Dewi Siluman Ular: Ketika Pesugihan Kehabisan Teror, Akting Justru Ikut Terseret

0

Dijual dengan janji horor berbeda, film produksi Starvision ini ternyata belum mampu menawarkan sesuatu yang istimewa. Anya Geraldine menjadi salah satu penyelamat, sementara tiga komedian justru lebih berhasil menghidupkan suasana.

INVENTIF – Dunia perfilman horor Indonesia sepertinya belum kehabisan cerita tentang pesugihan, pernikahan gaib, dan makhluk dari alam lain. Kali ini, Starvision mencoba menawarkan racikan berbeda melalui film terbarunya, Dewi Siluman Ular, garapan sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Film yang diproduseri Chand Parwez Servia ini menggelar press screening dan press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Sejumlah pemain dan pembuat film hadir, di antaranya Chand Parwez Servia, Azhar Kinoi Lubis, Upi, Ayu Anggraini Putri, Prasodjo Muhammad, Derby Romero, Anya Geraldine, Aulia Sarah, Aghniny Haque, hingga aktor senior, Arswendy Bening Swara.

Film berdurasi 94 menit ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Ceritanya diangkat dari kisah viral podcast Nikah Sama Jin yang dipandu Prasodjo Muhammad dengan Sherly Indria sebagai narasumber.

Berkoar Horor Berbeda, Sajiannya Biasa Saja!

Dalam sesi konferensi pers, Chand Parwez menyampaikan bahwa film ini memiliki sesuatu yang berbeda dibandingkan film horor lainnya.

Sayangnya, setelah menyaksikan filmnya, klaim tersebut terasa terlalu tinggi untuk sebuah sajian yang justru berjalan di jalur horor Indonesia yang sudah sangat akrab.
Apa yang berbeda? Omonh kosong belaka!

Kisah pesugihan – yang sudah puluhan bahkan mungkin ratusan kali diangkat- , perjanjian dengan makhluk gaib, kekayaan instan, pengkhianatan, hingga teror sebagai konsekuensi dari kesepakatan mistis bukanlah sesuatu yang baru dalam khazanah film horor Indonesia.

Film ini berkisah tentang Dedi (Derby Romero), pemilik toko roti yang terlilit utang dan menghadapi kesulitan ekonomi. Situasi semakin pelik ketika istrinya, Rahma (Aulia Sarah), membutuhkan biaya operasi caesar.

Dalam keputusasaan, Dedi meminta bantuan Mbah Adul (Arswendy Bening Swara). Jalan keluar yang ditawarkan ternyata bukan pinjaman bank atau bantuan keluarga, melainkan pesugihan melalui pernikahan dengan Dewi (Anya Geraldine), sosok siluman ular.

Perjanjian itu membawa kekayaan, tetapi juga menyimpan konsekuensi mengerikan. Ketika Dedi melanggar kesepakatan, teror mulai menghantui dirinya dan orang-orang terdekatnya.

Secara gagasan, sebenarnya ada potensi menarik untuk mengembangkan cerita ini. Persoalan ekonomi, keputusasaan seorang kepala keluarga, dan godaan memperoleh kekayaan melalui jalan pintas bisa menjadi pintu masuk menuju horor psikologis yang lebih dalam.

Sayangnya, potensi tersebut terasa belum digarap maksimal.

Alur cerita cenderung berjalan biasa-biasa saja. Tidak banyak kejutan yang benar-benar membuat penonton terperangah. Bahkan, latar belakang cerita yang diangkat dari pengalaman viral sebuah podcast belum otomatis menjadikannya sebuah karya sinema yang memiliki kebaruan.

Cerita viral boleh saja menjadi bahan bakar promosi. Namun, ketika sudah masuk layar lebar, ia membutuhkan pengembangan dramatik, kedalaman karakter, dan kejutan sinematik yang lebih kuat.

Azhar Kinoi Lubis Kok Kehilangan Detail
Nama Azhar Kinoi Lubis tentu bukan nama asing dalam genre horor Indonesia. Sutradara ini sebelumnya menggarap sejumlah film, antara lain Pengantin Iblis, Petaka Gunung Gede, Labinak, dan Mama: Pesan dari Neraka.

Karena rekam jejak tersebut, ekspektasi terhadap Dewi Siluman Ular sebenarnya cukup tinggi. Namun, kali ini hasilnya terasa kurang memuaskan.

Dibandingkan beberapa karya horor Azhar sebelumnya, Dewi Siluman Ular terasa kehilangan ketelitian dalam membangun suasana, detail penceritaan, serta kekuatan dramatik.

Horor bukan sekadar menghadirkan sosok menyeramkan, suara mengagetkan, atau penampakan makhluk gaib. Ada atmosfer yang harus dibangun, ketegangan yang mesti dipelihara, dan karakter yang perlu memiliki kedalaman emosional.

Sayangnya, sejumlah elemen tersebut belum menyatu menjadi pengalaman menonton yang benar-benar menggigit.

Pesan moral tentang bahaya keserakahan dan godaan kekayaan instan pun terasa seperti pelengkap formalitas. Pesan itu hadir, tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam.

Seolah-olah film hanya ingin menyampaikan bahwa pesugihan itu berbahaya, tanpa memberikan perspektif yang lebih tajam tentang mengapa manusia bisa begitu mudah tergoda oleh jalan pintas.

Anya Geraldine Layak Diacungi Jempol

Di tengah sejumlah kekurangan, penampilan Anya Geraldine patut mendapatkan acungan jempol.
Sebagai Dewi Siluman Ular, Anya mampu memberikan daya tarik tersendiri. Kehadirannya menjadi salah satu elemen yang membuat film ini tetap memiliki sesuatu untuk dinikmati.

Sayangnya, performa tersebut tidak sepenuhnya diimbangi oleh pemain lainnya.
Derby Romero dan sejumlah pemain lain terasa belum menemukan irama akting yang tepat. Beberapa adegan emosional yang seharusnya menjadi fondasi ketegangan justru terasa kurang meyakinkan. Bahkan, ada bagian ketika permainan akting terasa seperti kehilangan arah.

Justru tiga komedian dalam film ini menjadi penyegar yang cukup efektif. Kehadiran mereka memberikan jeda di tengah rangkaian adegan yang terasa monoton. Humor yang disisipkan setidaknya membuat penonton tidak terus-menerus berhadapan dengan ketegangan yang kurang berhasil dibangun.

Ironisnya, ketika film horor membutuhkan teror untuk membuat penonton tegang, justru unsur komedi yang sesekali berhasil membuat suasana lebih hidup.

Horor yang Belum Menemukan Taringnya

Pada akhirnya, Dewi Siluman Ular bukanlah film yang sepenuhnya gagal. Film ini masih bisa dinikmati sebagai hiburan bioskop, meskipun tidak menawarkan pengalaman horor yang istimewa.

Namun, bagi penonton yang berharap menemukan sesuatu yang baru dari kolaborasi Chand Parwez Servia dan Azhar Kinoi Lubis, mungkin perlu menurunkan ekspektasi.

Pernyataan bahwa film ini berbeda dari horor lainnya terasa lebih sebagai janji promosi ketimbang sesuatu yang benar-benar terwujud di layar.

Ada Anya Geraldine yang cukup memikat, ada tiga komedian yang menyegarkan suasana, dan ada cerita pesugihan yang sebenarnya punya potensi. Sayangnya, semua itu belum diramu menjadi sebuah film horor yang solid.

Kalau harus memilih, menonton Dewi Siluman Ular masih terasa lumayan ketimbang menghabiskan waktu menyaksikan drama-drama vertikal yang belakangan membanjiri layar ponsel.

Setidaknya, film ini hadir di layar lebar dengan durasi yang jelas dan pengalaman sinematik yang lebih utuh. Tetapi untuk urusan horor, rasanya Dewi belum cukup berbisa.

Sebab, siluman ular boleh saja kehilangan taringnya dalam cerita. Namun, film horor seharusnya jangan sampai kehilangan daya gigitnya di hadapan penonton.

Leave A Reply

Your email address will not be published.