Travel Umrah Melawan, Jangan Cekik Jamaah Demi Laba”
INVENTIF – Di negeri yang gemar menjual doa dalam paket cicilan, langit bandara kini terasa seperti pasar lelang yang lupa malu.
Harga tiket umrah melonjak bukan lagi seperti burung terbang, melainkan seperti jin ifrit yang kabur membawa akal sehat.
Di ruang-ruang rapat travel umrah, kopi pahit tak lagi cukup untuk menelan angka-angka yang makin menggila. Sebab yang kini diperdagangkan bukan sekadar kursi pesawat, tetapi kecemasan umat yang ingin mencium tanah suci sebelum uban mereka benar-benar habis dimakan usia.
Tak pelak, Jakarta mendadak gaduh oleh suara para pelaku usaha travel yang mulai muak diperlakukan seperti ayam petelur oleh maskapai penerbangan. Mereka menilai sebagian maskapai telah berubah menjadi mesin hitung tanpa nurani—mengerek harga tiket seenaknya, lalu berdalih pada “mekanisme pasar” seolah Tuhan menitipkan wahyu ekonomi langsung ke ruang direksi.
Padahal selama bertahun-tahun, jamaah umrah adalah penumpang paling setia. Mereka memenuhi kabin di musim sepi, menyelamatkan okupansi penerbangan internasional, bahkan menjadi denyut utama jalur menuju Tanah Suci. Namun begitu permintaan meningkat, harga tiket justru melonjak seperti setan yang menemukan ladang baru.
Travel umrah kini tidak lagi bicara dengan nada diplomatis. Mereka mulai menghunus ancaman boikot.
“Jangan jadikan jamaah umrah sebagai ladang kerakusan. Travel bukan sapi perah. Kalau harga terus dimainkan seenaknya, biar pesawat terbang membawa keserakahan saja tanpa penumpang!” ujar Firman Guswan, dari Nasuha Travel, salah satu pelaku usaha umrah resmi dalam rilisnya yang diterima redaksi.
Dan publik tentu belum lupa: dunia penerbangan umrah Indonesia memang sejak lama seperti drama berseri tanpa tamat. Ada jamaah yang pernah telantar berhari-hari di bandara karena jadwal berubah mendadak seperti cuaca hati pejabat. Ada koper hilang yang lebih sulit ditemukan daripada keadilan. Ada pula maskapai yang gemar menjual janji “direct flight”, tetapi ujung-ujungnya transit berkali-kali sampai jamaah merasa sedang ikut napak tilas hijrah, bukan ibadah nyaman.
Belum lagi kisah jamaah lanjut usia yang tidur di lantai bandara akibat penundaan tanpa kepastian. Pengumuman delay dibacakan datar seperti pembacaan puisi gagal, sementara para jamaah duduk memeluk tas kecil dan botol minyak kayu putih, menunggu nasib dipanggil lewat pengeras suara yang seraknya lebih jujur daripada pelayanan.
Ironisnya, setiap musim umrah tiba, yang naik bukan cuma harga tiket—tetapi juga daftar alasan. Harga avtur naik. Kurs dolar naik. Pajak naik. Biaya operasional naik. Semuanya naik, kecuali rasa malu.
Travel umrah kini berada di posisi paling tragis: di depan jamaah mereka dianggap penanggung jawab, di depan maskapai mereka diperas seperti sumur tua. Banyak travel akhirnya nombok demi menjaga harga paket agar jamaah tak kabur. Sebagian bahkan diam-diam megap-megap menutupi kerugian sambil tetap tersenyum di brosur.
Para pelaku industri memperingatkan, jika praktik semacam ini terus dibiarkan, maka konsolidasi nasional bisa terjadi sewaktu-waktu. Pengalihan massal seat, penghentian kerja sama, hingga boikot maskapai disebut mulai dibahas serius.
Sebab mereka sadar: industri umrah dibangun dengan kepercayaan umat, bukan dengan kerakusan korporasi yang menjadikan ibadah seperti tabel keuntungan kuartalan.
“Jangan hanya saat kursi kosong travel dicari-cari, tapi saat travel butuh harga wajar justru dicekik. Ini kemitraan atau penjagalan?” kata Habib Barakwan, seorang pelaku usaha tanpa menyebut maskapai yang dimaksut.
Pemerintah pun diminta berhenti menjadi penonton yang sibuk merapikan dasi sambil pura-pura tidak melihat kekacauan. Sebab jika keadaan terus dibiarkan, umrah perlahan akan berubah menjadi ibadah yang hanya ramah bagi rekening tebal. Tanah Suci akan terasa makin jauh, bukan karena jarak geografis, tetapi karena ongkos menuju ke sana kini dipagari angka-angka yang menakutkan.
Dan di tengah semua itu, jamaah tetap berangkat dengan doa paling sederhana: semoga pesawatnya tidak delay, kopernya tidak hilang, dan harga tiketnya tidak berubah lebih cepat daripada niat maskapai mencari untung. (Ncank)