, kejadian seperti ini bukan satu dua. Kita hidup di zaman di mana sebagian lelaki menganggap kejahatan terhadap perempuan itu hal kecil—seperti buang puntung rokok sembarangan. Sepele, sampai akhirnya membakar rumah.”

Rico juga menyindir budaya permisif yang membiarkan masalah ini terus menumpuk.
“Kalau kita biarkan, nanti meledak. Sudah waktunya kita ngomong serius, berhenti pura-pura tuli, dan mulai menjaga saudara-saudara perempuan kita. Dunia ini bukan milik satu jenis kelamin. Bukan juga kompetisi siapa yang paling berkuasa. Kadang orang lupa hal sesederhana itu.”

Skenario film ini—ditulis bersama Dennis dan Naomi—konon revisinya sampai enam kali. “Dan belum selesai sampai syuting selesai. Realita terus berubah, dan sayangnya, kejahatan terhadap perempuan berkembang lebih cepat daripada revisi naskah.”

“Bukan Karakternya yang Gila, Orang-Orangnya!”

Salah satu peran mencolok dalam film ini adalah Madam Rahayu, diperankan oleh Djenar Maesa Ayu. Sosok ambisius dengan metode cinta yang, kalau dipraktikkan di kehidupan nyata, mungkin langsung viral sebagai bahan debat nasional.

“Madam itu berpikir dia mencintai orang lain, padahal sebenarnya dia cuma terlalu mencintai dirinya sendiri,” kata Djenar, yang mengaku karakter ini seperti “memanggilnya”.

Baginya, bukan peran Madam yang menantang, tetapi justru kenyataan bahwa di luar sana banyak orang seperti Madam: manipulatif, menguasai, dan merasa tindakannya sah karena label “cinta”.

Saat syuting, Djenar justru tertawa. “Produksi film ini gila. Bukan karakternya—orang-orangnya,” ucapnya sambil menyindir suasana kerja yang penuh energi.
Ia menyebut para pemain perempuan yang lebih muda sebagai “energi baru yang bikin syuting seperti survival show, tapi tanpa hadiah uang.”

Foto : Satria S

 

Ketika Peran Hakim Dimainkan Pengacara Beneran

Sari Latif, seorang pengacara, mendapatkan peran sebagai hakim. Ia juga ikut menyempurnakan aspek legal dalam cerita.
“Kasus Harrum masih berjalan, jadi tentu tidak semuanya bisa dibuka,” ujarnya.
Sebuah cara halus untuk mengatakan: hukum masih proses, film lebih cepat.

Sari menambahkan bahwa pembungkaman terhadap perempuan sebenarnya bukan hal baru. “Topik ini jarang dibicarakan, dan lebih jarang lagi ditindak. Makanya film ini penting.”

 Isu Berat, dan Kenyataan yang Lebih Berat

Deretan pemain film ini tak main-main: Vinessa Inez, Fanny Ghassany, Dwi Sasono, Rifky Balwel, Djenar Maesa Ayu, Jinan Safa, Sari Koeswoyo, Dennis Adishwara, Gibran Marten, Chika Waode, Uus Wijaksana, Naomi, Rebecca Reijman, Al Ghazali, dan banyak lainnya.

Namun yang paling penting bukan jumlah bintang, melainkan jumlah luka yang diangkat film ini.
Karena jika hidup terus membiarkan kejahatan digital sebagai “drama rumah tangga biasa”, maka film seperti Yang Terluka” harus terus ada—untuk mengingatkan bahwa dunia maya bisa jauh lebih biadab daripada jalanan, dan korbannya sering kali diminta untuk tetap diam.

Film ini adalah kritik, peringatan, dan cermin. Dan seperti semua cermin yang jujur, pantulannya mungkin tidak nyaman. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.