Ketika Ingatan Menjadi Debu, dan Manusia Mulai Asing di Rumahnya Sendiri

0

 

INVENTIF – Di negeri yang gemar menangisi sinetron sambil melupakan tetangga sendiri, hadir sebuah film berjudul ‘Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan’. Sebuah judul yang terdengar seperti doa terakhir seseorang yang sadar hidup modern lebih sibuk menyimpan password WiFi ketimbang mengingat wajah ibunya sendiri

Ya, di negeri yang juga sangat rajin menghafal pasword medsosnya,  namun lupa menelepon ibunya sendiri. Di zaman modern, manusia lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan ingatan.

Film garapan Kuntz Agus dan di produksi Rapi Films, Screenplay Films, dan Vortera Studio  ini mengangkat  kisah Yuke Yolanda yang menderita Alzheimer—penyakit yang tidak membunuh manusia secara tiba-tiba, melainkan mencicilnya perlahan. Sedikit demi sedikit. Sampai seseorang masih bernapas, masih duduk di ruang tamu, tetapi tak lagi mengenali anaknya sendiri.

Dari beberapa catatan, alzheimer disebabkan penimbunan plak beta-amyloid di otak. Penimbunan tersebut diperkirakan terjadi selama 15 hingga 20 tahun sebelum didiagnosis alzheimer. Dalam rentang waktu tersebut, kerusakan kognitif turut berkembang.

Dan di situlah horor paling sunyi dimulai.
Bukan hantu. Bukan darah. Bukan setan bergigi panjang. Melainkan seorang ibu yang memandang anak kandungnya sendiri seperti orang asing di halte bus.

Film ini dibuka dengan ritme yang lambat. Sangat lambat. Barangkali sutradara memang ingin membangun suasana reflektif dan kontemplatif. Namun yang terjadi, alurnya berjalan seperti jam dinding mushola kampung yang baterainya hampir habis: bergerak, tapi setengah menyerah.
Celakanya, kelambatan itu bertahan sampai akhir.

Padahal premisnya sangat kuat.  memerankan Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang guru SD yang mulai kehilangan serpihan memorinya akibat Alzheimer. Ada tragedi besar di sana: seorang ibu yang dahulu menghafal jadwal sekolah anak-anaknya, perlahan lupa jalan pulang ke rumahnya sendiri.

Namun sayang, film ini terlalu sopan untuk menggali luka lebih dalam. Ia seperti takut membuat penonton benar-benar tidak nyaman. Semua dibuat rapi, bersih, dan melodramatis secukupnya. Bahkan penderitaan pun terasa seperti sudah disetrika sebelum ditampilkan ke layar.
Seolah keluarga yang sedang runtuh tetap harus tampak estetis demi sinematografi.

Pengambilan gambarnya pun terkesan malas. Cari aman saja. Tak berani menawarkan shoot yang menggelitik dan mencengangkan. Padahal kalau camera mau berlari lari sedikit  saat Yuke kebingungan dan nyasar, tentu sisi dramatisnya lebih menyesakan dada.

Meski demikian, akting para pemain layak diapresiasi. Selain  Ibnu Jamil yang tampil agak datar seperti pembaca brosur cicilan rumah syariah, para pemain lain justru menghadirkan emosi yang lebih hidup.

Lulu Tobing tampil tenang dan menawan. Ia tidak berlebihan memainkan lupa. Justru dalam tatapan kosong beberapa detik itulah Alzheimer terasa mengerikan. Sebab penyakit ini memang tidak selalu hadir dengan teriakan. Kadang ia datang lewat diam yang panjang dan  juga berhasil memberi denyut emosional yang membuat film ini tetap bernapas di tengah alurnya yang nyaris tertidur.

Tetapi masalah terbesar film ini tetap sama: keberaniannya setengah matang. Ia ingin menjadi karya penting tentang keluarga dan kehilangan, tetapi terlalu takut menyelam ke sisi paling gelap manusia—ketika seseorang masih hidup namun identitasnya perlahan terhapus.

Padahal Alzheimer bukan sekadar “pikun”.
Dalam dunia medis,  adalah penyakit degeneratif otak yang menyebabkan kerusakan sel saraf secara perlahan. Gejalanya dimulai dari lupa ringan, sulit berkonsentrasi, bingung arah, perubahan emosi, hingga kehilangan kemampuan mengenali orang terdekat.

Faktor penyebabnya beragam: usia lanjut, faktor genetik, gangguan pembuluh darah, pola hidup tidak sehat, stres berkepanjangan, kurang tidur, hingga penurunan fungsi otak alami. Tetapi di masyarakat kita, penyakit seperti ini sering tidak berhenti di ranah medis.

Begitu seseorang mulai lupa, bisik-bisik pun bermunculan.“Jangan-jangan kena sihir…”
“Mungkin ada gangguan ruh…”. “Atau ini azab karena dosa masa lalu…”

Begitulah manusia bekerja: ketika ilmu berhenti, tahayul mulai mengambil alih.
Dalam sudut pandang Islam, mayoritas ulama memandang Alzheimer sebagai penyakit atau ujian biologis yang merupakan bagian dari sunnatullah—hukum alam ciptaan Allah terhadap tubuh manusia yang menua. Islam sendiri telah memberi isyarat tentang fase manusia kembali lemah di usia senja.

Allah berfirman dalam  Surah An-Nahl ayat 70: “…dan di antara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu diketahuinya.”

Ayat ini sering dijadikan rujukan bahwa penurunan daya ingat pada usia lanjut adalah bagian dari proses kehidupan manusia.

Jadi, apakah Alzheimer adalah azab?
Tidak bisa disimpulkan demikian. Dalam Islam, penyakit tidak selalu berarti hukuman. Nabi  sendiri mengajarkan bahwa sakit bisa menjadi ujian, penghapus dosa, bahkan pengangkat derajat seseorang.

Ironisnya, masyarakat kita sering lebih cepat menuduh azab ketimbang menunjukkan kasih sayang. Begitu ada orang tua lupa arah pulang, sebagian malah sibuk mencari dukun sebelum membawa ke dokter. Seolah setiap penyakit harus selalu dikaitkan dengan jin, santet, atau “ruhulkhmar.”

Padahal Islam juga mengajarkan ikhtiar ilmiah. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa setiap penyakit memiliki obat, kecuali kematian. Artinya, mencari penjelasan medis bukan bentuk kurang iman. Justru kadang yang kurang iman adalah mereka yang lebih percaya bisikan paranormal YouTube daripada ilmu kedokteran.

Lalu bagaimana dengan faktor genetik Dalam medis modern, faktor gen atau keturunan memang dapat meningkatkan risiko Alzheimer, terutama jika ada riwayat keluarga. Namun gen bukan vonis mutlak. Pola hidup sehat, aktivitas otak, hubungan sosial, olahraga, dan nutrisi tetap sangat berpengaruh.

Maka penyakit ini bukan semata soal mistik, bukan pula otomatis azab. Ia adalah perpaduan rapuh antara tubuh, usia, dan kehidupan manusia sendiri. Dan mungkin itulah yang gagal digali lebih dalam oleh film ini.

Di sinema Indonesia, mengangkat kisah penderita alzheimer ke layar film bukanlah kali pertama. Sebab hal yang sama pernah juga diangkat dalam film ‘Pelangi Tanpa Warna’ yanhg diperani Maudy Koesnaedi dan Rano Karno. Sebuah film yang berkisah tentang bagaimana sebuah keluarga bertahan dari alzheimer.

Film ‘Yang Lain Boleh Pergi Asal Kau Jangan’ ini sebenarnya memiliki peluang menjadi tamparan keras tentang bagaimana manusia modern memperlakukan orang tua mereka. Namun film ini terlalu berhati-hati. Ia memilih menjadi sendu, padahal seharusnya bisa menjadi luka.

Meski begitu, ada satu hal yang berhasil ditinggalkan film ini: ketakutan. Ketakutan bahwa suatu hari nanti kita masih bisa memeluk ibu kita…tetapi ibu kita sudah tidak lagi ingat siapa yang sedang memeluknya. (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.